Islam Rahmatan Lil 'Alamin Dan Urgensi Persatuan Umat - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, February 7, 2020

Islam Rahmatan Lil 'Alamin Dan Urgensi Persatuan Umat


Ali Maksum (Tabayyun Center)

Allah SWT telah menegaskan dalam al-Quran surah al-Anbiya ayat 107: "Wa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil 'alamin (Kami tidak mengutus kamu [Muhammad], kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam].”

Terkait ayat ini, Al-'Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahu-Llah menjelaskan, bahwa tujuan Rasulullah saw. diutus adalah agar risalah yang beliau bawa, yakni risalah Islam, menjadi rahmat bagi manusia. Konsekuensinya, risalah ini diturunkan untuk mewujudkan kemaslahatan [jalb al-mashalih] dan mencegah kemafsadatan [dar'u al-mafasid] dari mereka.

Dengan kata lain, perwujudan kemaslahatan [jalb al-mashalih] dan pencegahan kemafsadatan [dar'u al-mafasid] merupakan hasil dari penerapan syariah Islam secara kaffah. Pemeliharaan agama [hifzh ad-diin], jiwa [hifzh an-nafs], akal [hifzh al-'aql], harta [hifzh al-mâl], keturunan [hifzh an-nasl], kehormatan [hifzh al-karamah], keamanan [hifzh al-amn] dan negara [hifzh ad-dawlah] yang merupakan kemaslahatan bagi semua warga adalah hasil penerapan syariah secara kâffah, bukan sepotong-potong. Sebagai contoh, hukum potong tangan tidak bisa diterapkan sendiri agar harta terjaga, sementara problem kemiskinan dan ketimpangan ekonomi tidak diselesaikan dengan sistem ekenomi syariah. Sistem ekonomi syariah dan hukum potong tangan jelas tidak bisa dijalankan kecuali di dalam Negara Khilafah.

Nah, bila kita rangkum pendapat para ulama tentang makna dan diskripsi dari rahmatan lil 'alamin, bisa disimpulkan: Pertama, Rasulullah Muhammad saw. diutus sebagai rahmat karena membawa petunjuk atau hidayah bagi manusia yang akan mengeluarkan mereka dari kejahilan dan kekafiran ke pengetahuan dan keimanan; dari penghambaan kepada selain Allah SWT menuju penghambaan hakiki hanya kepada Allah SWT semata. Dengan kata lain, akidah dan syariah Islam adalah bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh makhluk-Nya.

Kedua, seluruh manusia pasti akan mendapat rahmat atau kebaikan dengan pengutusan Nabi Muhammad saw. Namun, rahmat yang sempurna hanya didapatkan oleh orang yang beriman dan menaati seluruh risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Orang seperti ini akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat; terlindungi jiwa, harta, akal, keluarga, kehormatan dan agama mereka; juga akan hidup di tengah masyarakat yang aman, tenteram, adil dan sejahtera serta berkemajuan. Inilah peradaban Islam yang agung, yang pernah menghiasi sejarah gemilang Islam pada masa lalu.

Ketiga, kafir dzimmi, yakni orang yang tidak beriman, yang mau tunduk dan terikat perjanjian dengan kaum Muslim, juga mendapat rahmat; terjaga jiwa, harta dan kehormatan mereka. Orang munafik, yang mengaku beriman di lisan namun ingkar di dalam hati, juga mendapat rahmat. Mereka mendapat manfaat berupa jiwa, harta, keluarga dan kehormatan mereka yang terjaga. Mereka pun diperlakukan sebagaimana kaum Muslim dalam semua perkara. Dengan cara ini, kerahmatan Islam akan dirasakan bukan hanya oleh orang Islam, tetapi juga orang selain Islam. Inilah makna hakiki dari Islam rahmatan lil 'alamin. Namun, meski mereka mendapat rahmat dari Islam di dunia, di Akhirat kelak Allah SWT akan menempatkan mereka di dasar neraka Jahanam.

Hanya melalui penerapan syariah secara keseluruhan (kaffah) secara formal dalam sebuah sistem kenegaraan, semua maqâshid asy-syari'ah yang akan menjadi kunci kerahmatan Islam tadi bisa diwujudkan.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here