Nilai Kain dalam Peradaban - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, February 17, 2020

Nilai Kain dalam Peradaban


Oleh: Andre Husnari

Alkisah, setelah Adam AS terperdaya oleh Iblis kemudian menelan buah khuldi, maka lepas pakaian surgawi beliau. Perasaan malu yang fitrah sebagai bawaan insani lantas mendorongnya memungut dedaunan untuk menutupi kemaluan.

Orang Islam percaya, manusia pertama yang pandai menjahit pakaian ialah Idris As, keturunan keenam dari Adam As. Hanya saja tidak ada keterangan sahih perihal waktu perutusan yang dapat dikonversikan dengan kalender hijriyah atau masehi. Konsekuensinya tidak bisa ditarik kesimpulan apakah itu terjadi di masa paleolitikum, zaman besi,  atau sudah mendekati zaman sejarah yang diprakarsai oleh bangsa Mesir kurang lebih 6000 tahun SM. Bisa jadi bahan pakaian yang dijahit Idris As masih berupa kulit hewan dan serat tumbuhan.

Hasil interaksi manusia dengan alam, semakin menambah pengetahuan manusia tentang bahan-bahan yang dapat dimanfaatkan guna menunjang kehidupannya. Akumulasi penemuan demi penemuan tersebut secara positif telah membuat perkembangan peradaban makin semarak. Salah satu penemuan berharga yang mempercepat lompatan peradaban manusia yaitu penemuan benang, alat pemintalnya, lalu dalam perkembangan selanjutnya benang itu dirajut, disulam, ditenun hingga menjadi sepotong kain.

Setelah kain ditemukan. Manusia mengolahnya lagi menjadi busana. Mulanya sebatas fungsi dasar menutupi kemaluan, stabilitas suhu tubuh dari kondisi lingkungan (tropis, gurun, stepa, kutub, dsb), melindungi dari gigitan serangga, duri atau miang tumbuhan.

Kemudian naik menjadi multi-fungsi, sebagai identitas etnik dan identitas sosial; tinggi-rendah. Manusia juga mengolah kain menjadi beragam hiasan kepala, disandang di bahu, dikalungkan ke leher, diikatkan di pinggang, bahkan di kaki. Belum lagi kegunaan selain yang dipakai di badan, seperti dalam ritual keagamaan, rumah, dan lainnya. Motif dan corak kain juga berkembang sangat kaya, beraneka-beda di tiap entitas, menyatu dengan kebudayaan mereka.

Di Indonesia saja kita mengenal banyak sentra kerajinan kain tradisional, sekedar mengambil contoh: Kain Sulam dari Pandai Sikek dan Silungkang, Sumatra Barat, Kain Songket dari Sumatra Selatan, Batik dari Pekalongan dan Solo, Jawa Tengah. Kain tradisional dari Lombok, Sumbawa, Flores, apalagi bila dihimpun seluruh dunia.

Pada tiap momentum penting tahapan hidup manusia, kain hadir membersamai, memberikan nilai dan makna. Orang Batak ketika seorang anak baru saja lahir sudah diberi kain Ulos Mangiring. Orang Minang paling di depan soal pakaian 'malagak' dalam acara pernikahan dan Hari Raya. Orang Kristen ketika meninggal mengenakan pakaian lazimnya berupa jas lengkap. Bahkan Orang Toraja secara berkala melakukan ritual Ma'nene, yaitu mengganti busana pada jasad leluhur yang diawetkan dengan busana baru.

Dalam konteks budaya, memang betul, tinggi-rendah suatu kebudayaan tidak bisa dilihat dari aspek penguasaan teknologi belaka. Sebab, kebudayaan memiliki tujuh unsur penting: 1. Bahasa, 2. Sistem pengetahuan, 3. Organisasi sosial, 4. Sistem peralatan hidup dan teknologi, 5. Sistem mata pencaharian hidup, 6. Sistem religi, 7. Kesenian.

Kadang kita jumpai, suatu masyarakat yang sangat sederhana pada unsur peralatan hidup dan teknologi, namun dalam kindship system (sistem kekerabatan) dan organisasi sosialnya justru lebih kompleks. Tetap saja tidak bisa dikatakan budaya masyarakat yang belum mengenal kain sama maju dengan yang sudah mengenal. Sehingga kebudayaan selayaknya harus dilihat secara holistik (menyeluruh), bukan dengan stereotipe negatif.

Akan tetapi, dalam konteks peradaban, sulit untuk tidak mengatakan: kemajuan peradaban suatu masyarakat berbanding lurus dengan pemakaian kain, baik sebagai fungsi dasar menutupi tubuh atau fungsi identitas. Definisi peradaban sendiri yakni kebudayaan yang bersifat halus, maju, dan indah.

Dalam suatu masyarakat sederhana setingkat tribe (suku), yang masih terdiri dari ratusan orang, barangkali juga mayoritas masyarakatnya masih separuh telanjang. Maka biasanya kalangan pemimpin, Big Man, Kepala Suku diantara mereka merupakan yang pertama kali mengenakan busana. Sebagai atribut kebesaran, kehormatan, mendampingi batu mulia atau pusaka keramat sebagai simbol kekayaan dan kekuasaan.

Pada masyarakat yang lebih kompleks stratifikasi dan differensiasi sosialnya, level Chiefdom apalagi State, dimana masyarakat sudah berbusana. Maka tetap saja golongan bangsawan, elit, orang kaya, dan terpelajar tampil dengan busana paling indah.

Apakah fenomena kekinian; 'kemaluan' yang mestinya menimbulkan rasa malu, bagi sebagian orang mengalami ameliorasi makna menjadi 'kebanggaan' makanya malah diumbar dengan bangga?

Dengan demikian, kampanye melepas kerudung jelas gagal paham melihat realita peradaban. Pakaian tertutup (terutama perempuan) dipandang simbol pengekangan bahkan keterbelakangan di tatanan dunia yang serba patriakhi ini, jelas keliru!

Semua itu kembali pada kacamata apa yg kita pakai?

Jika Anda memandang agama (terutama Islam yang sering di stigmaisasi) memakai kacamata feminisme, sudah pasti Anda akan dapati banyak nilai-nilai yang tiada sesuai. Begitupun sebaliknya, memandang nilai-nilai feminisme memakai kacamata Islam, akan banyak Anda jumpai yang berlawanan.

Bisakah salah satu pihak berhenti untuk saling menyalahkan? Rasanya ini juga usaha sia-sia, alih-alih Anda justru masuk terjebak dalam sinkritisme-relativisme, menyakini semua paham adalah benar, semua kebenaran bersifat relatif.

Akhirnya, saya harus berkata: benturan peradaban adalah sebuah keniscayaan! Muslim sejati menjadikan Islam sebagai standar pemikiran dan perbuatan.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here