Menguak Misteri Pembunuhan Mayor Jenderal Qassim Soleimani - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, January 8, 2020

Menguak Misteri Pembunuhan Mayor Jenderal Qassim Soleimani



Muhammad Ayyubi[1]

Awal tahun 2020 ini dunia dikejutkan dengan peristiwa besar dunia yakni pembunuhan Mayjend Qassim Soleimani pada tanggal 3 Januari 2020. Dia adalah Seorang perwira tinggi Angkatan Bersenjata Iran dan komandan korps pasukan elite Iran, Pasukan Al Quds. Dia termasuk orang kedua berpengaruh di Iran setelah Presiden Iran Rouhani.

Pihak AS sendiri melalui Presiden Donald Trump mengakui bahwa pihaknya bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut. Sontak dunia terkejut hingga menimbulkan kekawatiran akan terjadinya perang kawasan Timur tengah. Publik teringat kembali kasus perang Teluk pada tahun 1990 antara Irak dan Kuwait. Di mana AS dengan pasukan koalisinya memborbardir Irak hingga blokade ekonomi Irak pasca perang selama 10 tahun.

Kasus ini terus memanas apalagi kedua negara saling ancam. AS melalui Trump mengatakan bahwa Iran akan berakhir riwayatnya jika berani membalas serangan, Iran akan merasakan senjata mematikan AS kata Trump. Tidak surut nyali Iran, Presiden rouhani juga menjanjikan Rp. 1,1 Triliun kepada siapa saja yang bisa membawa kepala Donald Trump.

Sejumlah negara pun turun memberikan respon atas pembunuhan Qassim Soleimani. Seperti Rusia, Jerman, Inggris, Perancis, Irak dan Turki. Mayoritas dari pemimpin negara-negara tersebut menentang kejadian tersebut.

Menelusuri Masalah AS – Iran
Jauh sebelum kasus pembunuhan Qassim Soleimani telah terjadi sengketa antara dua negara. Paling tidak dalam dua kasus besar. Yakni pengayaan uranium dan ekspor minyak Iran.

Yang pertma adalah masalah nuklir Iran. Dicurigai Iran akan mengembangkan senjata nulkir, maka kemudian AS pada masa Barak Obama mengajak Iran, Uni Eropa dan Dewan Keamanan PBB untuk masuk dalam Joint Copprehensive Plan Of Action 2015 yakni perjanjian dalam masalah pembatasan pengayaan uranium yang hanya 3.67 %. Jauh dari kebutuhan pengembangan nuklir yakni 90 %.  

Berdasarkan perjanjian ini Iran bersedia memusnahkan cadangan uraniumnya. Kegiatan pengayaan uranium hanya dibatasi di satu fasilitas yang memakai pemusing generasi pertama dalam kurun waktu 10 tahun. Dan IAEA ( international Atomic Energy Agency ) dapat mengunjungi secara berkala reaktor nuklir Iran, dan sebagai gantinya Iran menerima bantuan dari AS dan UE  dan pengurangan sanksi dari Dewan keamanan PBB.

Akan tetapi AS pada 8 Mei 2019 keluar dari JCPOA. Di pihak Iran sendiri pun akan mengabaikan kepepakatan itu pasca kematian Qassim. ( 3/1, CNN Internasional ) sehingga hal ini semakin membuat panas hubungan kedua negara.

Program nuklir Iran dimulai sejak dinasti Reza Pahlevi tahun 1950 dengan bantuan AS. Dan berakhir sejak kasus revolusi Iran 1979. Dan sejak 1990 Rusia adalah mitra utama Iran dalam pengembangan program nuklirnya.

Israel dan AS sejak dinasti Khomaeni selalu mencurigai Iran akan mengembangkan nuklir Iran untuk senjata pemusnah masal.

Kedua, Dalam kasus ekspor minyak Iran, AS melalukan intervensi agar tidak mengekpor minyaknya ke Rusia. China, Korea Selatan, dan Jepang. ( 24/4/2019)

Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri AS mengatakan “ Tujuan kami adalah membuat negara-negara berhenti mengimpor minyak Iran sepenuhnya “ ( 24/4/2019). Langkah ini ditempuh untuk menekan Iran agar menghentikan pendanaan kepada Teroris, yang dimaksud adalah Kataib Hizbullah di Libanon dan Hamas di Palestina.

Sementara Iran, melalui Presiden Rouhani mengatakan “ AS tidak akan bisa menghentikan Iran dalam mengekspor minyaknya dan setiap langkah yang dilakukan untuk mencegah pengiriman minyak mentah Iran yang melewati teluk akan mengarah ke semua ekspor minyak melalui saluran air yang diblokir ”

Sumber pendapat utama Iran adalah Minyak,  dimana dia bisa melakukan ekpor minyak 1 juta barel per hari. Maka jika ini distop maka akan membuat ekonomi Iran akan kolaps dan runtuh. Dari sinilah Iran melakukan perlawanan kepada AS. Dengan tetap melakukan ekpor kepada negara-negara lain. Bahkan china tidak mengindahkan sanksi pembatasan ekpor oleh AS. China tetap impor minyak dari Iran. Tercatat impor minyak Cina sebsesar 208,205 barel/hari. ( bdp) atau 855,638 ton/ bulan.

Mengurai Masalah.

Dalam kasus Iran, AS ketakutan dengan pengaruh Iran yang besar di kawasan. Berkali-kali negara ini berkonfrontasi dengan Isarel. Sebagaimana pada perang Hizbullah yang dipimpin Hasan Nasrullah. Ketika itu Israel dikalahkan. Juga pengaruh ekonomi Iran dikawasan Timur tengah mampu mengontrol perdagangn minyak. Karena cadangan minyak Iran no 3 terbesar di antara negara-negara OPEC. Setelah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Sehingga AS tidak berharap Iran menjadi raja bagi timur tengah.

Sementara  diantara negara-negara timur tengah Iran lah yang relatif susah dikontrol. Baik dari segi ekonomi, politik, keamanan dan kebijakan kawasan. Terbukti Iran melalui Pasukan Al Quds bentukan Qassim melakukan intervensi pada perang Yaman dengan dengan membantu milisi Houti yang Syiah dan pro Inggris, di Plaestina mereka membiayai Hamas untuk menyerang Israel. Sementara di Afganistan mereka membantu Taliban melawan AS dan pasukan koalisi.

Maka sangat dimungkinkan bahwa pembunuhan Qassim Soleimani adalah tekanan kepada Iran untuk tunduk kepada AS lebih dalam, karena sejumlah tekanan dan sanksi kepada Iran tidak berhasil menundukkan Iran, mulai dari sanksi pembatasan ekspor minyak dan sanksi pembatasan pengayaan uranium.

Siapakah Qassim Soleimani?, Dia adalah perwira senior Iran dalam pasukan pengawal revolusi Iran ( IRGC ) dan sejak  tahun 1998 menjadi komandan pasukan Quds. Pasukan Quds telah lama memberikan bantuan militer kepada Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Paletina. Pada 2012 dia juga membantu Suriah selama perang saudara di sana. Dia pula lah yang membantu komando gabungan pemerintah Irak dan pasukan milisi syiah melawan ISIS pada tahun 2014-2015.

Ini semacam warning bagi Iran untuk tunduk kepada AS jika tidak mereka akan dibombardir sebagaiman Irak pada masa Saddam Husein.  Dan bagi AS hal itu bisa saja dilakukan baik dengan restu PBB atau tidak.  Apalagi pasca kasus impeachment Trump, perang dengan Iran bisa menjadi pemantik untuk kembali menaikkan pamor Trump di mata rakyat AS.

Dan jika perang benar-benar terjadi, maka sejatinya ini hanyalah upaya AS untuk menjaga hegemoninya atas negara negara timur tengah. Persis seperti perang Afganistan dan irak tahun 2000 atau perang teluk 1990.  Bagi AS adalah kepentingan nasional mereka, tidak peduli meski harus meghancurkan negara lainnya.

Perang AS dan Iran nantinya bukan lah perang Islam dan Kafir, seperti dulu umat terseret emosinya dengan mendukung Saddam Husein yang kerap kali berpose shalat. Perang itu tidak lebih perang untuk mempertahankan daerah jajahan. Maka berhenti berharap kecuali kepada Khilafah yang akan mengembalikan izzul Islam wal muslimin.[]



[1] Pengamat Politik Internasional

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here