Berdiri Bersama Ahmad Khozinudin, Sang Pendobrak! - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, March 2, 2020

Berdiri Bersama Ahmad Khozinudin, Sang Pendobrak!



Mahfud Abdullah (Direktur Indonesia Change)
Ahmad Khozinudin, SH, Ketua LBH Pelita Umat yang selama ini dikenal sering membela ulama dan aktivis Islam diduga menjadi korban kriminalisasi rezim, ditetapkan sebagai tersangka sehubungan Tindak Pidana menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 ayat (2) dan/atau pasal 15 UU No 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan/atau pasal 207 KUHP.

Ahmad Khozinudin dikenal sebagai aktivis yang begitu ringan menyuarakan aspirasinya membela kepentingan rakyat dan ulama, menyampaikan akritik tajam kepada penguasa. panggilan ini adalah tindak lanjut dari proses penangkapan sebelumnya, dimana ketika Ketua LBH Pelita Umat ditangkap pada dini hari dengan status langsung sebagai Tersangka, tanpa panggilan dan pemeriksaan pendahuluan, mengonfirmasi dugaan adanya kriminalisasi.

Professor Howard Zinn mengibaratkan, “You can’t be a neutral on the moving train.” (Kau tidak bisa netral di dalam kereta yang sedang bergerak). Netralitas hukum sekalipun, senetral-netralnya, aparat begitu lambat menangkap penguasa, tapi begitu cepat menangkap rakyat miskin. Senetral-netralnya hukum di mata polisi, tetap saja, jabatan aparat pun hasil dari politik kekuasaan. Kalian tidak bisa netral, bahkan dalam posisi netral sekalipun kalian tetap berat-sebelah. Bolehkah rakyat miskin bermimpi bahwa aparat selalu membela penderitaan rakyat yang ditindas sistem kapitalisme yang memproduksi banyak UU yang menzalimi rakyat? Apakah konsistensi pemerintah dalam upaya kriminalisasi tokoh pejuang sangat teruji? skenarionya mengarah pada aktor-aktor pejuang umat. Maraknya kriminalisasi tentu tidak bisa dibiarkan ada, apalagi menyangkut nasib perjuangan rakyat. Dari fakta itulah, para aktivis pergerakan membuat sebuah konsolidasi untuk membela saudara –saudaranya yang dizalimi.

Kasus Khozinudin ini menambah rentetan aktivis, ulama, tokoh, dan dai Islam yang masuk jerat hukum karena aktivitasnya. Bila aparat penegak hukum terus menerus memosisikan dirinya seperti itu maka mereka akan kehilangan kepercayaan masyarakat. Kalau hukum sudah tidak dipercaya, masyarakat bisa bertindak semaunya sendiri. Ini sangat berbahaya. Maka perlu sebuah paradigma baru dalam proses hukum ini agar keadilan benar-benar bukan sekadar mimpi.

Setiap warga negara harus diposisikan sama kedudukannya dalam hukum. Nah, ini hanya bisa terwujud di tangan orang yang amanah. Tapi itu tak cukup, perlu sebuah sistem hukum yang adil, yang bebas dari kepentingan manusia. Sistem hukum ini harus datang dari luar manusia. Maka sistem hukum dari Zat Yang Maha Adil-lah yang tepat bagi manusia. Inilah yang dulu dipraktekkan oleh baginda Nabi SAW.

Menarik pesan Rasulullah SAW, “Wahai manusia, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang mulia (memiliki kedudukan) di antara mereka yang mencuri, maka mereka biarkan (tidak dihukum), namun jika yang mencuri adalah orang yang lemah (rakyat biasa), maka mereka menegakkan hukum atas orang tersebut. Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya” (HR. Bukhari dan Muslim).

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here