Kapitalisme... Suatu Kegagalan Besar Mengatasi Pandemi Global Serta Berjudi Dengan Keuangan Negara - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, March 30, 2020

Kapitalisme... Suatu Kegagalan Besar Mengatasi Pandemi Global Serta Berjudi Dengan Keuangan Negara


Aminudin Syuhadak (Direktur LANSKAP)

Akhirnya banyak orang tersadarkan akan kegagalan kapitalisme demokrasi dalam mengatasi wabah covid-19 yang menular dengan cepat. Disamping masyarakat telah melihat seperti apa sebenarnya demokrasi ala barat - sebagai juara ketidakadilan dan pemimpin teror yang telah menebar kekacauan dan kesengsaraan di seluruh dunia serta menaburkan kematian dan perusakan atas kemanusiaan.

Kapitalisme telah berjudi dengan keuangan negara, yang menyebabkan krisis ekonomi global secara rutin, dan diperparah oleh kemiskinan dunia. Sistem ekonominya yang berdasarkan riba dan privatisasi sumberdaya publik telah memberi makan kaum kaya dan membuat lapar kaum miskin.

Kapitalisme telah memungkinkan pasar bebas membeli rasa hormat dari diri seorang perempuan, yang memungkinkan eksploitasi tubuhnya pada iklan, hiburan dan industri seks. Semua itu ditandai dengan kebebasan berekspresi dan kepemilikan dan dilakukan atas nama mengamankan keuntungan. Kebebasan pribadi dan kebebasan seksual telah menolak budaya sopan-santun individualistik, memuaskan diri serta melahirkan perilaku yang tak bertanggung jawab yang telah menyebabkan mewabahnya kerusakan keluarga, alkoholisme, penyalahgunaan obat, perkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, dan penelantaran Lansia dalam masyarakat Barat. Jelas bahwa kebebasan, demokrasi dan Kapitalisme tidak pernah bisa membawa kemajuan, martabat, keadilan dan kemakmuran yang benar bagi umat manusia.

Namun sekali lagi, waktu telah menunjukkan bahwa demokrasi mewakili sistem di mana aturan adalah untuk kepentingan orang kaya daripada untuk warga biasa. Menciptakan kesenjangan pendapatan antara yang termiskin dan terkaya di masyarakat adalah yang terburuk dan makin buruk, dengan pendapatan orang miskin jatuh dan bahwa orang kaya meningkat. Perusahan multinasional dan elit kayalah yang berdaulat dalam demokrasi, bukan rakyat. Bisnis besar membiayai proses pemilihan, membiayai para kandidat dan banyak pihak dalam pertukaran bagi berlakunya hukum yang melayani kepentingan finansial mereka.

Kita melihat bagaimana dalam kondisi krisis keuangan ini, bisnis multi-juta terselamatkan oleh pemerintah, sedangkan usaha kecil dan warga negara biasa telah meninggalkan belas kasihan pasar sehingga menderita kehancuran finansial.

Selain itu, di dunia Muslim, "demokrasi" sering digunakan untuk memberikan udara legitimasi kepada rezim diktator dimana mereka yang disangka melakukan kerusakan terhadap negara dianiaya, dipenjara dan kadang-kadang bahkan dibunuh. Di banyak negara-negara, huruf "D" pada kata Demokrasi menjadi "D" pada kata Dinasti. Sebagian kecil keluarga politik berkuasa memerintah bangsa selama beberapa dekade. Label "Demokrasi" telah menekankan kembali sistem politik layanan-diri, kepentingan diri sendiri, dan pelestarian diri dari dari para politisi korup daripada tulus melayani masyarakat.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here