PENGEJAR SYURGA SEJATI INGIN - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, January 7, 2020

PENGEJAR SYURGA SEJATI INGIN


Suhari (Pengasuh MT.Nahdhatul Ummah)


” ياطالب الجنة… أخرج أبوك آدم منها بذنب واحد.. أتطمع في دخولها بذنوب لم تتب عنها؟! “.

“Wahai engkau yang mengejar Syurga. Sesungguhnya telah dikeluarkan darinya bapak kalian, Nabi Adam AS dengan sebab satu dosa.
Lalu, apakah kamu berambisi masuk ke dalamnya dengan banyaknya dosa-dosa, yang engkau tidak bertaubat darinya?!”.

 Kalimat sindiran pedas tapi bijak tersebut bisa dirujuk dalam kitab At-Tabshiroh: 1/ 326, dan pengucapnya adalah al-Imam Ibnul Jauziy ra.

Apa yang menjadi pertanyaan Ibnul Jauzy ra cukuplah bisa membuat resah gelisah dan pemantik muhasabah diri, bagi siapapun yang benar benar ingin meraih kenikmatan abadi kelak berupa syurga. Namun jika kita
tenang tenang saja tanpa ada reaksi yang berarti, maka perlu kiranya bertanya balik pada diri sendiri, benarkah kita serius mengejar syurga?

 Bagi pengejar syurga yang serius, bayangan betapa sulit bahkan hampir mustahil bisa meraih syurga pasti hadir dalam benaknya. Bagaimana tidak, detik demi detik yang dijalaninya hanya tumpukan bahkan gunungan dosa yang dihasilkan.

Secara pribadi-individu, dosa mungkin bisa ditekan,amal sholeh bisa dimaksimalkan. Namun dalam bermasyarakat, deretan dosa tak berbilang lagi adanya. Masyarakat yang tidak menjadikan islam sebagai standart hidupnya, sudah pasti akan panen dosa setiap saat. Begitu keluar rumah segera disambut dengan tebaran pesona aurat liar wanita yang penuh menggoda. Dilihat dosa tidak melihat tidak mungkin karena mereka ada dimana kaki melangkah. Masuk lingkungan pekerjaanpun tidak ada jaminan bebas area dosa. Entah berupa muamalah ribawi,sumpah serapah manusia minim maklumat islam hingga aneka akal bulus pemilik barang demi mengais rupiah atas barang daganganya.

Dalam kehidupan bernegara juga tidak lebih aman, amal salah begitu mudah dilakukan,sedang amal sholeh seolah jalan ditempat. Konser music,pesta rakyat, hiburan malam hingga parade penghinaan simbol agama nyaris tanpa ada yang pencegahan. Sedang dak’wah islam menuju kehidupan islam yang sempurna harus berhadapan dengan aneka hambatan. Kemaksiatan yang berarti dosa berjalan mulus ditunjang gelontoran fulus dari tangan rakus, Produksi pahala berupa ketaatan total pada Sang Pencipta alam berliku jalan yang harus didakinya.Tidak salah kiranya jika dikatakan sekarang adalah zaman obral dosa-puasa pahala.

 Belajar dari sejarah Nabi Adam AS, beliau bisa menempati syurga karena tidak ada dosa padanya meski juga belum ada pahala. Umat Nabi Muhammad SAW bisa memasuki syurga berkat rahmat Allah SWT tentunya, namun faktor dosa dan pahala juga menjadi pertimbangan tersendiri. Maka,tidak heran,Nabi Muhammad SAW sering menyampaikan berita gembira jika melakukan amalan tertentu akan menjadikan pelakunya diampuni dosanya laksana bayi yang baru dilahirkan. Artinya pintu syurga terbuka untuknya. Misal sabda beliau SAW,
 مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ “

Orang yang
 melaksanakan haji ikhlas karena Allah SWT., lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat kefasikan, maka dia akan pulang (bersih dari dosa) seperti saat dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 Pengejar syurga sejati akan berjuang semaksimal mungkin untuk mengosongkan diri dari dosa. Karena dosa akan menjadi momok yang menakutkanya, seolah sedang duduk di bawah gunung yang akan menimpanya
 إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا (رواه البخاري) “
 Dari Abdullah bin
 Mas’ud ra berkata, bahwa Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin (ketika) melihat dosa-dosanya, adalah seperti (ketika) ia duduk di lereng sebuah gunung, dan ia sangat khawatir gunung itu akan menimpanya. Sedangkan seorang fajir (orang yang selalu berbuat dosa), ketika ia melihat dosa-dosanya adalah seperti ia melihat seekor lalat yang hinggap di batang hidungnya, kemudian ia mengusirnya seperti ini lalu terbang (ia menganggap remeh dosa).” (HR. Bukhari).

Gunungan dosa ada akibat diabaikanya hukum hukum Allah SWT dalam kehidupan ini. Imam Ibnul Jauzi berkata, “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah SWT karena menentang hukum itu dalam keadaan dia mengetahui bahwa Allah SWT telah menurunkannya sebagaimana halnya keadaan kaum Yahudi, maka dia adalah kafir. Adapun barangsiapa yang tidak berhukum dengannya karena kecondongan hawa nafsunya tanpa ada sikap penentangan -terhadap hukum Allah SWT, - maka dia adalah orang yang zalim lagi fasik.” (Zaadul Masir, hal. 386).

 Baik kafir,fasik maupun dzalim adalah sama –sama produsen dosa, maka pengejar syurga sejati pasti akan bertaubat dengan menghindari ketiga gelar tercela tersebut melekat pada dirinya. Dan berkeinginan kuat agar segera hukum Allah SWT terlaksana di dunia ini. Jika tidak,nampaknya ambisi masuk surga perlu dipertanyakan kembali[]

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here