Kapitalisme Telah Gagal Menciptakan Gaya Hidup Yang Sejahtera Dan Harmonis - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, March 28, 2020

Kapitalisme Telah Gagal Menciptakan Gaya Hidup Yang Sejahtera Dan Harmonis

Ahmad Rizal (Direktur Indonesia Justice Monitor)

Hingga hari ini, ada ratusan negara terjangkit virus corona atau Covid-19. Dilansir dari Worldometer, jumlah pasien yang sembuh tercatat sebanyak 132.526 orang. Sementara itu, jumlah kasus virus corona di seluruh dunia telah mencapai 593.656 kasus dengan korban meninggal dunia sebanyak 27.215 orang.

Menghadapi pandemi global ini, negara - negara kapitalis AS dan Eropa mengalami pukulan ekonomi cukup berat. Negara - negara kapitalis yang sedang berkembang tampak tidak siap secara finansial menghadapi bencana besar ini. Jika kita berpikir secara mendalam tentang hal ini, ini hanya bisa terjadi dalam suatu sistem ekonomi kapitalisme yang tidak stabil yang menyebabkan kerusakan.

Sebelum pandemi global ini menerjang saja, sebagian negara-negara kapitalis bukannya mengatasi kemiskinan, memecahkan masalah pengangguran dan menciptakan lapangan pekerjaan yang produktif, justru negara-negara kapitalis membeli obligasi pemerintah dan memompa uang lebih ke bank-bank yang menjaga modal besar mereka dan memberikan hak-hak istimewa, padahal ini sama sekali tidak berkontribusi dalam menggerakkan perekonomian, dan dalam mengatasi pengangguran.

Adapun krisis ekonomi global secara periodik terjadi, yang disebabkan oleh tambal sulam kapitalisme telah memasuki bahaya fase baru, dan krisisnya bertambah gawat. Sementara ketidakmampuan para pemimpin negara-negara besar untuk membuat solusi efektif, maka berakibat meningkatnya utang pemerintah, bank dan individu. Sedang orang-orang kaya menjaga kekayaannya yang telah mereka kumpulkan. Sehingga kapitalisme global mulai berantakan dan sekarat.

Sistem ekonomi kapitalis yang dipraktekkan saat ini telah gagal menciptakan gaya hidup yang sejahtera dan harmonis. Hal ini jelas karena kapitalisme menanamkan persepsi bahwa kebahagiaan dicapai dengan memperoleh kenikmatan fisik maksimal tanpa intervensi spiritual. Ideologi ini menyatakan bahwa hanya manusia yang bisa mengerti sesama manusia dan hanya manusia yang tahu apa yang manusia inginkan. Singkatnya, hanya manusia yang bisa memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka; Oleh karena itu, manusia hanya bisa menciptakan sistem buatan manusia sendiri untuk mencapai hal-hal di atas.

Untuk memenuhi nafsu dan keinginan yang tidak terpuaskan, metode dan mekanisme tidak lagi mempertimbangkan kesesuaian dengan sifat atau "fitrah" manusia untuk menjadi hamba dari Sang Pencipta (Al Khaliq) asalkan membantu mereka dalam mencapai keuntungan potensial. Ini telah mempengaruhi masyarakat saat ini; mempengaruhi pikiran yang telah ditanamkan dengan ide bahwa motivasi hidup adalah untuk mendapatkan kekayaan materi duniawi, bukannya berlomba untuk mendapatkan keridhaan Allah (Swt). Hal ini juga telah menyebabkan generasi muda mencari kekayaan materi dengan gaya hidup modern tanpa memperhitungkan kondisi keuangan mereka sendiri.

Allah (Swt) telah memperingatkan manusia untuk tidak menjauh dari jalan dan bimbingan-Nya, dan bukan menjalani gaya hidup mewah sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an:
((فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى * وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى))



"Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". [QS Taha: 123-124]


((وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مَا أُتْرِفُواْ فِيهِ وَكَانُواْ مُجْرِمِينَ))

"Dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa." [QS Hud: 116]

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here