TETAPLAH TERSENYUM PROFESOR SUTEKI! - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, December 16, 2019

TETAPLAH TERSENYUM PROFESOR SUTEKI!


Oleh : Muhammad Ikhsan

Seseorang lelaki yang berpostur gagah, menjadi Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, juga seorang pakar Sosiologi Hukum dan Filsafat Pancasila.
Prof. Suteki dikenal sebagai Dosen yang berprestasi. Dia juga pernah mendapat predikat sebagai Dosen terbaik Universitas Diponegoro pada tahun 2006, 2008 dan 2009.
Dua puluh empat tahun waktu  yang diluangkan beliau sebagai dosen pengajar mata kuliah pancasila bukanlah waktu yang sebentar.
Lah Bagaimana mungkin beliau mengajar mata kuliah pancasila berpuluh tahun dan sudah meluluskan ribuan mahasiswa di mata kuliah pancasila bisa dikatakan anti pancasila??

Dikatakan sebagai Dosen yang anti pancasila, tuduhan atau fitnahan ini harus Profesor "Senyumi". Senyuman pertama tunjukkan kepada mereka bahwasannya Profesor sedang merasa senang kepada para penuduh yang menyebut orang lain dengan sebutan anti pancasila, karena fakta yang ada selama 24 tahun dilapangan tidak berhasil membuktikan tuduhan mereka tersebut.

Yang kedua, November 2018, Prof. Suteki diberhentikan dari jabatan Ketua Prodi Magister Ilmu Hukum dan Ketua Senat Fakultas Hukum yang tidak sesuai dengan mekanisme, hanya karena beliau menjadi saksi ahli dalam persidangan gugatan HTI di PTUN Jakarta dan Judicial Review di Mahkamah Konstitusi pada Oktober 2017.
Prof. Suteki harus kembali tersenyum lagi bahagia, wong memang Ormas HTI dengan dakwah khilafahnya berdasarkan Al Quran dan Hadis. Khilafah itu sistem pemerintahan Islam.  Kemudian turun lagi ijtihad ulama dan sebagainya. Jadi Khilafah itu suatu ajaran bagian dari Islam, bukan paham juga bukan ideologi. Bagaimana bisa dibandingkan dan dibentur benturkan dengan pancasila?
Lalu hanya karena menjadi saksi ahli di persidangan, dengan mengatakan fakta dan kebenaran dicopot dari jabatan?
Tersenyumlah Prof, anda sedang dalam "Track" yang benar, anda sudah membela Islam, agama yang paling detail mengatur tentang sistem pemerintahan.

Senyuman ke 3 nih Prof,
Senyuman yang menunjukkan anda tetap semangat!
Kita semua telah mengetahui kemarin hakim menolak seluruh eksepsi atau keberatan dalam kasus gugatan yang dilayangkan Profesor.
Hakim juga menolak sejumlah barang bukti yang diajukan oleh Kuasa Hukum Profesor.
Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang telah mengetok palu dan memutuskan untuk menolak gugatan Prof. Suteki terhadap Rektor Undip.
Karena banyak cacat hukumnya dan memang Prof. Suteki mempunyai hak banding serta tinggal di Indonesia yang notabene adalah negara hukum, penulis mendukung Prof. Suteki untuk melakukan banding. Penulis yakin dengan seluruh kemampuan hukum, Profesor akan berjuang dengan seluruh kemampuan melalui jalur hukum yang berlaku.

Meski sejatinya senyum itu adalah gerak tawa ekspresif yang tidak menimbulkan suara untuk menunjukkan rasa senang, gembira, suka, dan sebagainya dengan cara mengembangkan bibir sedikit.
Penulis akhirnya ikut "Tersenyum" kecut dengan kondisi penegakkan hukum di Indonesia yang terkesan "Tajam Ke Bawah tetapi Tumpul Ke atas. Istilah ini mungkin sudah lumrah di masyarakat Indonesia saat ini, bahwa hukum di Indonesia timpang sebelah atau dalam tanda kutip diskriminatif.
Di mana ketika seseorang "dekat" dengan rezim akan mempunyai keistimewaan dalam hukum, dan ketika seseorang dicap tidak pro rezim maka ketidakadilanlah yang akan dia dapatkan.

Apakah kita semua merasakannya?
Apakah kita bisa melihat kenyataannya?
Penulis yakin pasti seluruh masyarakat Indonesia juga melihat dan merasakan kenyataannya.
Padahal jelas disebutkan dalam UUD pasal 28 D ayat satu berbunyi :

"Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum"

Dimanapun juga, rakyat menginginkan Negara memiliki penegak- penegak hukum dan hukum yang adil dan tegas dan bukan tebang pilih. Seharusnya tidak ada sebuah diskriminasi dan pengistimewaan khusus dalam menangani setiap kasus hukum.

Tetapi kenyataannya kondisi Hukum di Indonesia saat ini lebih sering menuai kritik daripada pujian. Berbagai kritik diarahkan baik yang berkaitan dengan penegakkan hukum, kualitas penegak hukum, ketidakjelasan berbagai hukum yang berkaitan dengan proses berlangsungya hukum dan juga lemahnya penerapan berbagai peraturan.

Itulah makna perjuangan sesungguhnya, dimana kita harus tetap melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan yang berlaku di negara ini, kita juga harus tetap menyuarakan kebenaran di manapun kita berada meskipun suara suara sumbang berseliweran di sekitar kita.
Tetap semangat Prof!
Tetap tersenyum!

TABIK!

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here