Sungguh Berat Hidup di Negara Kekuasaan - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, December 20, 2019

Sungguh Berat Hidup di Negara Kekuasaan


Oleh: Mochamad Efendi

Sungguh berat hidup di negara kekuasaan. Hukum tidak punyai power. Ilmu tidak dihargai. Kekuasaan yang menentukan benar dan salahnya seseorang. Hukumpun dilanggar  jika berhadapan dengan kepentingan penguasa. Susah bagi rakyat kecil yang selalu dikalahkan dengan keinginan penguasa yang memaksakan kehendaknya. Rakyat bersuara untuk menyampaikan aspirasinya tapi tidak didengar, seolah hanya menembus ruang hampa. Rakyat sengsara dengan kebijakan yang tidak mempertimbangkan kepentingan rakyat. Kepentingan penguasa dan pengusaha yang menopang kekuasaan diatas segalanya meskipun harus mengorbankan rakyatnya

Di negara kekuasaan, sejumput kekuasaan lebih berharga daripada segudang ilmu pengetahuan. Hukum hanya menjadi alat penguasa untuk menggebuk lawan politiknya. Keadilan hanyalah impian bagi rakyat jika berhadapan dengan penguasa. Seorang prof Doktor yang berilmu tinggi yang paham akan hukum bisa dikalahkan di dalam negara kekuasaan apalagi rakyat awam yang tidak paham akan hukum. Sungguh tidak adil karena hukum tidak lagi mampu membela yang benar tapi hanya membenarkan penguasa atas semua tindakannya yang mendzalimi rakyatnya.

Di dalam negara kekuasaan, mereka yang merasa punya kekuasaan bebas berbicara apa saja tanpa dasar ilmu. Bahkan penghinaan terhadap rasullulah semakin marak karena negara acuh terhadap penistaan agama. Meskipun rakyat sakit hati dan turun ke jalan, menuntut para penista untuk diadili, hukum tidak bisa berbuat apa-apa saat penguasa melindungi mereka. Mereka semakin jumawa dengan kata-kata mereka yang menyebarkan kebencian dari mulut-mulut mereka yang hanya menghasilkan kedustaan. Tidak ada kata jera bagi mereka sehingga mereka berani mengulanginya yang kedua kalinya. Orang-orang yang berada dilingkaran kekuasaan kebal hukum. Bebas mengeluarkan kebencian dari mulut-mulut mereka.

Di dalam negara kekuasaan penguasa yang harusnya menjadi pelindung rakyatnya, memusuhi rakyatnya yang berani menyampaikan kebenaran, tapi bersebrangan dengan kepentingan penguasa. Sementara yang salah dibela asalkan mau menjadi kroni-kroni penguasa. Mereka yang mau mendukung penguasa mati-matian meskipun tahu bahwa yang dibela salah. Rakyat tidak tahu harus kemana mencari keadilan. Hukum menjadi alat penguasa yang tajam ke lawannya. Rakyat turun ke jalan dituding radikal. Sementara jalur hukum untuk mencari keadilan sudah tertutup oleh penguasa yang dzalim.

Rakyat mulai jengah dan merindukan khilafah, sistem pemerintahan ideal yang bisa menjamin keadilan bagi seluruh rakyatnya. Hukum membela yang benar untuk semua orang tidak terkecuali. Bahkan seorang khalifahpun bisa dikalahkan didepan pengadilan jika salah dan tidak bisa menunjukkan bukti-bukti hukum yang meyakinkan. Sudah terbukti dalam fakta sejarah keadilan hukum sangat dijunjung tinggi dalam sistem khilafah. Wajar jika rakyat menginginkan kehidupan Islami yang sesuai dengan keyakinan mereka. Hanya sistem khilafah yang mampu mewujudkan impian rakyat yang tidak bisa terwujud dalam negara kekuasaan demokrasi.

Kesedaran umat mulai menguat dan menginginkan khilafah tegak. Penguasa mulai merasa gerah dan takut kehilangan kekuasaannya. Stigma negatif tentang khilafahpun ditebar agar rakyat takut dengan ide khilafah. Namun, semakin represif penguasa memusuhi khilafah dan para pengusungnya, kesadaran umat semakin menguat sampai siapapun dengan cara apapun tidak akan mampu menghalangi tegaknya khilafah.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here