Ironi Legal Culture Di Negara Sekuler - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, February 17, 2020

Ironi Legal Culture Di Negara Sekuler


Ahmad Rizal (Direktur Indonesia Justice Monitor)

Bila kita telaah, di negara sekuler, budaya hukum masih menjadi masalah yang besar. Adakalanya seseorang taat hukum hanya karena kekerasan sanksi/hukumannya, bukan atas dorongan dari dalam diri masyarakat.

Dalam kondisi tersebut, masyarakat harus terus diawasi oleh aparat hukum, semisal kepolisian, karena jika tidak diawasi maka berpotensi besar akan terjadi problem.

Studi kasus di Indonesia, jumlah anggota Polri di seluruh Indonesia saat ini tercatat sekitar 4.704.000 orang atau sekitar 1:1500 atau lebih kecil lagi. Artinya, satu polisi harus mengawasi 1500 orang. Saat ini Indonesia sedang mengupayakan perbandingan ideal antara jumlah polisi dengan masyarakat sebagaimana standar PBB, yakni 1 berbanding 400 atau 300 penduduk. Jika demikian maka jumlah polisi yang dibutuhkan untuk mengawasi 200 juta penduduk sekitar 666.000 orang. Jumlah ini tidak sedikit tentunya.

Sekularisme yang menjadi asas negeri ini telah menempatkan agama hanya berada di masjid-masjid, gereja, pura dsb. Agama hanya berlaku di wilayah privat, sementara di luar itu (seperti di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, termasuk hukum dan persanksian), agama dipisah. Ketika berada di wilayah publik, budaya ketakwaan bagi umat Islam, misalnya, pun seakan "lenyap". Wajar jika sering kita menjumpai aparat penegak hukum sebagian dari oknum - oknum: polisi, panitera, jaksa hingga hakim memiliki mental yang tidak amanah.

Dalam perspektif Islam, masyarakat Islam warga negara menaati hukum karena menaati perintah dan larangan Allah SWT, bukan sekadar takut terhadap hukuman atau aparat penegak hukum. Dengan demikian, ketertiban masyarakat akan terjaga, karena masyarakat menaati hukum karena dorongan kesadaran, selain tentunya pengawasan dari lembaga penegak hukum. Dengan itu, tentu tidak lagi diperlukan banyaknya anggota polisi untuk mengawasi masyarakat, karena masyarakat sudah merasa diawasi oleh Allah SWT. Tentu hal tersebut akan secara efektif mewujudkan masyarakat yang memiliki kesadaran hukum yang tinggi.

Hukum Islam diturunkan Allah untuk kebaikan manusia dan menyelesaikan persoalan manusia. Allah SWT telah menegaskan bahwa risalah Islam diperuntukkan bagi seluruh manusia dan agar menjadi rahmat (kebaikan) bagi mereka, baik Muslim ataupun non-Muslim (lihat QS 21: 107). Hal ini dibuktikan dalam sejarah panjang kaum Muslim, bahwa dalam pemerintahan Islam selama 800 tahun di Spanyol, pemeluk Islam, Kristen dan Yahudi mampu hidup berdampingan. Mereka mendapatkan hak-hak mereka sebagai warga negara tanpa diskriminasi.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here