FGD PEDULI NEGERI MENCARI SOLUSI: MENGUAK SKANDAL MEGA KORUPSI DI SENGKARUT KEMEROSOTAN EKONOMI - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, February 17, 2020

FGD PEDULI NEGERI MENCARI SOLUSI: MENGUAK SKANDAL MEGA KORUPSI DI SENGKARUT KEMEROSOTAN EKONOMI


Surabaya, 16 February 2020

"Secara aqidah saya meyakini ini adalah makar Alloh atas makar jahat rezim hari ini. Satu per satu Alloh bongkar borok rezim. Mulai dari Skandal Jiwasraya, Asabri, lalu OTT Wahyu Setiawan. Belum lagi potensi gagal bayar klaim PT Taspen yang mulai terendus," ujar Edy Mulyadi (EM) mengawali perspektifnya dalam FGD dengan tajuk " PEDULI NEGERI MENCARI SOLUSI:
MENGUAK SKANDAL MEGA KORUPSI DI SENGKARUT KEMEROSOTAN EKONOMI".

Bertempat di Surabaya, 16 Februari 2020, forum dihadiri lebih dari 30 peserta lintas elemen, mulai dari mahasiswa, intelektual, tokoh masyarakat bahkan ulama. Lebih jauh EM menyebut apa yang terjadi hari ini memiliki kemiripan dengan peristiwa yang mengawali reformasi 98. "Saat itu kejatuhan rezim orba diawali dengan jatuhnya ekonomi yang berakumulasi dengan masifnya skandal korupsi. Saya kira ini sangat potensial menjatuhkan rezim hari ini, bahkan tak akan bertahan lebih dari tahun 2020 rezim bisa jatuh," papar EM.

Sementara Agus Maksum, tokoh yang sempat viral karena membongkar kecurangan DPT pada pilpres 2019, menyampaikan perspektif agak berbeda. "Ekonomi kita memang semakin liberal. Adanya upaya rezim menelurkan
Omnibus Law justru memuluskan agenda liberalisasi ekonomi," jelasnya. Agus menilai omnibus law hanya akan memudahkan para taipan asing-aseng menghegemoni perekonomian Indonesia sekaligus mematikan kekuatan ekonomi rakyat. "Di sisi lain saya juga sangat mengherankan mengapa rezim justru mendukung penuh eksistensi para unicorn, padahal keberadaan unicorn ini di "back up" penuh oleh kekuatan modal asing yang akan berujung matinya ekonomi kerakyatan," kilah Agus.

Narasumber ketiga yaitu Akhmad Khozinudin (AK), Ketua LBH Pelita Umat mengatakan bahwa aneka skandal megakorupsi ini menunjukkan fenomena yang ia sebut sebagai "Trias Korupsia". "Ya, megakorupsi ini tidak mungkin terjadi tanpa keterlibatan pihak legislatif, eksekutif sekaligus yudikatif. Ketiga poros demokrasi ini secara simultan berperan besar dalam aneka skandal korupsi yang menghanguskan ratusan triliun uang negara," tegas Ahmad.

"Ini belum jika kita bicara bahwa justru kemudian negara yang harus menutupi kebocoran tersebut dengan uang rakyat, baik melalui upaya menaikkan aneka pajak maupun menambah utang baru yang ujung-ujungnya tetap saja pakai uang rakyat untuk membayarnya. Jadi rakyat hanya jadi bulan-bulanan dalam lingkaran setan Trias Korupsia," urainya dengan berapi-api.

"Maka saya melihat ini sudah kerusakan yang bersifat sistemik yang juga harus diselesaikan secara sistemik. Sistem demokrasi kapitalistik yang sekuler terbukti rusak dan gagal. Apalagi rujuk kepada sosialisme komunis sangat tidak mungkin dilakukan karena juga telah terbukti gagal total. Maka kita tinggal punya sistem yang pantas dirujuk yaitu Sistem Islam sebagai solusi terbaik." AK menambahkan bahwa upaya menjadikan Islam sebagai solusi harus dimulai dengan langkah menyadarkan umat atas segala kerusakan yang Ada.

"Umat harus mampu mengindera dan menyadari bahwa demokrasi ini adalah sistem yang cacat dan gagal, bahwa kapitalisme hanya membuat umat semakin melarat. Dari kesadaran itulah umat akan memiliki kehendak atas perubahan. Maka langkah kedua adalah mengedukasikan kepada umat solusi apa atas kerusakan sistemik tersebut. Jika ini sudah berhasil dilakukan maka perubahan tinggal selangkah lagi. Tinggal menunggu kekuatan riil di negara ini yaitu pihak militer dan kekuatan politik yang sedang berkuasa untuk menerima tuntutan perubahan dari umat tersebut," pungkasnya.

Setelah diselingi dengan pertanyaan maupun pernyataan dari peserta lainnya, FGD diakhiri pukul 23.00 WIB. Kesan yang muncul adalah bahwa seluruh peserta memiliki kesamaan tujuan yang sama yaitu bagaimana membawa negara ini terbebas dari korupsi dan sekaligus mampu menghadiahkan kesejahteraan yang nyata kepada rakyat. (Sam)

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here