MEMAHAMI KHILAFAH DENGAN RAMAH, BUKAN DENGAN MARAH - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, February 29, 2020

MEMAHAMI KHILAFAH DENGAN RAMAH, BUKAN DENGAN MARAH

Aminudin S
LANSKAP

Khilafah. Mungkin istilah yang lebih diatakuti oleh sebagian kalangan hari-hari ini, bahkan bisa jadi lebih menakutkan daripada wabah virus corona yang nyata mematikan itu. Selain sedemikian ditakuti rupanya Khilafah juga menjadi trending topic yang asyik untuk didiskusikan di dunia nyata maupun maya. Rupanya khilafah pun menjadi opsi seksi untuk dijadikan kambing hitam atas segala hiruk pikuk dinamika politik di negeri ini, sampai-sampai ormas resmi sekaliber HTI di-"bubarpaksa"-kan dengan akrobat legislasi yang cenderung dipaksakan.

Mutakhir, dalam pembukaan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VII tempo hari Khilafah kembali menjadi topik "sentral". Tak kurang wapres maupun Ahmad Ishomudin dari PBNU kembali "menembakkan" isu Khilafah sebagai ancaman mematikan. Tak pelak justru hal tersebut lagi-lagi menjadi kontroversi yang menimbulkan gaduh di tengah-tengah publik.

Memang agak mengherankan mengapa Khilafah seolah menjadi begitu bermasalah. Padahal jika sedikit mau lebih tenang, lebih obyektif dan lebih ramah lagi maka tak sulit untuk melihat isu Khilafah ini dengan lebih jernih. Karena numenklatur Khilafah telah ada sejak zaman Rasulullah SAW masih hadir di tengah umat dan berlanjut pada masa-masa kekuasaan Islam selanjutnya. Bahkan sejarah negeri ini pun sudah begitu lekat dan erat dengan eksistensi Khilafah (Ustmaniyah) dari abad ke abad.

Lebih mendalam lagi, perlu dicermati bahwa dengan dijadikannya Khilafah sebagai salah satu pembahasan dalam khazanah Islam, baik sebagai bagian dari tarikh (sejarah) Islam maupun bab fiqih siyasah (politik) Islam, semestinya bisa dipahami dengan mudah bahwa memang Khilafah adalah unsur tak terpisahkan dari Islam. Ringkasnya, khilafah sebagai ajaran Islam tak pernah kehilangan relevansinya terhadap realita baik secara historis empiris maupun secara sosial ilmiah. Khilafah adalah fakta bukan mitos khayali.

Justru yang sangat bisa diindera adalah menyengatnya aroma propaganda negatif maupun stigma-stigma absurd untuk menegasikan konsep Khilafah oleh kubu rezim berkuasa. Maka di sinilah sebetulnya kita bisa menganalisa atau minimal menduga mengapa rezim begitu rupa memusuhi dan mengalienasi Khilafah.

Notabene kita bisa memahami bahwa rezim hari ini lahir dari rahim demokrasi yang sekularistik dan liberal. Otomatis pula rezim ini menjalankan misi dan agenda demokrasi di bawah kendali serta hegemoni kapitalisme global. Maka ketika rezim demokratik menjadikan Khilafah sebagai musuh vis a vis, artinya ada sesuatu yang secara substansial, prinsip maupun praktis dari konsep Khilafah yang bertentangan dengan demokrasi. Jadi rasionalnya, karena demokrasi adalah sebuah konsep sistem pemerintahan itu berarti Khilafah pun harus dipandang dan didudukkan sebagai sebuah konsep sistem pemerintahan.

Baru kemudian bisa dikomparasikan secara fair, apple to apple, antara demokrasi versus khilafah. Dengan perspektif itu baru kemudian bisa digali dan dibangun pandangan yang utuh atas keduanya untuk kemudian bisa disepakati mana yang lebih absah, ilmiah dan sahih sebagai sebuah sistem pemerintahan yang seharusnya diadopsi. Apalagi secara eksistensi konsep Khilafah pernah diterapkan sebagaimana demokrasi yang masih eksis dengan dinamika pencapaiannya masing-masing.

Inilah yang dimaksud judul di atas, yaitu memperlakukan Khilafah dengan ramah. Bukan dengan cara arogan, apalagi otoriter melalui berbagai persekusi maupun kriminalisasi. Sikap sok gertak tidak ramah ala rezim demokrasi jangan-jangan justru semakin menunjukkan bahwa demokrasi adalah sistem yang lebih lemah dibanding Khilafah?

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here