Covid-19, Gerangan Apa yang Menahan Rezim untuk Ambil Opsi Lockdown? - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, March 19, 2020

Covid-19, Gerangan Apa yang Menahan Rezim untuk Ambil Opsi Lockdown?


Farid Syahbana (Ketum Gema Pembebasan Pusat)

Update terbaru (19/03) melalui Laman CNN Indonesia, Pasien Positif Covid-19 berjumlah 309 orang, 25 diantaranya meninggal dan 15 orang sembuh. Berdasarkan data tersebut, Mortality rate (rasio kematian) yang dibawa oleh wabah Covid-19 di Indonesia merupakan salah satu yang tertinggi didunia, yakni mencapai 8,33 %, mengalahkan Italia yang rasio kematiannya diangka 7,94 %. Data tersebut terus berkembang, baik pasien yang positif atau pun yang mati, dari hari ke hari terus bertambah.

Dari sisi pemerintah, terkesan tidak serius dalam melihat dan menangani persoalan wabah Covid-19, langkah yang sementara ini dilakukan dan diupayakan pemerintah hanya menghimbau masyarakatnya untuk melakukan Social Distancing (Menjaga jarak dalam interaksi sosial).

Social distancing berupa himbauan. Sekolah dan kampus memang diliburkan namun tidak semua pekerja diliburkan dan melakukan pekerjaannya dari rumah, banyak yang masih bekerja. Apalagi secara demografi tidak dapat disangkal, masyarakat menengah kebawah di Indonesia tidaklah sedikit. pekerja di Indonesia terutama kota-kota besar, banyak yang berpenghasilan harian. Seperti Driver Online (Ojol), pedagang kecil, pengusaha UMKM, dsb. Wajar apabila masih banyak masyarakat yang ‘keluyuran’ untuk memenuhi hajat hidupnya. Kata kuncinya adalah kesadaran, banyak warga yang tidak sadar bahayanya wabah Covid-19, ditambah langkah pemerintah yang hanya berupa himbauan.

Artinya, sangatlah sulit jika pemerintah hanya mengandalkan sisi kesadaran masyarakat untuk mencegah penularan virus Covid-19 tanpa memberikan kebijakan yang tegas, cepat dan tepat. Agar laju pertumbuhan wabah Covid-19 bisa ditekan. Sebagai contoh Negara Italia yang melakukan Lockdown nasional atau Korea selatan yang melakukan tes virus Covid-19 secara aktif dan massal.

Dua opsi tersebut belum juga dilakukan, baik lockdown atau pun test Massal, sampai tulisan ini dibuat, opsi yang digulirkan berupa himbauan dan intruksi Presiden kepada Gugus tugas untuk melakukan test massal sebagaimana di Korea Selatan. Pemerintah pun bersikeras untuk tidak melakukan Lockdown, hal tersebut disampaikan berulang kali oleh Jokowi selaku Presiden.

Masyarakat tentunya berharap peran pemerintah untuk bersikap tegas dalam upaya menjaga dan memelihara keselamatan rakyatnya dari penyebaran Covid-19, karena ini bukan urusan sederhana, ini urusan nyawa bung! Jangan pernah bermain-main dengan nyawa manusia.

Ekonomi Ambruk

Kuat dugaan langkah Lockdown urung untuk dilakukan karena pertimbangan Ekonomi, apalagi ditambah dengan krisis nilai tukar rupiah terhadap dollar yang nyaris menembus angka Rp. 16.000 (19/03). Indeks Harga Saham Gabungan pun terjun bebas selama sebulan ini ketika diperdagangkan, yakni mengalami 29,9 persen penurunan.

Ekonom Rizal Ramli memprediksi kondisi perekonomian Indonesia bakal ambruk pada Kuartal II dan III tahun ini. Virus Corona menurutnya bukanlah trigger atau pemicu ambruknya Ekonomi, melainkan faktor belakangan yang hadir memperkuat sinyal pelambatan ekonomi. Persoalan Bubble Economy. Gelembung makro ekonomi, gagal bayar, anjloknya daya beli, kehadiran bisnis digital dan penurunan pendapatan petani. Rupiah yang bertahan dan sempat menguat beberapa waktu yang lalu itu karena didoping oleh dollar, yakni pinjaman yang berbunga tinggi. Kalau dopingnya mulai kering ya tentunya rupiah ikut terjun bebas.

Masih menurut Rizal Ramli, semua indikator ekonomi merosot lebih jelek dibandingkan 10-15 tahun lalu. Defisit neraca perdagangan, transaksi berjalan, taxation dan sebagainya. Gelembung daya beli merosot tajam, penjualan pun anjlok, sebab tahun lalu pertumbuhan kredit hanya di angka 6,02 persen. Jika kondisi ekonomi normal, maka angka ekonomi tumbuh 6,5 persen dan pertumbuhan kredit bisa mencapai 15-18 persen.

Belum lagi gagal bayar kasus Jiwasraya, total gagal bayar menembus Rp 33 Triliun dan persoalan mega skandal korupsi yang menyeret beberapa perusahaan milik negara, jadi kalau saja diibaratkan seorang petinju, ketika sudah goyang karena banyak/mabuk hutang, digap dengan gagal bayar, ujungnya jatuh/krisis!

Kapitalisme = Krisis

Tentu kita mengingat betul bagaimana Rezim Soeharto jatuh, bermula dari krisis ekonomi, krisis moneter kala itu. Rezim pun jatuh dan berganti, kekuatannya justru bukan semata-mata berpangkal dari pihak oposisi dalam struktur kekuasaan eksisting, namun faktor pengelolaan tata politik ekonomi yang berbasis kepada Kapitalisme yang cepat atau lambat menuju kepada krisis. ‘Decoy’ yang paling makjleb, sehingga lawan politik bisa mendapatkan benefit dari situasi tersebut. 

Krisis ekonomi sudah didepan mata, hal ini bukan sekedar omong kosong apabila menilik data dan fakta diatas, krisis tentu menjadi kekhawatiran Rezim, langkah Lockdown ditengah situasi wabah Corona tentu berdampak ekonomi tinggi. Fundamental ekonomi yang lemah ditambah dengan situasi wabah yang terus menyebar, tentu akan memperburuk keadaan.

Krisis ini diakibatkan Ideologi Kapitalisme Neolib yang saat ini diemban oleh Negara, membentuk struktur kekuasaan politik yang mengabdi kepada kepentingan Oligarki/Kapitalis bukan kepentingan rakyat.

Rezim yang berbasis ideology Kapitalisme Neolib, lebih menghamba kepada kepentingan ekonomi dibandingkan urusan nyawa manusia, sebagai contoh baru-baru ini, adanya 49 TKA dari negeri China terkuak masuk ke Kendari, Sulawesi. Namun, warga yang memviralkan secara arogan justru ditangkap dan kemudian dilepaskan karena tidak cukup bukti dan ada resistensi opini dari masyarakat yang sadar dengan dampak Wabah Covid-19, kita ketahui bersama wilayah yang pertama kali terjadi wabah adalah di Wuhan, Provinsi Hubei, China. Mestinya saat-saat genting pandemic global seperti sekarang, Pemerintah menjaga betul lalu lintas manusia dari luar negeri wilayah terdampak terutama dari negeri China, bukan malah diberi karpet merah dengan alasan menjaga investasi. 

Konsep Islam dalam Mengatasi Wabah

Banyak Negara tidak mampu membendung laju penyebaran Covid-19, padahal mereka mengklaim sebagai Negara maju, sementara, Islam yang merupakan ajaran paripurna, tidak hanya sebatas agama spiritual dan moral, Islam juga mengatur segala aspek kehidupan termasuk solusi mengatasi wabah di suatu negeri.

Belajar dari Khalifah Umar Bin Khattab, Dalam sebuah riwayat dikisahkan, Khalifah Umar pernah keluar untuk melakukan perjalanan menuju Syam. Saat sampai di wilayah bernama Sargh, beliau mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengabari Umar bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, "Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meningggalkan tempat itu." (HR al-Bukhari).

Kala itu Khalifah Umar mendengarkan Hadits nabi SAW dari sahabat Abdurahman bin Auf. Selanjutnya khalifah Umar segera meminta masukan Amru bin Ash. Saran yang diberikan adalah memisahkan interaksi masyarakat agar wabah tak meluas ke masyarakat masih yang sehat.

Khalifah Umar dengan cepat mengambil keputusan untuk tidak memasuki syam. Juga melarang masyarakat untuk memasuki daerah yang sedang terkena wabah penyakit menular. Khalifah Umar mengambil kebijakan LOCKDOWN dengan cepat. Segera mengisolasi daerah sehingga wabah tidak menyebar. Khalifah Umar juga membangun dengan cepat pusat pengobatan di luar daerah itu. Ini tentu dimaksudkan sebagai ihtiar untuk melayani rakyat yang sakit.

Dari sini banyak hal  yang bisa dipetik sebagai pelajaran, tindakan yang tidak hanya cepat namun tepat, berdasarkan dalil syara’, pendapat ahli, membangun pusat pengobatan dan partisipasi masyarakat .

Duhai rezim segera untuk ambil tindakan, selamatkan jiwa dan nyawa rakyat, ambil opsi Lockdown, sebagai ikhtiar yang rasional. Jangan sampai jumlah korban terus bertambah dikarenakan lambat dalam pencegahan dan penanganan.

Pelajaran yang lain ialah, betapa lemahnya manusia menghadapi wabah Covid-19, sudah selayaknya kita kembali kepada sang Khaliq, tidak hanya sebatas mengingat, namun mengaplikasikan ajaran-Nya dalam seluruh aspek kehidupan. konsep Islam (Hukum Syara’) hanya kompatibel dengan system dan ajaran Islam yang agung yakni Khilafah, bukan dengan system Kapitalisme demokrasi seperti saat ini, yang menjadikan rakyat selalu jadi bumper kekuasaan, karena posisinya yang paling lemah dalam struktur kekuasaan.

Kita berdoa semoga terhindar dari wabah Corona dan terhindar dari marabahaya.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here