BERSABAR MENUNDUKKAN HAWA NAFSU - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, January 2, 2020

BERSABAR MENUNDUKKAN HAWA NAFSU


Febry Suprapto (Oase Forum)

Seorang muslim haruslah mengedepankan keinginan Din-nya dibandingkan keinginannnya. Begitu pula, syariah Nabi Muhammad Saw. lebih dia dahulukan daripada al-Hawa yang ada padanya.

Jika keinginannya bertabrakan dengan apa yang Nabi saw. bawa,  maka ia mengalahkan keinginannya dan memenangkan apa yang Nabi saw. bawa.  Sebab, al-hawâ menjadi tabi' (yang mengikuti), sementara apa yang Rasul saw. bawa, yaitu Islam dan syariahnya, adalah yang diikuti (al-matbu'). Semua kemaksiatan muncul karena hawa nafsu lebih didahulukan daripada kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul saw.

Sabar melawan hawa nafsu lebih sulit daripada sabar menghadapi pertempuran dan lebih besar pahalanya. Pemberani yang maju ke medan pertempuran, ia sedang mengunyah nikmatnya kemenangan dengan gerahamnya. Sehingga apabila telah ada pertempuran sengit, maka jiwanya bersemangat dan bergelora. Sementara orang mukmin yang berperang melawan hawa nafsu, ia sedang menelan pahitnya larangan (meninggalkan perkara-perkara haram). Sehingga apabila ia bersikukuh pada kesabaran, maka jiwanya berpaling dan menangis.

Pemberani yang berperang melawan musuh-musuhnya bisa jadi karena riya' (hipokrit), sum'ah (gila hormat), fanatisme dan berharap ridha Allah. Namun, orang mukmin tidak berperang melawan hawa nafsunya, kecuali karena ketaatan dan semata-mata berharap ridha Allah. (Mushtafa as-Siba'i, dalam kitabnya "Hakadza Allamatni al-Hayah, Begitulah Kehidupan Mengajariku")

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa  (HR al-Hakim, al-Khathib, Ibn Abi ‘Ashim dan al-Hasan bin Sufyan).

Imam an-Nawawi dalam Al-Arba'un mengatakan, "Hadis ini hasan shahih.  Kami telah meriwayatkan hadis ini dalam kitab Al-Hujjah dengan sanad sahih."

Ibn Rajab menjelaskan, yang dimaksudkan adalah kitab, Al-Hujjah 'ala Tarik al-Mahajjah, oleh Syaikh Abu al-Fatah Nashr bin Ibrahim al-Maqdisi asy-Syafi'i al-Faqih az-Zahid.  Hadis ini juga dikeluarkan oleh Al-Hafizh Ibn Abi 'Ashim al-Ashbahani dalam As-Sunnah li Ibn Abi 'Ashim; al-Hasan bin Sufyan Abu al-'Abbas an-Nasawi (w. 303 H) dalam kitabnya, Al-Arba'un li an-Nasawi; Ibn Baththah dalam Al-Ibânah al-Kubra; al-Khathib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad; al-Baihaqi dalam Al-Madkhal; dan al-Baghawi dalam Syarh as-Sunnah.

Al-Hafizh Ibn Hajar al-'Ashqalani dalam Fath al-Barî mengatakan tentang hadis ini:

Al-Baihaqi telah mengeluarkan di dalam Al-Madkhal dan Ibn 'Abd al-Barr dalam Bayân al-'Ilmi dari jamaah tabi'in seperti al-Hasan, Ibn Sirin, Syuraih, asy-Sya'bi dan an-Nakha'i dengan sanad-sanad baik; tentang celaan terhadap perkataan semata menurut ra'yu (pikiran). Semua itu dihimpun oleh hadis penuturan Abu Hurairah ra., "Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa."

Hadis ini dikeluarkan oleh Al-Hasan bin Sufyan dan lainnya. Para perawinya tsiqah dan an-Nawawi telah mensahihkan hadis ini di akhir Al-Arba'un.

Dalam hadis ini Rasulullah saw. menjelaskan bagaimana seharusnya seseorang memperlakukan al-hawâ supaya imannya sempurna.

Menurut Ibn Manzhur dalam Lisân al-'Arab, hawâ an-nafsi adalah keinginan jiwa. Para ahli bahasa mengatakan, al-hawa adalah kecintaan manusia terhadap sesuatu dan dominannya kecintaan itu atas dirinya.  Abu al-'Abbas al-Fayyumi dalam Mishbah al-Munir menjelaskan, al-hawa adalah jika kamu menyukai sesuatu dan terkait dengannya.  Kemudian kata al-hawa digunakan untuk menyebut kecenderungan jiwa dan penyimpangannya ke arah sesuatu, lalu digunakan untuk menyebut kecenderungan yang tercela.

Di dalam At-Ta'rifat, al-Jurjani menjelaskan bahwa al-hawâ adalah kecenderungan jiwa (mayl an-nafsi) pada syahwat yang menyenangkannya tanpa alasan syariah.  Muhammad Rawas Qal'ahji di dalam Mu'jam Lughah al-Fuqaha' juga menjelaskan, al-hawa adalah kecenderungan jiwa pada apa yang disukai tanpa memperhatikan hukum syariah dalam hal itu.

Jadi, secara bahasa al-hawâ adalah kecenderungan, keinginan atau kecintaan secara mutlak. Namun, dalam penggunaannya, kata al-hawâ itu jika disebutkan secara mutlak maka yang dimaksudkan adalah kecenderungan pada apa yang menyalahi kebenaran.

Sementara itu, makna hadislts "la yu'minu ahadukum" adalah iman yang sempurna, bukan meniadakan iman. Sebab, orang yang hawa nafsunya tidak mengikuti syariah sehingga ia bermaksiat, secara umum kemaksiatan itu tidak menjadikan dirinya kafir.

Dengan demikian hadis ini bermakna: seseorang tidak akan mencapai derajat Mukmin yang paripurna imannya sampai seluruh keinginan, kecenderungan, dan kecintaannya mengikuti apa yang dibawa oleh Rasul saw.; baik perintah, larangan, ataupun yang lainnya.  Dengan itu ia menyukai apa yang diperintahkan dan membenci apa yang dilarang. Semoga kita termasuk hamba-hambanya yang sempurna imannya. Aamiin.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here