MENCERNA CORONA - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, March 27, 2020

MENCERNA CORONA

Aminudin Syuhadak
LANSKAP

Up date terbaru kasus corona di Indonesia hampir menyentuh angka 500 dengan korban meninggal hampir 50 jiwa. Berbagai pihak mrngindikasikan ini masih awal dengan kekhawatiran akan menjadi lebih buruk seperti halnya di negara lain seperti Italia yang prosentase korban jiwanya bahkan melebihi China sebagai negara awal tersebarnya corona.

Banyak pihak pula yang menuding pemerintah sejak awal terlalu lamban bahkan cenderung menyepelekan wabah ini. Namun tak sedikit pula yang curiga pemerintah sejak awal sebenarnya sudah mengetahui adanya kasus corona di Indonesia namun sengaja menutupinya dengan alasan tak ingin menimbulkan kepanikan yang bisa berimbas kepada instabilitas sosial dan ekonomi. Tak kalah berhembus kencang adalah tuduhan pemerintah lebih mementingkan investasi dan devisa dari pariwisata daripada keselamatan dan nyawa rakyatnya.

Apapun itu semua, nasi sudah menjadi bubur. Bahwa kenyataan menunjukkan kegagalan pemerintah mengantisipasi wabah corona adalah sesuatu yang 'wajar' karena sedari awal berkuasa rezim ini cenderung selalu gagap dalam menyikapi berbagai problem krusial negara ini. Pertumbuhan ekonomi yang stagnan bahkan terus menurun, bahkan hutang bukannya berkurang namun justru menggunung, stabilitas politik dan sosial juga tampak labil, tren gurita korupsi yang terus menaik grafiknya, angka kemiskinan dan pengangguran tak juga menggembirakan, plus kasus-kasus kriminal yang terus pula meningkat, tak ketinggalan pula adanya letupan-letupan disintegrasi akibat kesenjangan ekonomi-sosial, semuanya adalah cermin ketidakberdayaan rezim ini dalam mengelola negara.

Merebaknya kasus corona dengan sangat cepat juga menunjukkan fakta buruknya layanan kesehatan dan jaminan ketahanan pangan di negeri ini. Gamangnya pemerintah dalam memutuskan status lockdown, untuk DKI misalnya, tak dipungkiri karena diduga kuat pemerintah tak mempunyai anvgaran maupun cadangan logistik yang cukup untuk menjamin kebutuhan masyarakat akan pangan. Bagaimana mungkin masyarakat baik dari kalangan usaha maupun pekerja yang demikian tergantung pada perputaran ekonomi sehari-hari harus diisolasi? Dari mana mereka mendapat income? Dari mana mereka mencukupi kebutuhan harian? Padahal pemerintah dengan kondisi perekonomian sekarang yang tanpa adanya corona pun sudah tertatih-tatih, sehingga tipis kemungkinan punya pos anggaran yang memadai untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang wilayahnya di-lockdown. Fakta bahwa sedari awal pemerintah pusat sudah mendelegasikan penanganan corona kepada pemerintah daerah justru memperlihatkan pemerintah memang kebingungan dalam merencanaan antisipasi wabah corona, yang besar kemungkinan akibat minimnya anggaran.

Ibaratnya seperti seorang ayah yang sedang kejar setoran untuk menutup hutangnya di bank yang menggunung lalu tiba-tiba seluruh anggota keluarganya sakit parah, sementara dia sudah tak punya aset berharga untuk 'diuangkan' karena semua sudah dijaminkan ke bank atau rentenir pasar.  Maka kita bisa bayangkan dilematisnya kondisi ayah tersebut. Hal yang sama barangkali juga sedang dihadapi rezim hari ini.

Untuk kasus ayah tadi setidaknya ada beberapa kemungkinan langkah yang diambil: pertama, dia tetap kejar setoran untuk hutang-hutangnya dan mengabaikan alias membiarkan keluarganya tewas karena penyakitnya dengan asumsi justru meringankan beban cash flownya. Kedua, mungkin dia bawa terpaksa keluarganya berobat dengan resiko menambah hutang baru yang tentu saja berbunga tinggi asal keluarganya selamat. Atau ketiga, dengan penuh tanggung jawab dia bawa keluarganya berobat, lalu tunduk bertaubat kepada Allah SWT akibat lalai telah melanggar Syariat-Nya dengan mengambil riba, lalu berjanji meninggalkannya dan berupaya taat sepenuhnya. Dan di saat bersamaan tetap menyempurnakan ikhtiar dengan meminta keringanan ke pihak rumah sakit, lalu mengunjungi saudara dan rekan-rekannya yang sholeh untuk meminta bantuan baik dalam bentuk sekadar nasehat yang solutif maupun bantuan finansial sukarela seperti shodaqoh atau zakat mal, minimal pinjaman tak berbunga. Lalu ia hiasi malam-malamnya dengan sujud dan tilawah, dia perbaiki hubungan dengan orang tua, kerabat dan tetangganya. Ia begitu meyakini firman Tuhan-Nya yang menggaransi jalan keluar atau solusi atas segala masalah jika hamba itu mau bertaqwa secara total kepada-Nya.

Tentu, jika ayah itu benar seorang yang beriman dan mengaku Muslim maka ia akan mengambil opsi yang ketiga. Dan karena Allah SWT adalah dzat yang tak pernah ingkar janji maka pada saat yang tepat ayah itu akan mendapat pertolongan dengan cara yang tepat pula. Kun fa yakun, tak ada yang tak mungkin bagi-Nya jika sudah berkehendak.

Lalu bagaimana dengan rezim ini? Opsi mana yang akan ia ambil untuk rakyatnya? Mari menjaga diri dan keluarga masing-masing, sekaligus pro aktif membantu masyarakat semampu yang kita bisa,  sambil terus menasehati rezim agar mau menggunakan iman dan akal sehatnya sehingga mampu mencerna hikmah wabah virus corona ini dengan cepat, cermat dan tepat.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here