KHILAFAH: MAJU ALON-ALON - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, February 19, 2020

KHILAFAH: MAJU ALON-ALON


Oleh Hanif Kristianto (Analis Politik dan Media)

  Era tahun kekinian manusia harus menyadari bahwa bisa jadi sebuah ide yang dulu dianggap utopia, kini menjelma nyata. Khilafah yang dulu direndahkan, dihinakan, diutopiakan, dan dininabobokan kini menjelma menjadi ‘hantu’ yang menakutkan. Terbayang akan semakin tampak nyata perwujudannya. Memang itu tidak berlaku bagi semua. Hanya untuk yang betul-betul memahami arah perubahan dunia ke depan. Khususnya pelaku politik, aktivis, akademisi,  dan rezim penguasa.

  Khilafah maju alon-alon (bhs Jawa: maju pelan-pelan). Kondisi ini mengonfirmasi banyak hal. Begitu pun tak menutup kemungkinan semua akan berubah dan tiba-tiba muncul besar. Mengapa ide Khilafah ini maju alon-alon dan tidak melesat cepat sejak awal? Inilah beberapa alasannya:

Pertama, ide Khilafah meski ajaran Islam, namun disimpan dan sengaja disembunyikan. Pasca kedigdayaan penjajahan Barat yang ditopang oleh kapitalisme dan sekularisme, upaya penghapusan khilafah dilakukan sistematis.  Cara jitu dimulai dengan memasuki dunia pendidikan, menghapuskan hukum-hukum syariah yang mengatur sosial kehidupan, dan menjauhkan umat dari bahasa arab dan tsaqofah Islam.

Fakta demikian bisa diamati tidak hanya di Indonesia. Di wilayah lain bekas jajahan Barat juga sama. Di Indonesia tak banyak bahasan kajian Khilafah, siyasayah Islam, dan konsep kenegaraan di Pondok Pesantren. Memang ada dalam kita-kitab ulama salaf bahasan kepemimpinan, hanya pengkaji belum mampu mengaitkan dengan konteks kekinian pasca penjajahan Barat.

Kedua, kejayaan ideologi Kapitalisme sekular yang sistem politiknya melahirkan demokrasi kemunculan awalnya menjanjikan ide segar perubahan. Gaya dikatator dan otoritarian seolah bisa dihapus dengan tawaran demokrasi yang dibumbui dengan nilai musyawarah dan kompromi. Padahal fakta sebaliknya, penguasa yang berdiri tegak di atas demokrasi lebih condong pada pemilik modal. Bisa dikatakan pemilik modal itulah penguasa sesungguhnya.

Nah, di era akhir abad ke-20, demokrasi yang diteraapkan di negara-negara dunia memunculkan masalah baru. Ada penguasa yang jumawa mengangkangi hukum. Melahirkan diktator gaya baru dengan wajah humanis. Menghasilkan aturan dan UU yang pro liberal dan jauh dair kepentingan rakyat. Ketika semua problem itu terjadi, akhirnya banyak yang menyadari baik pejuang demokrasi sendiri yang menginginkan untuk kembali ke khittah. Pun juga umat Islam akhirnya menemukan momentum untuk kembali kepada Islam.

Ketiga, upaya persiapan penegakkan khilafah tidak bisa ditopang satu kaki. Harus banyak kaki yang tergabung dalam kelompok dan arahan yang sama. Rancak perjuangan akan diikuti umat dengan melihat kekonsistenan kelompok itu berjuang menegakkan khilafah. Hakikat perjuangan penegakkan khilafah tidak bisa cepat. Bisa jadi butuh waktu lama. Entah puluhan tahun atau bahkan bisa seratusan tahun. Bukankah ketiadaan khilafah sudah hampir 100 tahun? Bukankah pula semenjak runtuh sudah ada yang berupaya mengembalikannya?

Keempat, inilah cara Allah memberikan kesempatan bagi makhluknya. Siapa yang mau jadi pejuang? Siapa yang mau jadi penghalang? Siapa yang mau jadi pemain? Siapa yang mau jadi penonton? Klasifikasi inilah yang pada akhirnya menentukan kepada siapa pertolongan Allah itu diturunkan.

Beragam upaya pendistorsian perjuangan khilafah baik secara politik, ideologis, dan hukum tidak akan pernah surut. Bisa jadi perjuangan itu akan berlipat ganda dengan ide-ide brilian diluar prakiraan. Selalu ada cara baru untuk menjadikan khilafah sebagai ‘trending topic’. Lalu muncullah viral.

  Oleh karena itu, bagi siapapun yang berjuang ingin mewujudkan Khilafah kesabaran harus ekstra ditingkatkan. Inginnya manusia itu khilafah cepat tegak. Kalau bisa hari ini dan tidak menunggu besok. Apalah daya ada kaidah syababiyah dan juga syarat agar Allah itu ridho kepada hamba-Nya. Tatkala ideologi Komunisme dan sosilisme sudah terkubur dan di alam barzah. Kemudian ideologi Kapitalisme Sekular sudah kian pendek jatah umurnya dan menyiapkan sendiri lubang kuburnya. Maka, inilah momentum yang tepat dengan usaha yang optimal kemenangan umat itu diraih. Allah sebaik-baik penolong. Sing penting alon-alon, asal kelakon.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here