Lucinta Luna (Transgender) dalam Pandangan Islam - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, February 14, 2020

Lucinta Luna (Transgender) dalam Pandangan Islam



Muhammad Arifin
(Direktur Tabayun Center dan Pengasuh Al Andalusia Batu)

            Isu transgender kembali mencuat setelah Lucinta Luna menjadi buah bibir dunia entertainment Indonesia belakangan ini. Artis ini dikabarkan telah melakukan operasi plastik dan telah sepenuhnya menjadi perempuan. Kehebohan mencuat karena Lucinta tidak mengakui bahwa ia transgender. Ia tak juga mengklarifikasi tuduhan publik, sehingga segala sepak terjangnya masih ramai dibicarakan.

            Belum reda isu itu, Lucinta Luna kembali menjadi bahan perbincangan usai ditangkap terkait dugaan penyalahgunaan narkoba, hari ini, Selasa (11/2/2020), artikel terkait bisa dibaca di Kompas.com. Soal artis transgender, sebenarnya Indonesia memiliki beberapa, ada yang sudah tenar dan dengan bangganya berbicara di publik, ada yang malu malu. Di kalangan rakyak biasa lebih banyak lagi.

            Mengutip Tribunnews.com terdapat ratusan bahkan jutaan waria yang ada di Indonesia. Seperti yang diungkapkan Yulianus Rettoblaut selaku Ketua Forum Waria Indonesia. Pada survey 2008, di Indonesia terdapat sekitar 7 juta kaum waria.

            Penulis jadi teringat beberapa peristiwa yang haru juga bikin sedih, pertama, ketika penulis jadi pemateri Seminar Seks di salah satu kota di Jatim, waktu itu duet dengan seorang dokter. Ada seorang siswi, peserta seminar konsultasi dan bertanya dengan santai dan tanpa malu. Dia bercerita,” Pak Ustaadz, Bu dokter, Saya ini sangat tertarik dengan wanita yang kekar, sebaliknya setiap bertemu dengan pria, saya sangat jijik dan mau marah, bagaimana menurut Pak Ustadz dan Bu Dokter?

            Peristiwa yang kedua, seorang pendidik curhat kepada penulis ketika jadi narasumber di slah satu sekolah, salah satu siswinya ingin menikah dengan pelatih ekskul di sekolahnya, yang bikin garuk garuk kepala dan istighfar, pelatihnya ini perempuan.

            Ya, fenomena seperti di atas seperti gunung es dalam samudra, hal ini akan semakin subur dan akan menjadi sampah maasyarakat dalam sistem sekuler kapitalis saat ini, dengan mengatasnamakan kebebasan berprilaku. Maka para waria, transgender, bencong, kaum homo, lesby, dilindungi dan diberik hak hidup.


Waria (Khuntsa) dalam Tinjauan Islam

Khuntsa adalah istilah yang digunakan oleh para fuqaha' untuk menyebut orang yang mempunyai alat kelamin ganda, yang dalam bahasa Inggris disebut hermaphrodite, bisexual, androgyne, gynandromorph dan inter-ex (al-Ba'albakki, al-Maurid, bab Khuntsa). Dalam Mu'jam Lughat al-Fuqaha', karya Prof. Dr. Rawwas Qal'ah Jie, disebutkan bahwa Khuntsa adalah al-ladzi lahu alat ad-dzakari wa alat al-untsa (orang yang mempunyai kelamin pria dan wanita) (Qal'ah Jie, Mu'jam Lughat al-Fuqaha', h. 179).

Karena itu, khuntsa ini merupakan qadha' (ketetapan) yang diberikan oleh Allah yang tidak bisa dipilih oleh manusia. Kondisi ini berbeda dengan waria. Umumnya waria adalah kaum pria yang menyerupai wa-nita, baik dalam hal tutur kata, pakaian, gaya berjalan hingga penampilan fisik. Di antara mere-ka, bahkan ada yang telah mela-kukan operasi plastik untuk men-dapatkan wajah yang mirip dengan perempuan; buah dada yang besar sebagaimana lazim-nya perempuan; pinggul yang aduhai hingga operasi ganti kelamin. Kelamin mereka yang asalnya laki-laki dipotong, kemu-dian diganti menjadi perem-puan.

Fakta waria seperti ini jelas berbeda dengan khuntsa, karena itu dalam fikih Islam pun mereka tidak bisa dihukumi sebagai khuntsa. Karena fakta masing-masing jelas berbeda. Jika khun-tsa ini merupakan bagian dari qadha' yang ditetapkan oleh Allah, maka waria adalah bentuk penyimpangan perilaku. Pe-nyimpangan perilaku ini bukan hanya berlaku untuk kaum pria yang menjadi wanita, tetapi juga berlaku sebaliknya, yaitu kaum wanita menjadi pria. Karena itu, status hukumnya juga berbeda dengan hukum khuntsa.

Demikian juga dalam kasus gay dan lesbi. Mereka sebenar-nya bukan ditakdirkan suka ke-pada sesama jenis, karena naluri seksual manusia pada dasarnya bukan hanya membutuhkan pe-menuhan, tetapi pemenuhan tersebut harus benar dan halal. Bagi laki-laki, pemenuhan yang benar tentu bukan dengan laki-laki tetapi dengan perempuan. Demikian sebaliknya, perempu-an juga bukan dengan perem-puan tetapi dengan laki-laki. Itu baru pemenuhan yang benar. Jika tidak, maka mereka diang-gap melakukan penyimpangan seksual (hall[an] syadz[an]). Tetapi, pemenuhan kebutuhan seksual laki-laki dengan perem-puan saja tidak cukup, harus dilakukan dengan cara yang halal, yaitu melalui pernikahan (hall[an] shahih[an]). Bukan dengan perzinaan (hall[an] khathi'[an]). 
Sanksi
Hukum Islam bukan hanya memberantas penyimpangan perilaku dan seksual, tetapi juga mencegah agar penyimpangan tersebut tidak terjadi dan ber-kembang. Untuk mencegah ter-jadinya penyimpangan perilaku, laki-laki menyerupai wanita dan wanita menyerupai laki-laki, maka Islam melarang baik pria maupun wanita mengenakan pakaian lawan jenisnya. Pria tidak diperbolehkan memakai baju perempuan dan perempuan tidak diperbolehkan memakai baju laki-laki. Juga tidak diper-bolehkan memakai sandal, ber-dandan dan bergaya seperti lawan jenisnya.

Jika ada yang melakukan penyimpangan perilaku terse-but, maka dengan tegas Islam memerintahkan mereka untuk diusir dari rumah dan negerinya, sebagaimana yang dilakukan Nabi dengan mengusirnya ke kawasan bernama an-Naqi'. Abu Bakar juga membuang satu orang, begitu juga 'Umar bin al-Khatthab melakukan hal yang sama. Ketika Nabi ditanya oleh 'Umar, mengapa mereka tidak dibunuh, baginda menjawab, ”Aku dilarang membunuh orang yang masih shalat.” (as-Syaukani, Nailu al-Authar, II/107).

Demikian halnya terhadap penyimpangan seksual, Islam bukan hanya melarang tetapi juga mencegah agar penyim-pangan tersebut tidak dilakukan. Islam melarang orang dewasa bermain dengan anak-anak dan menyodominya, disertai dengan larangan menikahi ibu anak ter-sebut. Islam juga melarang suami menyetubuhi dubur istrinya. Larangan ini untuk mencegah penyimpangan kepada sesama jenis yang lebih parah.

Jika penyimpangan seksual tersebut dilakukan maka sanksi untuk mereka pun sangat keras. Mereka wajib dibunuh, sebagian ulama ada yang menyatakan dirajam; ada yang menyatakan dijatuhkan dari atas bangunan yang tinggi hingga mati. Sanksi ini bukan hanya berlaku untuk pelaku, tetapi orang yang diso-domi juga dikenai sanksi yang sama. Kecuali, bagi yang dipaksa untuk disodomi.

Selain hukuman yang ke-ras, Islam juga mengharamkan tayangan atau apa saja yang bisa mempromosikan penyimpang-an di atas, baik dalam bentuk fes-tival film, kontes waria maupun yang lain. Karena semuanya ini bisa mempromosikan dan me-nyuburkan penyimpangan yang diharamkan Islam. Bahkan kalau ada kedutaan atau atase kebuda-yaan negara penjajah, seperti Perancis, mensponsori kegiatan tersebut, maka bukan hanya wajib dilarang dan dihentikan, tetapi bisa ditutup dan diusir dari negeri kaum Muslim.

Tindakan Hukum dan HAM

Terhadap pelaku penyim-pangan seksual, seperti gay, lesbi, dan sejenisnya, juga ter-hadap pelaku penyimpangan perilaku, seperti waria atau seje-nisnya, tindakan hukum dalam Islam sangat keras dan tegas. Tindakan hukum seperti itu harus dilakukan karena sesung-guhnya mereka jelas-jelas telah melakukan penyimpangan peri-laku dan seksual. Penyimpangan perilaku dan seksual ini tidak bisa dianggap sebagai hak asasi manusia. Dengan berlindung di balik HAM, tidak boleh penyim-pangan seperti ini dipelihara, karena justru penyimpangan seperti ini merusak kehidupan dan generasi umat manusia, termasuk diri pelakunya sendiri.

Alasan dan dalil-dalil HAM tidak diakui di dalam Islam dan sama sekali tidak ada nilainya. Justru alasan dan dalil-dalil seperti ini harus dibuang jauh-jauh dari kehidupan umat Islam. Karena jelas bertentangan de-ngan argumen dan dalil-dalil syariah. Selain itu, harus disadari bahwa penggunaan alasan dan dalil HAM ini hanyalah justifikasi untuk memelihara penyimpang-an yang jelas dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya ini. Karena itu,sudah saatnya kita kembali kepada Islam dan menerapkan Islam secara kaffah. Wallahu a'lam.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here