Urgensi Dakwah Politik - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, February 5, 2020

Urgensi Dakwah Politik


Mahfud Abdullah (Direktur Indonesia Change)

Arus dakwah politik hari ini semakin membesar. Dakwah politik (da'wah siyasiyah) artinya adalah mengemban dakwah Islam melalui jalan politik, yaitu dakwah dengan metode melakukan aktivitas politik ('amal siyasi) (Manhaj Hizb at-Tahrir, 2009, hlm. 14). Aktivitas politik adalah segala aktivitas yang terkait dengan pengaturan urusan masyarakat (ri'ayah syu'un al-ummah), baik yang terkait dengan kekuasaan (as-sulthan) sebagai subyek (al-hakim) yang melakukan pe-ngaturan urusan masyarakat secara langsung, maupun yang terkait dengan umat sebagai obyek (al-mahkum) yang melakukan pengawa-san (muhasabah) terhadap aktivitas kekuasaan dalam mengatur urusan masyarakat (Mafahim Siyasiyah li Hizb at-Tahrir, 2005, hlm. 5).

Jadi, dakwah politik yang dimaksudkan di sini bukanlah dakwah sebagai bagian aktivitas kekuasaan, melainkan sebagai aktivitas masyarakat, khususnya yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam yang terdapat di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, dakwah politik yang dilakukan kelompok-kelompok Islam ini intinya adalah muhasabah atau amar ma'ruf nahi munkar kepada kekuasaan. Dengan melakukan dakwah politik, berarti sebuah kelompok telah melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar yang diwajibkan oleh Allah kepada umat Islam (QS Ali 'Imran [3]: 104).

Bentuk dakwah politik bisa bermacam-macam. Misalnya melakukan perjuangan politik (al-kifah as-siyasi), seperti mengkritik penguasa yang menjadi pelayan kepentingan Barat, mengkritik kebijakan penguasa yang menjalankan agenda neoliberalisme, dan sebagainya. Contoh lainnya adalah melancar-kan perang pemikiran (as-shira' al-fikri) seperti mengkritik demokrasi, kapitalisme, nasionalis-me, sosialisme dan ide-ide kufur lainnya. (Hazim 'Ied Badar, Thariqah Hizbut Tahrir fi at-Taghyir, hlm. 2).

Dakwah politik penting untuk dilaksanakan oleh umat Islam, khususnya oleh kelompok-kelompok Islam saat ini. Mengapa? Ada dua alasan utama. Pertama: karena dakwah politik inilah yang dulu dicontohkan oleh Rasulullah saw. pada tahap dakwah beliau selama 13 tahun di Makkah. Rasulullah saw. waktu itu melakukan perjuangan politik (al-kifah as-siyasi) dengan mengecam para pemimpin Quraisy, membongkar kejahatan dan rencana mereka yang bertujuan untuk menghancurkan dakwah Islam yang dilaksanakan Rasulullah saw., dan sebagainya. Rasulullah saw. juga melakukan perang pemikiran (as-shira’ al-fikri) dengan menyerang ide-ide kufur, misalnya ide menyekutukan Allah (syirik), mencela penyem-bahan berhala, mencela kecurangan dalam menimbang dan menakar, mencela perbuatan membunuh anak-anak karena takut miskin, dan sebagainya (Lihat Al-Waie (Arab), No 305, Jumadil Akhir 1433/Mei 2012, hlm. 26-27; M. Husain Abdullah, At-Thariqah Asy-Syar'iyah li Isti'naf al-Hayah Al-Islamiyah, hlm. 82).

Dengan demikian, melaksanakan dakwah politik sesungguhnya adalah aktivitas meneladani Rasulullah saw. sebagai uswatun hasanah yang diwajibkan Islam atas kaum Muslim (QS Al Ahzab [33]: 21).

Kedua: karena dakwah politik inilah yang relevan dengan masalah utama (qadhiyah mashiriyah) umat Islam sekarang. Masalah utama umat adalah mengembalikan hukum yang diturunkan oleh Allah SWT dengan jalan menegakkan kembali negara Khilafah, dengan cara mengangkat seorang khalifah (nashb al-khalifah) bagi kaum Muslim. Masalah utama umat ini dengan sendirinya menuntut aktivitas yang relevan pula, yaitu aktivitas politik ('amal siyasi). Sebab, aktivitas menegakkan kembali Khilafah ini tiada lain adalah aktivitas politik, karena Khilafah adalah sebuah institusi politik. Mengangkat seorang khalifah (nashb al-khalifah) juga merupakan aktivitas politik, karena khalifah adalah pimpinan tertinggi institusi politik Islam tersebut. (Manhaj Hizb at-Tahrir, 2009, hlm. 14-15).

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here