Wajah "Sekulerisasi" dalam Germerlap Tahun Baru Masehi. - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, December 30, 2019

Wajah "Sekulerisasi" dalam Germerlap Tahun Baru Masehi.


Oleh : Ghea RDyanda

Pergantian tahun baru masehi selalu digambarkan dengan sebuah kebahagiaan untuk mencapai cita-cita terbaru. Membuka lembaran baru kehidupan dan mengevaluasi kehidupan di tahun sebelumnya. Terkhusus bagi masyarakat yang hidup di dunia barat.

Hal ini, kemudian dijajakan dan diekspor ke negeri-negeri kaum muslimin. Pemuda-pemudinya menjadi target "jajanan" ini. Utamanya pada mereka yang terkekang oleh sistem.

Tak bisa dipungkiri, hari-hari ini lumrah kita melihat fasilitas-fasiltas penyambutan tahun baru yang begitu wah. Fasilitas yang di back up oleh penguasa, dari pengamanan hingga hal yang kecil sekalipun.

Ketika kita lebih mendetailkan penginderaan terhadap momentum tahun baru yang sebelum-sebelumnya.

Ada satu sisi yang mencakup cakupan yang mengglobal. Sebuah sisi politis dibalik gemerlapnya perayaan tahun itu, pertama tentang agenda utama (khittah) deislamisasi yang terselubung. Dari segi fiqih, tasyabbuh bil kuffar telah jelas keharamannya. Namun, kejelasan ini hanya berlaku untuk mereka (pemuda-pemudi Islam) yang sadar saja. Sadar dalam artian, ridho mengikatkan diri pada Islam dan ajarannya.

Adapun mereka yang belum tersadar, merekalah yang menjadi target. Disamping ada pula target untuk membentuk opini umum bahwa perayaan tahun baru adalah hal yang patut untuk dirayakan, bahkan dilegitimasi oleh penguasa dengan memberikan fasilitas penunjangnya.

Kedua, adanya upaya membentuk opini umum (ro'yul 'am) tentang apa yang biasa bahkan harus dilakukan ketika tahun baru. Dunia barat mengkampanyekan momentum tahun baru mereka begitu luar biasa gempitanya, menjadikan ajang yang di dalamnya mengandung pelanggaran hukum syara' sebagai hal yang harus dilakukan.

Perjudian, pesta khamr, perzinahan massal, narkoba, dan hal lain yang serupa tumpah ruaha di dalamnya. Dan hal ini yang dikondisikan oleh barat untuk mempengaruhi Ummat secara luas.
Pencegahan-pencegahan pun hanya asal saja, hanya "memuaskan" pihak yang kontra saja.

Ketiga, Blow up media pasca perayaan tahun baru. Sisi politis yang selanjutnya, yang termasuk salah satu yang utama adalah blow up media pasca perayaan tahun baru.

Hingar bingar, pelanggaran hukum syara', dan imbas dari kejadian tersebut menjadi unsur yang di blow up media. Perzinahan, meminum khamr, sampah bekas maksiat, bahkan bentrok antar pemuda yang mabuk atau yang sejenis, serta seabrek yang lainnya turut mewarnai media.

Blow up media ini, digunakan terus menerus setiap pergantian tahun. Selain dimaksudkan untuk menggeser tolak ukur (maqayyis) Ummat dari yang shahih (Islam) kepada yang bathil.

Disamping juga untuk membuat jengah Shiddiqin, para pecinta kebenaran, yang setiap tahunnya juga mengkampanyekan keharaman perayaan tahun baru. Agar rasa lelah dan bosan menghinggapi dan tak mampu bersabar atasnya.

Penyikapan atas perayaan tahun baru

Islam telah menggariskan tentang bagaimana penyikapan terhadap segala sesuatu. Adapun Penyikapan terhadap perayaan tahun baru ini adalah sebagai berikut :

Pertama, Islam telah melarang secara tegas mengikuti segala hal yang bertentangan dengan hukum syara'. Telah jelas pertentangan antara perayaan tahun baru dengan Islam dan apa-apa yang telah digariskannya.

Berdasar hal ini, maka secara tegas juga sikap terhadap perayaan tahun baru ini adalah menentangnya. Cara yang dipakai pun juga tak boleh terlepas dari Islam. Menjelaskan kebathilan yang terkandung di dalamnya, sikap Islam terhadapnya, dan qana'ah atau ridho atas apa yang digariskan oleh Islam.

Tak ada kompromi jika menyangkut perkara antara yang haq dan yang bathil. Karena telah jelas mana yang haq dan bathil. Juga tak boleh bermanis muka, apalagi sampai menjilat dengan membolehkan perayaan ini dengan sedikit kompensasi dunia.

Kedua, Islam telah menggariskan tentang bagaimana cara berpikir, bagaimana menyelesaikan sebuah masalah termasuk tentang bagaimana menemukan dimana letak permasalahan. Karena Sebuah masalah akan dianggap sebagai masalah jika sadar bahwa sesuatu itu adalah masalah. Yakni Berpikir secara menyeluruh dan mendasar.

Dalam ranah perayaan tahun baru ini juga permasalahan lainnya, akar permasalahannya adalah sistem yang melingkupi kehidupan kaum muslimin. Sistem yang dibangun dengan dasar pemisahan agama dari kehidupan.

Sebuah sistem yang di dalamnya sengaja dan nyata menyelisihi hukum syara'. Inilah akar permasalahannya. Adalah satu keharusan, menyelesaikan menyelesaikan masalah dengan prespektif islam.

Termasuk di dalamnya mendudukan masalah tahun baru ini. Yang notabene penuh tipu daya yang melalaikan hingga membawa pelakunya ke jurang kemaksiatan.

 Maka gemerlap kemaksiatan bertopeng wajah tahun baru akan senantiasa menjadi eksis jIka bukan sistem islam yang mengkomando.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here