Mau Dibawa Kemana Pancasila oleh Rezim yang Sedang Berkuasa? - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, February 17, 2020

Mau Dibawa Kemana Pancasila oleh Rezim yang Sedang Berkuasa?

Oleh: Mochamad Efendi

Pancasila mau dibawa kemana oleh rezim yang sedang berkuasa saat ini. Sebuah pernyataan yang kontroversi keluar dari mulut ketua BPIP bahwa agama adalah musuh pancasila. Bagaimana bisa pernyataan itu keluar dari pembina ideologi pancasila. Benarkah pancasila memusuhi agama? Jika demikian apa bedanya  dengan ideologi yang menganggap agama sebagai candu, sesuatu yang berbahaya sehingga harus ditinggalkan saat menjalani kehidupan. Walaupun klarifikasi dilakukan, agama masih dianggap sebagai musuh pancasila meskipun dengan mencoba menyalahkan orang-orang yang berfikir ekstrem dalam beragama.

Menurut Yudian, musuh Pancasila adalah perilaku orang-orang berpikiran ekstrim yang mempolitisasi agama dan menganggap dirinya mayoritas. “Agama direduksi hanya pada poin kecil yang mereka mau, menutup yang lain. Nah, kelompok ini pada kenyataannya di masyarakat minoritas, tapi mereka mengklaim mayoritas," kata Yudian kepada Tempo pada Kamis, 13 Februari 2020. (https://nasional-tempo-co.cdn.ampproject.org/v/s/nasional.tempo.co/amp/1307378/kepala-bpip-jawab-polemik-pancasila-dan-agama?)

Apakah orang-orang yang berfikir ekstrem yang dimaksud adalah orang yang militan dalam beragama atau berislam secara kaffah. Ataukah mereka yang memperjuangkan khilafah dan ajaran Islam lainnya yang sengaja dihilangkan oleh rezim yang sedang berkuasa. Siapa yang mempolitisasi dan mereduksi agama? Harusnya agama disampaikan apa adanya, bukan di manipulasi dan dihilangkan ketika dirasa tidak sesuai dengan kepentingan politiknya. Oleh sebab itu, konstitusi yang berlaku di negeri ini tidak boleh bertentangan dengan ajaran Islam yang lurus dan mulia.

Faktanya, banyak orang yang menganggap paling memahami pancasila terpapar virus liberalisme dan sekularisme yang meninggalkan aturan agama dalam kehidupan. Mereka sering memusuhi agama yang lurus. Ajaran Islam dimonsterisasi, yang bangga dengan simbol pemersatu umat Islam diinvestigasi, sementara langkah pengemban dakwah dihalangi dan dipersekusi, yang menyeru pada ajaran Islam kaffah, jihad dan khilafah dituduh terpapar radikalisme. Yang lebih ngawur lagi anak kelas 5 SD dan PAUD dituduh terpapar radikalisme hanya karena mereka bangga menunjukkan identitas mereka sebagai muslim sejati dengan menerapkan ajaran Islam dalam sistem pergaulan mereka. Jika melihat fakta yang ada terlihat jelas apa yang disampaikan oleh ketua BPIP mewakili wajah asli rezim yang sedang berkuasa. Pancasila dibawa pada penafsiran sebagai ideologi komunis yang memusuhi agama dalam berpolitik.

Terlebih pernyataannya yang kedua yang tidak kalah kontroversi bahwa konstitusi diatas kitab suci. Dan memang itulah fakta dari demokrasi yang menempatkan hukum kufur kesepakatan manusia diatas hukum Allah dalam kehidupan. Demokrasi telah menyuburkan sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan.

“Saya mengimbau kepada orang Islam, mulai bergeser dari kitab suci ke konstitusi kalau dalam berbangsa dan bernegara. Sama, semua agama. Jadi kalau bahasa hari ini, konstitusi di atas kitab suci. Itu fakta sosial politik,” kata Yudian saat ditemui Tempo di Kantor BPIP, Jakarta, Kamis, 13 Februari 2020.  (https://nasional-tempo-co.cdn.ampproject.org/v/s/nasional.tempo.co/amp/1307415/kepala-bpip-dalam-berbangsa-geser-kitab-suci-ke-konstitusi)

Faktanya banyak kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan Islam. Pilar perekonomian negeri yang dibangun diatas utang luar negeri yang berbasis riba jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Belum lagi aset negara yang harusnya milik umat dikuasai asing-aseng dengan dalil investasi. Negera lebih berperan sebagai corporation dari pada institusi yang mengurusi rakyatnya, sehingga banyak kebijakan yang menyengsarakan rakyat karena ingin menyelamatkan pengusaha. Negeri ini sudah mengambil kapitalisme sebagai ideologi dalam berekonomi, namun mengatasnamakan pancasila.

Pancasila dibawa kemana saja tergantung rezim yang sedang berkuasa. Pemahaman rezim yang berkuasa akan membawa pancasila sesuai keinginan dan kepentingan politiknya.  Dari mulut-mulut mereka dan kebijakan yang dihasilkan penguasa akan nampak ideologi yang diterapkan pada negeri ini. Pancasila hanya label saja. Apakah isinya sesuai dengan labelnya?  Banyak rakyat tertipu, karena moyoritas rakyat tidak tahu diatur sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan mereka.

Penerapan Islam secara kaffah tidak mungkin dalam sistem demokrasi. Keduanya secara prinsip berbeda. Demokrasi kedaulatan di tangan rakyat, sehingga hukum dibuat rakyat melalui wakil-wakilnya. Wakilnya sering berkhianat karena faktanya wakil rakyat dan para pemimpin dalam sistem demokrasi bukan bekerja untuk rakyat tapi petugas partai dan sering membela pengusaha dengan mengorbankan rakyatnya agar bisa mempertahankan kekuasaan sebagai tujuan politiknya.

Berbeda dengan sistem Islam bahwa kedaulatan ditangan syara'. Hukum Allah yang pasti baik untuk umat manusia diterapkan dalam kehidupan karena hukum dibuat Tuhan yang menciptkan manusia pasti terbaik dan adil. Kesejahteraan dan keamanan untuk rakyat dijamin oleh negara karena tujuan berpolitik dalam Islam adalah mengurusi urusan rakyat. Kehidupan Islami yang kita cita-citakan akan kembali dan menghancurkan kesesatan dan kemaksiatan sementara kebenaran Islam akan semakin menjulang tinggi dan bersinar terang.

Sungguh Islam jangan dibungkus dengan demokrasi, karena label demokrasi hanya mengotori Islam yang mulia.  Perlahan rakyat akan menyadari jika mereka sudah ditumbalkan untuk kekuasaan. Mereka akan semakin sadar dan menginginkan diatur dengan Islam yang akan menjamin kebutuhan dasar rakyatnya. Rakyat menjadi skala prioritas setiap kebijakan yang diambil agar rakyat merasakan keamanan dan kesejahteraan.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here