Merindukan Kiprah Para Ulama Yang Berdiri Kokoh Di Depan Para Penguasa Zalimñ - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Sunday, February 16, 2020

Merindukan Kiprah Para Ulama Yang Berdiri Kokoh Di Depan Para Penguasa Zalimñ


Hadi Sasongko (Direktur POROS)

Dalam sejarah Islam, para ulama telah menorehkan keagungan dan kemuliaan dengan kedudukan mereka berjalan seirama dengan para penguasa yang adil, dan mengoreksi penguada yang zalim. Serta perhatian para ulama yang besar terhadap permasalahan umat. Mereka senantiasa melakukan kontrol (muhasabah) terhadap para penguasa sebagai pelaksana hukum syariah Islam dan mengawal mereka untuk hanya menerapkan Islam saja serta mengkritik sebagian mereka yang loyal kepada musuh-musuh Islam.

Mereka melakukan perannya tersebut dengan penuh kejujuran dan keikhlasan untuk Allah dan agama-Nya semata. Mereka laksana bintang-bintang yang menerangi para penguasa dan rakyatnya dalam gelapnya kehidupan. Para ulama pada zaman itu telah menampakkan kemuliaan Islam dan membangun hakikat syariah Islam yang bersih, murni dan jernih pada posisinya yang kokoh di hadapan para penguasa yang menyimpang bahkan di hadapan para penjahat sekalipun.

Dalam menyelesaikan urusan-urusan negara, para ulama berupaya menundukkan para pemimpin, kekuasaan dan rakyatnya pada syariah. Mereka bersabar dan tetap berani menyampaikan kalimat haq di hadapan para penguasa yang lalim tanpa mempedulikan kekuasaan, kekuatan dan besarnya bala tentara yang dimiliki para penguasa. Merekalah sesungguhnya para pemegang panji-panji syariah yang hakiki. Para penguasa lalim yang berpaling dari Islam tidak pernah bisa memanfaatkan mereka untuk mewujudkan keinginan hawa nafsu mereka. Diantara kiprah ulama terdahulu kami paparkan sebagai berikut:

 Pertama: Saat terpisahnya Andalusia dari Kekhilafahan 'Abbasyiah. Ulama memiliki peran penting pada saat Abdurrahman ad-Dakhil mengumumkan terpisahnya Andalusia dari Khilafah 'Abbasiyah. Peran penting itu adalah dalam mejelaskan bahwa pemisahan Andalus dari Khilafah 'Abbasiyah hukumnya adalah haram. Perkara ini mendorong pengiriman pasukan oleh Khalifah ke Andalus untuk menyatukannya kembali ke tubuh Khilafah dengan memerangi 'Abdurrahman ad-Dakhil dan para pendukungnya meski usaha ini gagal.

Kedua: Saat menggabungkan Mesir dan Syam ke dalam tubuh Khilafah Abasiyah. Saat Shalahudin al-Ayubi menjadi amir di Mesir dan Syam yang merupakan bagian dari Khilafah Fathimiyah yang kafir, para ulama menjelaskan bahwa Mesir dan Syam merupakan bagian dari Khilafah Islamiyah Abasiyah. Inilah yang mendorong Shalahudin memerangi Daulah Fathimiyah serta mengembalikan Mesir dan Syam ke tubuh Khilafah Abasiyah.

Ketiga: Saat menggabungkan Maghrib dan Andalusia ke dalam tubuh Khilafah Islamiyah Abasiyah. Yusuf Ibnu Tasyifin telah mampu menyatukan wilayah Maghrib yang telah terpisah dari Abasiyah beberapa kurun. Karena kesungguhan, kezuhudan dan ketakwaan serta pengaruhnya, para ulama dan fuqaha maghrib yang jujur mengutus Yusuf Ibnu Tasyifin untuk menghadap Khalifah Abasiyah Al-Muqtadha bi Amrillah. Kemudian ia menyampaikan perihal bergabungnya Maghribi dengan Kekhilafahan Abasiyah pada tahun 379 H. Beliau lalu meminta Khalifah untuk menggabungkan Maghrib ke wilayah kekuasaannya.

Saat Yusuf bin Tasyifin berhasil menaklukan Spanyol dan memerangi raja mereka al-Fonso VI hingga menyerah, beliau lalu mencopot raja-raja kecil di wilayah tersebut untuk menggabungkan Andalus dan Maghrib ke dalam tubuh Khilafah Islamiyah Abasiyah.

Keempat: Saat kejatuhan Khilafah Abasiyah. Kejatuhan Khilafah Islamiyah Abasiyah sangat mengguncang kaum Muslim. Di sinilah peran para ulama yang mukhlis tampak. Mereka menjelaskan hukum syariah berkenaan apa yang wajib dilakukan oleh kaum Muslim pada saat seperti itu.

Seorang ulama besar, Izzuddin Ibnu Abdissalam memiliki peran besar dalam meyakinkan kaum Muslim untuk mengembalikan kewibawaan Khilafah dan berhasil.

Kelima: Saat memerangi pasukan Tatar. Ulama besar Syaikh Ibnu Taimiyah berperan sangat istimewa dalam memotivasi dan menggerakkan tentara di bawah kepemimpinan Birbis yang berhasil mengalahkan Tatar satu tahun setengah setelah runtuhnya Khilafah.

Keenam: Saat pembebasan Konstantinopel. Para ulama berperan besar dalam menggerakkan kaum Muslim untuk membebaskan Konstantinopel dengan bersandar pada hadis Rasulullah saw. yang menjelaskan tentang kedudukan orang yang berhasil membebaskannya. Al-Alim al-Kabir Aaq Syamsudin (Muhammad Hamzah) adalah pembebas konstantinopel secara maknawi. Sebab, beliau adalah guru dari Muhammad al-Fatih sang pembebas Konstantinopel. Beliau pernah berkata kepada al-Fatih saat memberikan pelajaran sebelum beliau menjadi kepala Negara Utsmaniyah, "Engkau adalah pembebas Konstantinopel!" Al-Fatih pun menjadi yakin bahwa beliaulah yang akan berhasil membebaskan konstantinopel, dan hal itu terealisasi pada tahun 1453 H.

Ketujuh: Saat memproklamirkan berdirinya Khilafah Islamiyah setelah jatuhnya Khilafah Abasiyah. selama lebih dari dua kurun pada masa para raja (Bani Mamalik-Moghul-Daulah Utsmaniyah) kaum Muslim tidak memiliki Khilafah kecuali hanya sebutan saja karena kecintaan kaum Muslim terhadap agama mereka dan kedudukan Khilafah dalam hati mereka.

Setelah Sultan Salim I berhasil membebaskan Mesir dan Syam, tampaklah peran ulama dalam upaya menyatukan kaum Muslim dan membaiat satu khalifah saja. Mereka sepakat untuk menurunkan khalifah Abasiy yang hanya sekadar nama dan menyempurnakan baiat bagi satu khalifah secara de facto. Lalu dibaitlah Khalifah Salim I sebagai satu-satunya khalifah bagi kaum Muslim.

Saat itu terbuktilah kelembutan Imam Jalaludin as-Suyuthi yang terus-menerus menyerukan kesatuan kaum Muslim dan mengembalikan Khilafah. Akhirnya, bendera Khilafah berkibar di Mesir, tempat Imam as-Suyuthi wafat setahun sebelum melihat Khilafah yang selalu beliau serukan.

Kedelapan: saat kejatuhan Khilafah Utsmaniyah 1924 M/1432H. Jatuhnya Khilafah Ustmaniyah berpengaruh besar pada jiwa-jiwa kaum Muslim. Para ulama menangis. Seorang alim yang mukhlis serta memiliki kesadaran dan pemahaman yang baik terhadap realita dan hukum syariah, Syaikh Said Biran, lalu memobilisasi ribuan kaum Muslim untuk melakukan perlawanan terhadap penjahat abad ini, yakni Attaturk yang terlaknat. Perlawanan itu berlangsung hingga beberapa bulan hingga beliau bersama pengikutnya ditawan setelah peperangan yang sengit melawan negara sekular Kemalis yang di-back up Eropa dan Inggris sebagai pendukung utamanya.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here