Industri 4.0 dalam Bungkus Kapitalisme - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, January 7, 2020

Industri 4.0 dalam Bungkus Kapitalisme



Hadi Sasongko (Direktur POROS)

Di era yang serba digital ini, tak heran bahwa generasi dari yang muda dan yang tua mengenal dengan apa yang dinamakan gadget.

Semua informasi mudah didaptkan dari gadget, baik itu informasi yang sedang terjadi maupun yang lalu. Kita bisa melihat dimana - mana orang pasti membawa gadget, di dalam kendaraan umum, di warung, tempat kerja, mobil bahkan ke kamar mandi pun gadget tidak terlupakan untuk dibawa. Bahkan dalam sebuah pertemuan makan bersama pun orang lebih konsentrasi gadget daripada makanan yang dihidangkan.


Industri 4.0 ini menjadikan manusia seluruh dunia dipaksa untuk men jadi orang yang tergantung pada sebuah perangkat digital.
Bahkan ada yang mengatakan apabila tidak memegang gadget dalam sehari pun, bak laksana dunia hampa bahkan seperti mayat hidup yang berjalan tidak tau arahnya kemana. Jika hal ini dibiarkan dan tidak diarahkan dengan benar terutama anak anak akan membahayakan. Karena apabila penggunaannya negatif menjadikan manusia yang cenderung agresif, individual dan juga lupa diri.

Menurut definisi World Economic Forum, revolusi industri 4.0 adalah disrupsi teknologi internet ke dalam proses produksi agar proses pengolahan barang dan jasa bisa lebih efisien, cepat, dan massal. Hal ini ditandai dengan penggunaan teknologi robotik, rekayasa intelektual, Internet of Things (IoT), nanoteknologi, hingga sistem yang disebut sistem komputasi awan (cloud computing).

Hal ini merupakan kelanjutan dari revolusi industri yang berlangsung sejak 1850 silam. Pada revolusi industri pertama, produksi barang secara massal tercatat menggunakan mesin uap dan air sebagai bagian dari mekanisasi produk. Kemudian, pada revolusi industri kedua, mekanisasi produksi ditekankan pada penggunaan alat-alat elektronik.

Memasuki abad 20, revolusi industri memasuki tahapan ketiga berupa penggunaan teknologi dan otomatisasi di dalam mekanisasi produksi. Meski agak mirip dengan revolusi industri ketiga, revolusi industri 4.0 memiliki perbedaan tersendiri. Hal itu terutama dalam hal penggunaan internet dan kecepatan produksi yang jauh lebih kencang dibanding revolusi industri ketiga.

Di dalam laporan berjudul The Future of Jobs yang dirilis World Economic Forum (WEF) 2016 lalu, ditekankan bahwa industri mulai beralih menggunakan rekayasa intelektual, mesin belajar (machine learning), transportasi otomatis, dan robotik sangat pintar sudah mulai mendominasi proses produksi hingga 2020.

Beberapa industri yang disurvei oleh WEF bahkan menunjukkan penggunaan teknologi cloud dan mobile internet menjadi fokus model bisnis mereka di masa depan. Itu kemudian disusul oleh teknologi pemrosesan data dan penggunaan big data ke dalam proses produksi, di mana pelaku industri akan mulai beradaptasi hingga 2025 mendatang.

Maka hal ini dibutuhkan sebuah sistem yang dapat mengakodomasi terhadap perkembangan teknologi yang begitu cepat. Sistem kapitalistik telah membuktikan bahwa banyak yang lahir dari sistem ini tatanan kehidupan yang rusak. Inovasi inovasi yang muncul dalam sistem kapitalis digunakan dan dirasakan oleh sebagian orang, bahkan menjadi alat untuk memeras manusia yang lain.  Sistem Kapitalisme merupakan suatu sistem yang memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada setiap individu, sehingga menjadikan individu tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Misalnya dalam hal pengelolan sumber daya alam, dalam sistem kapitalisme sumber daya alam diperoleh melalui cara apapun. Entah itu merusak lingkungan, merugikan masyarakat dan manfaatnya hanya di nikmati oleh para begundal yang hanya mempunyai modal. Sehingga tidak heran jikalau sumber daya alam yang diperoleh dan dikembalikan kepada rakyat tetapi rakyat dimintai untuk membeli dg harga yang mahal.

Indonesia sebagai salah satu dari 3 negara yang memiliki hutan hujan tropis terluas, memiliki peran penting dalam kelestarian alam secara global. Namun kenyataannya, menurut data statistik Kementerian Kehutanan tahun 2011, laju deforestasi di Indonesia pada periode 2000-2010 melesat hingga 1,2 juta hektar hutan alam setiap tahun.  Dari sekitar 74 juta hektar hutan yang dimiliki Kalimantan, hanya 71% yang tersisa pada 2005. Sementara jumlahnya pada 2015 menyusut menjadi 55%. Jika laju penebangan hutan tidak berubah, Kalimantan diyakini akan kehilangan 6 juta hektar hutan hingga 2020, artinya hanya kurang dari sepertiga luas hutan yang tersisa. Konversi hutan paling besar di Indonesia adalah untuk pertambangan dan perkebunan sawit.

Hampir 34 persen daratan Indonesia telah diserahkan kepada korporasi lewat 10.235 izin pertambangan mineral dan batubara (minerba). Kerusakan yang ditimbulkan akibat operasi pertambangan ini juga merusak sungai-sungai dari sekitar 4.000 DAS yang ada di Indonesia, sebanyak 108 DAS mengalami kerusakan parah. Tidak berhenti sampai di situ, saat penggunaan batubara untuk pembangkit listirik, limbah yang dibuang ke atmosfer juga tidak kalah berbahayanya. Zat-zat berbahaya yang dikeluarkan adalah Merkuri, CO2, NOx, SO2, dan PM 2,5. Sekitar 6.500 orang setiap tahunnya mengalami kematian dini akibat terpapar zat-zat berbahaya. Zat-zat ini menyebabkan kanker paru-paru, serangan asma, infeksi, gangguan fungsi dan perkembangan paru-paru pada anak-anak.

Kehancuran berikutnya adalah dari perkebunan sawit. Pada 2015, luas lahan perkebunan kelapa sawit di Borneo sudah mencapai 7 juta hektare, atau 10 persen dari luas Kalimantan.  Kerusakan tanah juga diperparah dengan penggunaan pestisida dan hebrisida, yang akan mengalir ke sungai-sungai di sekitarnya. Perkebunan sawit juga memicu kenaikan suhu antara 0.8 hingga 6 derajat Celcius, dan berpengaruh besar terhadap kehidupan flora dan fauna. Dalam investigasi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat ada 3 perusahaan sawit terlibat dalam kebakaran besar di tahun 2015.

Pertanyaannya, apakah seperti ini model pembangunan yang dibutuhkan masyarakat? Hal ini diperparah para penguasa boneka dalam sistem negara-bangsa pada praktiknya selalu berlindung di balik kepentingan nasional dan ide nasionalisme. Padahal pada saat yang sama mereka melegalkan praktik mega korupsi dengan membiarkan uang rakyat dicuri dan kekayaannya dirampok oleh perusahaan-perusahaan asing demi keuntungan dan kekayaan pribadi yang mereka dapatkan dari tuan-tuan mereka di Barat. Mereka nyaris selalu terbukti gagal menyelesaikan problem negerinya yang dipenuhi dengan persoalan korupsi, ketergantungan terhadap Barat dan utang luar negeri, penegakan hukum yang ambivalen, ancaman separatisme, konflik sosial, dan lain-lain.

Hari ini sistem negara-bangsa telah kehilangan vitalitasnya. Apalagi penguasanya sendiri telah dengan sengaja menghilangkan kedaulatannya dengan membolehkan pihak asing mengintervensi negara mereka. Mereka pun membiarkan pihak asing menyajikan solusi-solusi beracun bagi pengentasan kemiskinan seperti program kontrol populasi, legalisasi prostitusi dan bahkan membiarkan rakyatnya menjadi buruh-buruh pabrik yang bekerja di perusahaan asing multinasional.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here