No to Secularism, Yes to Islam! - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, February 6, 2020

No to Secularism, Yes to Islam!


Aji Salam (Sohib Jawa Timur)

Masyarakat Barat yang bercirikan 3 hal: sekular, pragmatis dan hedonis  – sebagaimana yang  dikemukakan oleh Taqiyuddin an-Nabhani (1953) dalam Nizham al-Islam– segera menularkan ciri yang sama pada kehidupan masyarakat di negara-negara maju Asia Timur, lengkap dengan konsekuensi kerusakan yang menjalar pada kehidupan masyarakatnya. Ketika Barat terus berupaya menyebarkan nilai-nilai dan ideologi mereka kepada dunia dengan cara yang sangat arogan dan memfitnah peradaban Islam, maka sebenarnya mereka telah mencoba untuk menyembunyikan keputusasaan yang mereka ciptakan pada masyarakat mereka sendiri dan juga di kawasan seperti Asia Timur. Sekarang Barat tidak lagi mampu menyembunyikan kemunduran dan kerusakan peradabannya.

Kemajuan dan modernitas yang ditawarkan Kapitalisme justru menjadi resep manjur bagi arus massal dehumanisasi bagi umat manusia, karena membuat masyarakatnya lebih menghargai materi dan kesenangan fisik daripada bangunan masyarakatnya,  ide kebebasan telah membuat mereka abai terhadap kemanusiaan dan pelestarian ras manusia itu sendiri. Paham individualistik akut telah melahirkan generasi yang rusak mentalnya, kosong secara spiritual, gagal mendefinisikan realitas kehidupan, tidak memiliki tujuan hidup dan terobsesi pada tokoh-tokoh superhero imajinatif dan inhuman dari industri hiburan kapitalistik yang mereka ciptakan sendiri.

Mereka akhirnya terbentuk menjadi generasi yang tidak manusiawi (inhuman generations), karena terobsesi pada kesuksesan materi dan gaya hidup hedonis yang menggadaikan kebahagiaan manusiawi dalam berkeluarga, tidak percaya pada komitmen pernikahan, menunda memiliki anak atau bahkan memandang anak sebagai beban karena tidak memiliki keyakinan akan sang Pencipta yang menjamin rizqi setiap anak manusia. Ditambah kebijakan womenomics ala kapitalisme yang menciptakan gelombang massal pekerja perempuan, yang juga memaksakan standar nilai bahwa perempuan akan mendapat status social yang lebih terhormat jika memiliki pekerjaan, sehingga kaum perempuan semakin kehilangan gairah untuk menjalani peran domestiknya sebagai ibu dan istri di rumah.

Kembali ke Islam

"Jika Amerika menghabiskan ratusan juta dolar untuk penelitian dalam mengatasi problem sosial di masyarakatnya, maka Islam melenyapkan kebiasaan yang telah mengakar di masyarakat jahiliah hanya dengan beberapa lembar ayat Quran."  – Sayyid Quthb

Kutipan di atas adalah benar adanya. Islam memiliki solusi mengakar untuk menciptakan masyarakat yang sehat jiwanya. Islam dengan seluruh risalahnya yang luhur telah menjaga bangunan masyarakat dengan penjagaan yang sempurna. Masyarakat Madinah adalah model terbaik dari masyarakat yang sehat dan berperadaban luhur. Islam, sejak kelahirannya di Jazirah Arab, telah menorehkan prestasi yang luar biasa dalam membawa masyarakatnya pada keluhuran martabat. Dalam naungan wahyu Allah SWT, Islam juga berhasil melebur pemikiran dan perasaan masyarakatnya dalam kemurnian akidah Islam serta keharmonian hukum-hukumnya. Tidak aneh jika keutamaan kota Madinah diilustrasikan oleh Rasulullah saw. seperti alat peniup tungku pandai besi yang mampu menyingkirkan karat besi. Rasulullah saw. bersabda:

 "Madinah itu seperti tungku (tukang besi) yang bisa membersihkan debu-debu yang kotor dan membuat cemerlang kebaikan-kebaikannya." (HR al-Bukhari).

Akidah dan hukum-hukum Islam memiliki maqashid syariah yang akan menjaga 5 (lima) hal yang ada dalam masyarakat, yakni: (1) memelihara agama;  (2) memelihara jiwa; (3) memelihara akal; (4) memelihara keturunan; (5) memelihara harta benda. Visi Islam ini memastikan bahwa modernitas dan kemajuan tidak akan menyebabkan gangguan dan kerusakan sosial di masyarakat; sehingga kemajuan teknologi dalam Islam tidak membutuhkan biaya sosial. Hal ini karena Islam tidak mengenal dikotomi antara ilmu pengetahuan dan iman sebagaimana peradaban Barat. Doktrin gereja di abad kegelapan Eropa sering bertentangan dengan ilmu pengetahuan, sehingga memaksa lahirnya sekularisme yang menjadi hari ini menjadi biangkerok dari kerusakan sosial masyarakat meskipun mereka mencapai kemakmuran dan kemajuan teknologi

Kehidupan Masyarakat Islam

Rasulullah saw. juga mengibaratkan kehidupan masyarakat Islam seperti sekelompok orang yang mengarungi lautan dengan kapal yang merefleksikan bahwa sebuah masyarakat memiliki tanggungjawab kolektif untuk mencegah kemungkaran,

مثل المدهن في حدود الله والواقع فيها مثل قوم استهموا سفينة فصار بعضهم في أسفلها وصار بعضهم في أعلاها فكان الذي في أسفلها يمرون بالماء على الذين في أعلاها فتأذوا به فأخذ فأسا فجعل ينقر أسفل السفينة فأتوه فقالوا ما لك قال تأذيتم بي ولا بد لي من الماء فإن أخذوا على يديه أنجوه ونجوا أنفسهم وإن تركوه أهلكوه وأهلكوا أنفسهم

"Perumpamaan orang yang teguh menjalankan hukum-hukum Allah dan orang yang melanggarnya bagaikan sekelompok orang yang berada di sebuah kapal. Sebagian berada di atas dan sebagian lagi di bawah. Adapun mereka yang berada di bawah, bila memerlukan air minum, harus naik ke melewati orang-orang yang berada di atas, sehingga mereka berkata, "Lebih baik kita lubangi saja kapal ini agar tidak mengganggu saudara-saudara kita yang berada di atas. Bila mereka yang berada di atas membiarkan niat orang-orang yang berada di bawah, niscaya binasalah mereka semua. Akan tetapi, bila mereka mencegahnya maka akan selamatlah mereka semua." (HR al-Bukhari).

Analogi kapal ini menekankan pentingnya tanggung jawab kolektif dalam masyarakat yang berfungsi sebagai pelindung efektif kesejahteraan rakyat. Islam sangat menggarisbawahi prinsip ini, dan kewajiban amar ma'ruf nahi munkar yang dibebankan pada setiap orang beriman, akan berfungsi sebagai sistem kekebalan yang kuat dalam masyarakat untuk mencegah penyebaran penyakit sosial.

dalam Islam, Khalifah sebagai pemimpin umum umat Islamdengan visi politik, ekonomi dan sosialnya terhadap peradaban manusia akan menerapkan sebuah sistem yang mewujudkan kebijakan sosial ekonomi komprehensif yang akan mengimbangi modernitas dan kesejahteraan dengan penjagaan moral dan luhurnya peradaban, dan pada waktu yang sama juga menolak kebebasan liberal dan mempromosikan ketaqwaan di dalam masyarakat sehingga lahirlah mentalitas tanggungjawab kolektif untuk menghilangkan berbagai penyakit sosial. Semua ini diterapkan dalam payung sistem Khilafah yang juga mewajibkan sistem peradilan yang efisien untuk mengantisipasi kriminalitas di masyarakat, sehingga dengan demikian terwujudlah masyarakat yang sehat dan terpeliharalah keberlangsungan nasab dan ras umat manusia.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here