Dimana Kekuatan Spiritual Raksasa Yang Tertidur Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu Itu? - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, March 27, 2020

Dimana Kekuatan Spiritual Raksasa Yang Tertidur Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu Itu?


(99 Tahun Peringatan Runtuhnya Khilafah Islamiyah)

Fajar Kurniawan

Ada satu ucapan Lord Curzon yang terkenal, yang saat itu menjabat Menteri Luar Negeri Inggris ketika berpidato di hadapan parlemen Inggris tanggal 24 Juli 1924, "Turki telah jatuh dan dia tidak akan bangkit lagi karena ia telah kehilangan kekuatan spiritualnya, yaitu Khilafah dan Islam."

Ya, khilafah. Ingat, kombinasi kekuatan 50-an negeri kaum Muslim yang lemah tidak sebanding dengan satu kekuatan Khilafah, meskipun saat itu sempat menjadi negeri terlemah di Eropa. Perbedaan antara 50 negeri kecil dan Khilafah terlihat dari respon Khilafah terhadap teriakan minta tolong dari satu perempuan muslim di Sindh dengan mengirim tentara untuk menyelamatkannya. Sedangkan, 50-an negeri muslim tidak mampu menanggapi tangisan jutaan perempuan muslim di Palestina, Kashmir, Afghanistan, Iraq, Lebanon, dan Chechnya.

Dalam bulan runtuhnya Khilafah ini, Rajab, di tengah suasana pandemi global covid-19, masih marak berbagai aktifitas seperti sharing tulisan, streaming di youtube, sharing video, dan seruan global untuk mengaktifkan umat agar bersatu dan menegakkan Khilafah guna menghentikan eksploitasi muslim oleh penjajah Barat.

Dunia muslim makin paham hari ini tujuan penjajah, setelah menamatkan riwayat Khilafah, adalah untuk memastikan agar umat Islam tetap terpecah dalam bentuk negeri-negeri kecil, yang sejatinya adalah penjara-penjara kecil dengan batas nasionalisme. Para penjajah lalu melakukan tindakan sistematis dalam menyerap sumber daya minyak di dunia Arab, emas di Afrika, hingga gas bumi di Asia, mengontrol militer dunia Islam dan Bangladesh dengan harga yang sangat murah.

Antek-antek Barat juga menyerukan nasionalisme dan asosiasi omong kosong seperti Liga Arab demi melanggengkan perpecahan dunia Islam. Bentuk terburuk adalah Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang berfungsi menjadi cap stempel hegemoni dunia Barat terhadap dunia Islam.

Pada kesempatan ini kami mengingatkan bagaimana pada hari-hari terakhirnya, Khalifah Abdul Hameed II menolak tawaran Heartzle, pendiri gerakan Zionis, untuk membolehkan berdirinya kantong-kantong Yahudi di Palestina dengan imbalan uang yang sangat besar. Meskipun Khilafah terjerat hutang yang besar, Khalifah menolak tegas tawaran dengan alasan bahwa ia tidak memiliki kewenangan untuk memecah belah wilayah Negara. Khalifah Abdul Hameed juga menyatakan bahwa ia tidak akan bekerjasama merusak kepentingan umat Islam selama ia masih hidup. Ia juga mengatakan bahwa kaum Zionis akan mendapatkan Palestina secara gratis apabila Khilafah telah hancur.

Ketika Khilafah sudah dikenal melemah di Eropa, Sang Khalifah masih berani untuk mengancam Perancis dan Inggris untuk berperang di tahun 1906 apabila kedua negara tersebut tidak menghentikan drama teatrikal yang memperolok Nabi Muhammad Saaw. Jika kita mau membandingkan tanggapan penguasa muslim jaman sekarang terhadap insiden berbagai pelecehan terhadap Nabi Muhammad di beberapa negara barat, dengan tanggapan Khalifah di tahun 1906 tersebut.

Selama Khilafah masih ada, meski lemah, tentara muslim akan dimobilisir demi menyelamatkan satu perempuan saja. Khalifah Mu'tasim dan Gubernur Hajjaj Bin Yusuf menanggapi permintaan tolong satu perempuan dengan mengirim bala tentara Islam untuk menghancurkan kaum perampok.

Tapi sekarang, jutaan perempuan muslim menangis tetapi tidak terdengar oleh 50 lebih penguasa negeri muslim yang tuli dan lemah. Sehingga kita bisa memahami, tujuan para ulama dan aktivis dakwah dalam memperingati kejatuhan khilafah ini adalah untuk mengingatkan bahwa jalan keluar dari semua masalah ini haruslah dengan membentuk Khilafah kembali yang akan melindungi kehidupan umat dan sumberdayanya dari ancaman musuh mereka.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here