Pemerintah China Semakin Nakal! - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, January 7, 2020

Pemerintah China Semakin Nakal!



Agung Wisnuwardana (Staf Ahli dari IJM)
China memancing perkara. Hingga Minggu (5/1/2020) kapal nelayan China masih bertahan di Perairan Natuna melakukan penangkapan ikan yang berjarak sekitar 130 mil dari perairan Ranai, Natuna didampingi dua kapal penjaga pantai dan satu kapal pengawas perikanan China. Sebelumnya pada 2016 konflik terjadi setelah awak kapal Patroli Hiu 11 Kementerian Kelautan dan Perikanan mencoba menangkap KM Kway Fey 10078 yang diduga mencuri ikan di perairan Natuna. Namun saat kapal patroli Indonesia tengah menggiring kapal nelayan milik China ke wilayah Indonesia, muncul kapal penjaga perbatasan China.
Peristiwa ini memantik reaksi dari berbagai kalangan, termasuk desakan kepada Pemerintah Indonesia untuk menarik duta besarnya dari Beijing dan meninjau ulang seluruh proyek kerja sama dengan China menyusul sikap negara itu yang tidak mengakui kedaulatan Indonesia atas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di Perairan Natuna, Kepulauan Riau.
Inilah kelakuan Negara China yang tak tahu diri. Sebuah Negara komunis yang rapuh yang telah membuat Umat ​​Islam Xinjiang mengalami puluhan tahun diskriminasi, penindasan, pengangguran, dan kemiskinan yang melumpuhkan ekonomi mereka karena kebijakan diskriminatif dari rezim yang menindas yang telah memerintah mereka dengan tangan besi dan berusaha meminggirkan mereka di tanah air mereka sendiri. Protes tinggal protes. Cacian tinggal cacian. Faktanya, semua itu tidak menjadikan China takut melanggar, bahkan makin membabi buta dan brutal. Ironisnya, para penguasa negeri-negeri Islam hanya diam, tidak melakukan apa-apa, selain melontarkan kecaman tanpa arti. Selebihnya, mereka melanjutkan hubungan kemitraan dengan China, seakan itu perbuatan yang pantas dan cukup sebagai seorang pemimpin. Padahal setiap detik, kaum muslim Uighur menderita di tangan China.
Sikap China terus menerus menyakiti kepentingan umat, termasuk intimidasi China kepada kaum muslim Uighur. Meniru semangat AS, China jelas menjelma menjadi negara tirani kolonial dan kriminal untuk meneror dan menjarah dunia. Maka hari ini dibutuhkan peradaban yang dibangun di atas ideologi untuk bangkit menjadi pengganggu dan perampas.
Tragisnya, hari ini umat dalam keadaan terpecah dan menderita 'demokrasi' dan diktatorisme, penyakit Barat. Majikan kolonialis itu mengganti bendera Islam dengan bendera tak berarti, struktur pemerintahan buatan akal manusia. Mereka mengibaskan menindas umat, para pemimpin korup yang kepentingan diri mereka bergantung pada seberapa baik mereka melayani tuan Barat mereka. Posisi ASEAN yang terpecah dan menyedihkan, tak berdaya bersikap tegas pada Tiongkok dan AS.
Menghadapi berbagai manuver China untuk merendahkan Indonesia dan umat Islam, maka ini tergantung kita semua. Pemerintah Indonesia harus menindak langsung pelanggaran China. Umat Islam juga harus mengembalikan masalah penindasan saudara – saudara kita di Uighur ke masalah asalnya, yaitu menghancurkan otoritarianisme China mulai dari akar-akarnya dan mengembalikan kaum muslimin di sana secara menyeluruh sebagai bagian dari negeri-negeri Islam.
Jika kita belum mampu mewujudkannya saat ini, paling tidak, umat ini harus tetap berada di parit-parit yang telah mereka siapkan, dan bersikap teguh dalam posisi-posisi yang mereka ambil. Semuanya itu agar menjadi jalan pembuka bagi pembebasan yang pernah diwujudkan melalui tangan-tangan tentara Islam yang telah membebaskannya pertama kali, melalui tentara Khalifah an-Nashir al-‘Abbasiy di bawah panji Panglima Shalahuddin yang telah membebaskan al-Quds dari tangan pasukan Salib, dan kelak melalui tangan-tangan tentara pembebas yang akan membebaskan al-Quds untuk terakhir, juga di bawah panji Islam yang dikibarkan Qutaibah Bin Muslim Al-Bahili, Sang pembebas Daratan China, yang selanjutnya membangun peradaban Islam di Turkistan yang tetap berada di bawah kekuasaan Khalifah.







No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here