Sistem Peradilan Islam: Pembebasan Manusia dari Peradilan Zalim - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, December 31, 2019

Sistem Peradilan Islam: Pembebasan Manusia dari Peradilan Zalim


M. Nur Rakhmad, SH (Direktur Advokasi LBH Pelita Umat Korwil Jatim)

Islam adalah agama pembebas dari perbudakan dan sifat jahiliyah/kebodohan menuju cahaya. Ini tercermin dalam komunikasi sahabat Rib'i bin Amir dengan panglima Rustum yang merupakan negara adidaya pada saat itu. Rustum berbicara dengan Rib’i bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Rustum bertanya, “Apa yang kamu bawa?” Rib'i menjawab:


اَللهُ ابْتَعَثَنَ واَاللهُ جَاءَ بِنَ لاِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَ عىِبَادَةِ اللهِ و،َمِنْ ضِيْقِ


الدُّنْيَ إاِلَ سىَعَتِهَ وا،َمِنْ جَوْرِ الْأَدْيَانِ إِلَ عىَدْلِ الْإِسْلاَم ِفَأَرْسَلَنَ باِدِيْنِهِ إِلَ خىَلْقِهِ لِنَدْعُوَهُمْ


إِلَيْهِ ف،َمَنْ قَبِلَ مِنَّ ذاَلِكَ قَبِلْنَ ذاَلِكَ مِنْهُ وَرَجَعْنَ عاَنْهُ و،َتَرَكْنَاهُ وَأَرْضَهُ يَلِيْهَ داُوْنَنَ وا،َمَنْ


“Sesungguhnya Allah mengirim kami untuk mengeluarkan hamba dari penyembahan kepada hamba menuju penyembahan kepada Allah, dari kesempitan dunia menuju kelapangannya, dan dari kezaliman berbagai agama kepada keadilan Islam. Dia mengirim kami membawa agamanya untuk kami ajak manusia kepada-Nya. Barang siapa yang menerimanya, maka kami akan kembali; membiarkan dirinya dan negerinya untuk diatur olehnya; bukan oleh kami. Tetapi barang siapa yang menolaknya, maka kami akan memeranginya selama-lamanya sampai kami memperoleh janji Allah.”

Rustum berkata, “Apa janji Allah itu?” Ia menjawab, “Yaitu surga bagi orang yang meninggal dunia dalam memerangi mereka yang menolak itu dan kemenangan bagi yang masih hidup.”

Kedamaian hidup dalam masyarakat tidak mungkin bisa diwujudkan tanpa keadilan. Persoalannya, keadilan seperti apa? Selama ini, pengertian keadilan ditetapkan menurut standar yang tidak jelas. Keadilan menurut sudut pandang tertentu tentu akan berbeda dengan pengertian keadilan menurut sudut pandang yang lain. Sebagai contoh, orang yang menghina Nabi Muhammad menurut ketentuan syariah Islam harus dihukum mati, apakah ini adil? Ataukah justru sebaliknya, orang seperti ini harus dilindungi dengan alasan kebebasan berekspresi?

Dalam sistem sekuler, pengertian dan standar keadilan ditentukan menurut akal manusia melalui anggota parlemen. Mereka menetapkan ketentuan-ketentuan hukum menyangkut apa yang dimaksud dengan kejahatan dan apa pula sanksi bagi pelakunya. Menurut aturan Hukum di negeri kita tercinta Indonesia ini. Misalnya, menyerukan jihad guna melawan pendudukan dan intervensi AS di berbagai belahan bumi Islam seperti di Irak dan Afghanistan, secara teoretis dapat dianggap kejahatan "menunjukkan permusuhan kepada negara sahabat", meski pada hakikatnya seruan jihad itu adalah sebuah kewajiban agama.

Sistem peradilan sekuler juga memberikan hak prerogratif kepada presiden untuk memberikan pengampunan (grasi, amnesti, dan abolisi) kepada seorang penjahat.

Sistem peradilan sekuler membuka pintu kedzaliman. Dalam sistem peradilan warisan penjajah Belanda ini, kedzaliman sudah terjadi sejak saat sebuah kasus dilaporkan kepada kepolisian. Banyak orang yang dengan penuh kedengkian menyampaikan tuduhan palsu kepada pihak lain dengan tujuan agar lawannya dijebloskan ke penjara.

Saat ini, patut diduga ada ribuan orang tak bersalah di Indonesia yang didzalimi, ditangkap, dan dijebloskan ke penjara semata-mata karena alasan kecurigaan.

Sementara dalam konsep peradilan Islam, seorang harus tetap dianggap tak bersalah sampai bisa dibuktikan kesalahannya, sehingga tidak ada alasan untuk memasukkannya ke penjara. Selanjutnya, menjadi tugas penuntut untuk membuktikan kesalahan pihak tersangka. Jika gagal, kasus tersebut akan segera dibatalkan, kecuali apabila hakim berdasar bukti yang ada memiliki kecurigaan, bahwa tersangka akan melarikan diri.

Tanpa bukti yang cukup, hakim tidak bisa menahan tersangka lebih lama. Tersangka harus segera dibebaskan. Demikianlah, peradilan Islam akan membebaskan rakyat dari kedzaliman sistem peradilan sekuler kapitalistik yang berlaku saat ini.

Dalam perspektif Islam, syariah Islam menjadi standar yang digunakan untuk menentukan apa yang dimaksud dengan kejahatan sekaligus menetapkan aturan sanksinya. Dengan pijakan yang khas inilah, para hakim (qadhi) memberikan putusan hukum yang adil kepada seluruh anggota masyarakat.

Dalam Islam tidak ada pemisahan antara peradilan sipil dengan peradilan syariah, karena semua putusan hukum diberikan dengan menggunakan dasar syariah Islam.

Maka jelas sekali, tidak mungkin terwujud keadilan di tengah masyarakat hingga seluruh undang-undang yang terkait dengan peradilan, definisi kejahatan, hukum pembuktian, jenis sanksi, hak pengampunan dan lain-lainnya, semuanya didasarkan pada syariah Islam. Dan hanya Islam saja yang bisa memberikan jaminan bahwa seluruh hukum dan perundang-undangan yang terkait dengan sistem peradilan diambil dari al-Quran dan as-Sunnah. Hanya dengan cara inilah keadilan di tengah masyarakat bisa diwujudkan.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here