Mengambil Teladan dari Sahabat Utsman bin Affan Ra. - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, February 10, 2020

Mengambil Teladan dari Sahabat Utsman bin Affan Ra.


Kecintaan  dan  ketaatan Utsman bin Affan Ra kepada Allah dan Rasul-Nya tidak hanya dalam kata-kata, tetapi juga terbukti dalam perbuatannya. Di berbagai kesempatan penting, termasuk dalam beberapa  peperangan, Utsman bin Affan Ra ikut  bersama Rasulullah Saw dan kaum muslimin dalam membela Islam. Bahkan  tidak jarang Utsman bin Affan Ra. Menyedekahkan harta bendanya untuk keperluan jihad  kaum muslimin dalam menegakkan agama Allah SWT.

Sobat. Utsman bin Affan Ra  merupakan  pribadi  yang pemalu, dermawan, senantiasa berkata jujur, dan selalu menjaga lisannya.  Abdullah bin Umar berkata : “ Tiga orang dari suku Quraisy  yang memiliki wajah paling tampan, akhlak paling bagus, paling pemalu, jika berbicara tidak berbohong, dan jika engkau bicara  maka mereka tidak mendustakanmu, ialah Abu Bakar, Utsman bin Affan, dan Abu Ubaidah bin al-jarrah.”

Sobat.  Utsman bin ‘Affan radhiallahu’anhu merupakan salah satu dari empat khulafa’ rasyidin tersebut. Berbagai sifat terpuji membuat semua orang tidak ragu memberikannya tampuk kepemimpinan setelah sepeninggalan khalifah kedua, ‘Umar bin Al-Khattab radhiallahu’anhu.
Sobat.  ‘Utsman merupakan satu dari sekian banyak lulusan terbaik dari madrasah Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. Darinya lah kepribadian ‘Utsman yang tangguh itu terbentuk. Berbagai keilmuan beliau serap dari sang nabi terakhir itu. Sebuah berkah dari kebersamaannya bersama Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam, baik ketika masih di Madinah maupun ketika sudah berhijrah ke Makkah.
Satu contoh kongkrit bagaimana ‘Utsman menerima pengajaran dari madrasah kenabian itu ialah kealimannya tentang Al-Quran. Darinya, beliau meriwayatkan sebuah hadits masyhur yang selalu dijadikan sebagai syiar ahli Quran, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya”.
Tentang bagaimana ‘Utsman beserta shahabat lain mempelajari Al-Quran dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, maka mari kita dengarkan penuturan Abu ‘Abdurrahman As-Sulami. Beliau bercerita, “Orang-orang yang mengajari kami Al-Quran –seperti ‘Utsman bin ‘Affan, ‘Abdullah bin Mas’ud, dan lainnya- menceritakan, bahwa jika mereka belajar sepuluh ayat dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, maka mereka tidak akan melampaunya sampai mereka mempelajari ilmu dan amal yang terkandung di dalamnya. Mereka berkata, ‘Jadi kami mempelajari Al-Quran, ilmu, dan amalnya sekaligus”.
Sebelum wafatnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, ‘Utsman sempat menyetorkan hafalan Al-Quran dari awal hingga akhir kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Diceritakan bahwa ‘Utsman radhiallahu’anhu mengkhatamkan Al-Quran dalam satu rekaat, yaitu rekaat witir. Dan ini merupakan salah satu kebiasaanya.
Dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah (VII/215), Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Hal seperti ini telah diriwayatkan dari selain jalur ini, bahwa beliau shalat satu rekaat dengan Al-Quran di sisi Hajar Aswad, di waktu haji. Ini merupakan salah satu kebiasaannya. Semoga Allah meridhainya”.
‘Utsman pernah berkata, “Dari dunia ini aku diberi kecintaan pada tiga hal, yaitu memberikan kekenyangan pada orang-orang yang kelaparan, memberikan pakaian pada orang-orang yang tidak punya pakaian, dan membaca Al-Quran”.
Sobat. Utsman bin Affan Ra. Adalah sosok ideal  bagi orang kaya yang dermawan. Banyak kisah kedermawanan beliau membantu dakwah  dan  menegakkan agama Allah SWT. Misalnya ketika masjid Nabawi yang dibangun oleh Rasulullah Saw sudah tidak mencukupi untuk menampung jamaah karena semakin banyaknya orang yang masuk Islam. Maka Rasulullah SAW menyampaikan keinginan untuk perluasan masjid  kepada kaum muslimin bahwa siapa saja  yang membeli tanah tersebut lalu menambahkannya ke masjid akan memperoleh kebaikan dari tanah di surge. Lantas, Utsman bin Affan Ra. Pun segera membeli tanah tersebut seharga 25.000 dinar.

Sobat.  Dalam masa kepemimpinannya, ‘Utsman menjadikan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sebagai pijakan kemudian apa saja yang telah digariskan dan diwariskan oleh dua khalifah pendahulunya, Abu Bakar dan ‘Umar. Ini pulalah yang telah diisyaratkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sebagaimana yang diketengahkan At-Tirmidzi dan dinilai shahih oleh Al-Albani, “Ikutilah dua orang sepeninggalanku,” seraya menunjuk Abu Bakar dan ‘Umar.

Dalam riwayat lain, sebagaimana yang dinukil As-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa’ hlm. 163 yang dinukilnya dari Thabaqat Ibnu Sa’d, selain menanyakan harga-harga di pasaran, ‘Utsman juga menanyakan tentang orang-orang yang tengah tergeletak sakit.
Dalam Hilyah Al-Auliya (I/61), tersebut bahwa Abu Masyja’ah menuturkan, “Kami pernah mengunjungi orang sakit bersama ‘Utsman. Ia pun berkata pada orang yang sakit itu, ‘Ucapkanlah la ilaha illallah.’ Maka orang yang sakit itu mengucapkannya. Utsman berkata, ‘Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya dia telah melemparkan seluruh kesalahannya denga kalimat itu sehingga kesalahan-kesalahannya itupun hancur lebur.’
Aku bertanya, ‘Adakah sesuatu yang engkau katakan? Atau engkau pernah mendengarnya dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam?’
Utsman menjawab, ‘Bahkan aku telah mendengarnya dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, hal semacam ini keutamaan untuk orang yang sakit, lalu bagaimana untuk orang yang sehat?’ Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab, ‘Untuk orang yang sehat lebih bisa lagi meleburkan kesalahan.’”.
Jika ditelusuri lebih dekat lagi bagaimana perhatian besar Utsman terhadap rakyat yang dipimpinnya, tentu akan lebih sangat menakjubkan. Sebuah sikap yang patut diteladani setiap orang yang bertindak memimpin suatu negeri. Perhatiannya itu beliau tunjukkan dalam banyak kesempatan. Baik melalui surat-surat yang sampai padanya maupun dengan cara bertanya langsung kepada tamu-tamu Allah di musim haji. Selain itu beliau juga kerap menghubungi kepala-kepada daerah yang ditugaskannya untuk menanyakan keadaan rakyatnya.
Walaupun mungkin dalam setiap urusan masyarakat ada orang-orang tertentu yang sudah ditunjuk kepala negara sebagai penanggungjawab, namun hal tersebut sebaiknya tidak menghalangi seorang pemimpin negara mencari tahu sendiri aktifitas yang tengah berlangsung. Tidak seperti sebagian pemimpin hanya karena sudah menugaskan orang tertentu sebagai penanggungjawab lalu jika ditanya tentang hal tersebut dengan mudah menjawab, “Bukan urusan saya”. Sebuah ungkapan ‘jitu’ untuk lari dari tanggungjawab besar seorang pemimpin negara.
Hal rendah seperti ini tidak terjadi pada diri ‘Utsman bin ‘Affan Shallallahu’alaihi Wasallam saat dirinya menjabat sebagai kepala negara. Beliau bahkan dengan sendiri mencari tahu harga-harga barang di pasaran. Musa bin Thalhah bin ‘Ubaidullah menceritakan, “Aku melihat ‘Utsman bin ‘Affan beserta seorang penyeru. Beliau mengajak orang-orang berbicara dan bertanya dan mencari tahu dari mereka tentang harga-harga dan berita-berita.”
Dalam kesempatan itulah ‘Utsman mencari tahu tentang kebutuhan apa sajakah yang masih kurang di tengah rakyat yang dipimpinnya. Maka jika ia mengetahui tentang kebutuhan yang diperlukan rakyat, ia akan segera memenuhi kubutahan tersebut. Salah satu yang sering ia lakukan adalah memberikan biaya orang yang tengah melahirkan beserta nafkah untuk bayinya yang diambilnya dari baitul maal.
Ibnu Qutaibah dalam Al-Mushannaf fi Al-Hadits (III/1023) melaporkan dari ‘Urwah bin Az-Zubair, ia menuturkan, “Aku telah menjumpai zaman kepemimpinan ‘Utsman. Tidak ada jiwa muslim pun kecuali memiliki hak dari baitul maal”.
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah (X/386) menceritakan bahwa suatu saat ‘Utsman merasa kehilangan wanita yang biasa membantunya. Beliau diberi tahu bahwa ternyata wanita tersebut tengah melahirkan bayi. Maka beliaupun mengirimkan 50 dirham dan kain dari Sunbulani. Utsman berkata, “Pemberian dan pakaian ini untuk anakmu. Apabila dia sudah berusia setahun, kami akan menambahnya menjadi 100”.
Sobat. Utsman bin Affan Ra.  Merupakan salah satu ahli ibadah yang memiliki kekhusyukan, tekun dalam beribadah  dan ketakwaan tinggi. Nilai-nilai Al-Quran  selalu menyertai keseharian beliau. Beliau pernah berkata, “ Tidak  ada yang aku sukai setiap kali datang hari baru kecuali menatap kitabullah.”

Sobat. Bimbing anak-anak kita  agar taat  kepada  Allah SWT  dan Rasulullah Saw  serta menjalankan  segala perintah agama. Tanamkan pada diri anak  bahwa  bila ingin  sukses  dan bahagia, maka kuncinya ialah taat kepada Allah SWT. Serta menjalankan segala perintah-Nya. Ajarkan kepada  anak kit acara  menjadi orang sholeh  sebagaimana Utsman bin Affan Ra  menjalani hidup dan beribadah.

( Spiritual Motivator – DR.N.Faqih Syarif H, M.Si.  Penulis buku-buku motivasi dan pengembangan diri. Sekretaris Komnas Pendidikan Jawa Timur. Majelis Kyai PP Al-Ihsan Baron Nganjuk. Dewan Pembina PP Al-Amri Leces Probolinggo )

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here