Blok Natuna Milik Kita - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, January 8, 2020

Blok Natuna Milik Kita


Hadi Sasongko (Direktur POROS)

Dalam beberapa minggu ini banyak berita yang memuat berkaitan konflik Cina dan Indonesia terhadap persengketaan Natuna. Masing - masing negara saling mengkalim bahwa wilayah tersebut merupakan wilayah tetorialnya. Sehingga persengketaan ini tidak kunjung selesainya.

Dalam benak kita, ada pertanyaan besar. Mengapa Natuna di perebutkan? Ada Apa dengan Natuna? Sehingga dalam hal ini kita sebagai orang yang berfikir, tentu akan melihat fakta yang ada di Natuna. Natuna yang memiliki luas wilayah 264.198,37 km2 dengan luas daratan 2.001,30 km2dan lautan 262.197,07 km2.Ranai sebagai Ibukota Kabupaten Natuna.

Di kabupaten ini terdapat 154 pulau, dengan 27 pulau (17,53 persen) yang berpenghuni dan sebagian besar pulau (127 buah) tidak berpenghuni. Dua pulau terbesar diantaranya adalah Pulau Bunguran dan Pulau Serasan. Pulau-pulau yang ada dapat dikelompokkan dalam 2 gugusan:

Gugusan Pulau Natuna, terdiri dari pulau-pulau di Bunguran, Sedanau, Midai, Pulau Laut, dan Pulau Tiga.

Gugusan Pulau Serasan, terdiri dari pulau-pulau di Serasan, Subi Besar dan Subi Kecil.
(https://natunakab.go.id/kondisi-geografis-kabupaten-natuna/)

Sehingga Natuna adalah wilayah yang strategis karena dari sisi geografis, berada di garis alur laut kepulauan Indonesia (ALKI) I dan merupakan beranda terdepan yang berbatasan laut dengan tujuh negara. Lokasi pulau Natuna Besar terapit oleh negara lain, yaitu Malaysia Barat dan Timur. Walaupun merupakan bagian dari kepulauan Riau, namun Natuna terletak sangat jauh dari Kepualauan Riau itu sendiri

Adapun potensi lain yang dimiliki oleh natuna juga sangat banyak sekali, baik dari flora dan fauna. Kasubbid Konservasi dan Tata Lingkungan, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Natuna, Hazriani menyebutkan, bahwa diantara kekayaan flora tersebut juga memiliki khasiat obat yang cukup baik. "Diperkirakan 285 jenis tumbuhan berkhasiat obat. Sementara untuk fauna ada 101 jenis burung dimana 16 jenis burung migran dari bumi belahan utara," kata Ani, Selasa (22/4).

Data ini dijelaskannya berasal dari hasil identifikasi keanekaragaman hayati yang dilakukan oleh Sub Bidang Konservasi dan Tata Lingkungan BLH, dengan Pusat Penelitian Biologi LIPI tahun 2012 lalu.

"Jika dioptimalkan penelitian satwa ini, maka kita akan bisa membangun sebuah wisata edukasi. Seperti diketahui untuk satwa ada 101 jenis burung, 34 jenis mamalia, 29 jenis katak, 58 jenis reptil, 7 jenis tawon, 56 jenis kupu-kupu, 29 jenis capung dan 34 jenis ikan air tawar," paparnya.

Natuna memiliki luas laut mencapai 99 persen dari total luas wilayahnya. Selain luas, laut Natuna juga memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Potensi sumber daya ikan laut Natuna pada 2011 sebesar 504.212,85 ton per tahun atau sekitar 50 persen dari potensi Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP RI) 711 di Laut Natuna.

Jumlah tangkapan yang diperbolehkan mencapai 403.370 ton. Kemudian pada 2014, pemanfaatan produksi perikanan tangkap Natuna mencapai 233.622 ton atau 46 persen dari total potensi lestari sumber daya ikan. Dari hasil yang didapat tersebut, komoditas perikanan di Natuna terbagi dalam dua kategori, yaitu ikan pelagis dan ikan demersal. Potensi ikan pelagis di Natuna mencapai 327.976 ton per tahun, dengan jumlah tangkapan yang dibolehkan sebesar 262.380,8 ton per tahun atau 80 persen. Pada 2014, tingkat pemanfaatan ikan pelagis hanya mencapai 37,8 persen atau 99.037 ton. Selebihnya sebesar 163.343,8 ton per tahun belum dimanfaatkan. Ikan pelagis merupakan ikan yang hidupnya di permukaan air hingga kolam anatara 0-200 meter. Ikan pelagis memiliki kebiasaan hidup membentuk kelompok dalam melangsungkan hidupnya. Berdasarkan ukurannya, ikan pelagis dibedakan menjadi pelagis kecil dan besar. Contohnya ikan tuna, ikan pedang, marlin, cakalang, tenggiri, dan lainnya. Untuk pelagis kecil adalah selar, teri, kembung, tongkol, dan lainnya. Untuk potensi ikan demersal mencapai 159.700 ton per tahun, sedangkan tingkat pemanfaatannya pada 2014 hanya sebesar 40.491 ton atau 25 persen per tahun. Artinya masih ada sekitar 119.209 ton per tahun ikan demersal yang belum dimanfaatkan di Natuna.
(https://www.kompas.com/skola/read/2020/01/04/190000869/kekayaan-dan-potensi-natuna?page=all.)

Sungguh potensi yang sangat luar biasa yang di miliki oleh Natuna. Tidak mengherankan apabila negera sakura tersebut ingin menguasai wilayah Natuna. Dalam hal ini apabila negeri yang kita cintai hanya berdiam diri, bahkan memberikan akses kepada China untuk merongrong kekayaan yang ada Natuna maka tinggal tunggu waktunya negeri ini akan hancur. Anak cucu dan penduduk di negeri sendiri akan menjadi buruh. Hanya karena dalih bahwa China adalah negara sahabat dan juga karena China juga yang membantu pembangunan infrastruktur yang ada dinegeri ini, para pemimpin yang kita pilih beberapa waktunya justru memberikan wilayah yang sangat potensial ini. Sungguh sangat memilukan.

Apabila hal ini dikelola oleh negara dengan baik dan manfaatnya dikembalikan kepada rakyat, maka sungguh luar biasa. Pendidikan, kesehatan, pemanfaatan fasilitas umum juga menjadi gratis dan masih banyak lagi. Akan tetapi hal ini akan bisa terwujud jika sistem Islam yang diterapkan. Bukan sistem demokrasi kapitalisme.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here