Korupsi Menggurita, Apa Solusinya? - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, February 4, 2020

Korupsi Menggurita, Apa Solusinya?


Oleh: Mochamad Efendi

Fakta menunjukkan mega korupsi terjadi di negeri ini yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku pancasilaist, berteriak pancasila harga mati dan menuduh musuh-musuhnya anti pancasila yang harus ditumpas dari negeri ini. Padahal pancasila hanya dimulut mereka saja sementara ideologi yang diyakini dan diperjuangkan adalah kapitalisme. Mereka mengukur kebahagiaan dan kesuksesan dengan materi. Saat kekayaan dan jabatan dalam genggaman, mereka merasa sukses. Bahkan tidak perduli jika semua itu diraih dengan cara curang dan mengarong uang rakyat, korupsi.

Kalau memang menganggap pancasila  ideologi yang harus diperjuangkan dan diterapkan dalam kehidupan, tapi kenapa mereka ramai-ramai melakukan korupsi? Apakah korupsi dianggap altetnatif mencari rezeki yang diperbolehkan dalam pancasila? Kalau di hati mereka ada pancasila dan mengaku pejuang pancasila, tapi kenapa mereka tidak segan melakukan korupsi? Disaat banyak rakyat dibebani oleh kenaikan kebutuhan dasar yang fantastik, disisi lain para pejabat dan politisi beramai-ramai melakukan korupsi. Sungguh ironi, kenapa semua ini terjadi?

Pertama, walaupun mengaku berediologi pancasila, faktanya mereka meyakini kapitalis sebagai ideologi mereka. Mereka tamak dan menghalalkan segala untuk meraih kebahagiannya yakni materi. Mereka tidak perduli banyak orang dirugikan, yang penting mereka mempunyai banyak uang, mobil dan rumah mewah sebagai indikator kesuksesan.

Kedua, walaupun mengaku beragama Islam tapi sekularisme membentuk pemahamannya. Mereka hanya terlihat sholeh saat ditempat ibadah, masjid, tapi meninggalkan keyakinannya saat menjalani kehidupan. Mereka tidak membiarkan Islam mengatur hidup mereka dan lebih memilih aturan buatan manusia yang jauh dari unsur keadilan karena yang membuat hukum tidak bisa bersih dari kepentingan pribadi maupun golongan. Banyak celah hukum yang pasti menguntungkan bagi si-pembuat hukum. Kesadaran hubungannya dengan Allah menghilang saat mereka menjalani kehidupan. Mereka tidak merasa berdosa untuk melakukan korupsi karena sekularisme menjangkiti pemahaman mereka. Sementara hukum tidak tegas pada koruptor yang sudah menjarah uang rakyat karena banyak dari anggota legislatif yang terlibat korupsi. Lalu bagaimana korupsi bisa dihentikan?

Pertama, umat harus berani meninggalkan ideoligi kapitalisme dan menggantinya dengan ideologi Islam. Dengan diterapkan Islam secara kaffah, umat dididik dengan tsaqofah Islam dalam perbuatan maupun pemikiran sehingga mereka menganggap bahwa kebahagiaan dan kesuksesan tidak diukur dengan materi. Kebahagiaan akan terasa saat melakukan banyak kebaikan sesuai dengan syariat Allah. Ketika seseorang berpegang teguh pada ideologi Islam, tujuan berpolitiknya tidak lagi meraih kekuasaan tapi mengurusi urusan umat. Wajar jika pemimpin dalam Islam sangat perduli dengan nasib rakyatnya sehingga  tidak mungkin tega menjarah uang rakyat dengan korupsi berjamaah. Wajar jika rakyat mencintai pemimpinya karena pemimpin perduli dengan rakyatnya.

Sebaliknya dalam sistem kapitalisme demokrasi, rakyat menderita dibawah garis kemiskinan padahal negeri ini sangat kaya dengan sumber daya alamnya. Harusnya rakyat hidup sejahtera jika para pemimpin memiliki kesadaran untuk berislam secara kaffah sehingga peduli dengan urusan rakyatnya.

Kedua, umat harus merubah pemahaman sekularisme dengan Islam kaffah. Sekularisme hanya akan memunculkan sikap alergi dan phobia terhadap Islam meskipun mengaku beragama Islam. Kesadaran hubungannya dengan Allah hanya sebatas ditempat ibadah, sehingga mereka begitu ringannya melakukan korupsi. Sekularisme menciptakan pribadi munafik yang dari mulutnya hanya menghasilkan kebohongan. Apa yang dikatakan bertentangan dengan perbuatannya. Mengaku beriman, tapi korupsi jalan terus. Mengaku berislam tapi tidak mau diatur dengan syariat Islam dengan berbagai dalil logika yang tidak bersumber dari ajaran Islam. Bahkan mereka berani menghalalkan sesuatu yang haram, dan sebaliknya mengharamkan sesuatu yang halal bahkan yang wajib untuk diperjuangkan.

Tentunya dalam sistem demokrasi, kapitalisme dan sekularisme akan tidak mungkin diberantas begitu pula korupsi karena sebenarnya maraknya korupsi karena banyaknya pejabat yang terpapar virus kapitalisme dan sekularisme bahkan lebih berbahaya dari virus corona wuhan. Orang yang sudah terpapar virus ini akan melakukan segala cara termasuk juga korupsi agar bisa memenuhi ambisi untuk berkuasa dan bergelimang harta.  Tanpa merasa berdosa, mereka memperkaya diri sendiri  meskipun dengan jalan yang haram dan merugikan banyak orang. Terutama para pejabat yang mempunyai kesempatan untuk korupsi akan menggarong uang rakyat untuk memenuhi ambisinya di dunia.

Jalan satu-satunya untuk memberantas korupsi adalah mengganti sistem yang rusak ini dengan sistem khilafah yang akan menjamin diterapkan syariat Allah. Hukum tegas pada para koruptor dan melindungi rakyat yang terdzalimi. Perlahan tapi pasti pemahaman kapitalisme dan sekularisme akan tercerabut dari pemahaman umat karena Islam diterapkan secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Banyak pemimpin lebih amanah karena kesadaran hubungan mereka dengan Allah akan menjadi benteng kuat dari keinginan untuk korupsi. Para pemimpin akan lebih perduli terhadap rakyatnya karena itulah tujuan mereka dalam berpolitik untuk mengurusi urusan rakyat. Mereka akan ikhlas menjalankan tugas dan kewajiban mereka bahkan yang tidak ikhlaspun akan dipaksa untuk ikhlas dalam sistem khilafah.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here