Naar de Daulah Khilafah (Menuju Negara Khilafah) - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, March 27, 2020

Naar de Daulah Khilafah (Menuju Negara Khilafah)

Oleh: Andre Husnari

Dunia tengah memasuki penghujung dekade kedua abad ke-21. Artinya tahun-tahun kedepan, kita telah menginjak awal dekade ketiga. Betapa banyak elemen hidup yang telah berubah, yang tetap ialah perubahan itu sendiri. Dengan begitu, sejatinya manusia harus menyadari hakikat perubahan, pro-perubahan positif, bukan malah menjadi benda yang mempertahankan kelembaman, lagi enggan.

Ingatan manusia yang pendek, berpeluang untuk lupa dengan kejadian di masa lalu. Akan tetapi, pandangan manusia yang tercerahkan akan mampu membuatnya menatap jauh ke depan.

Ingatan yang pendek, barangkali telah membuat sebahagian putera-puteri Islam lupa bahwa rumah gadang (besar) mereka, yaitu negara Islam, sang saka agama, dimana dibawah payung panji kebesaran tersebut umat bernaung dari terik kepanasan, berlindung kala kehujanan, faktanya telah rubuh. Rubuh nan menyisakan pilu. Oleh karena, di atas puing-puing lama itu, telah berdiri berpuluh pondasi, pancang, dan tiang baru berukuran kecil-kecil serta saling tersekat-sekat. Seolah kita adalah tetangga, padahal sesungguhnya kita saudara kandung seayah-seibu, serumah pula.

Sementara putera-puteri Islam yang punya pandangan jauh kedepan. Tidak larut dalam dendang ratapan. Mereka belajar dari sejarah, bukan terlena hidup di dalamnya. Bertuah pada yang menang, berguru pada yang sudah. Sejauh-jauh jalan menurun, suatu saat akan tiba masanya mendaki. Sepekat-pekatnya malam, fajar pagi akan menyingsing jua. Baik di ufuk timur atau barat dunia, perjuangan mengembalikan kejayaan Islam tetap membahana.

Sejak Daulah Khilafah runtuh, Bulan Rajab 99 tahun yang lalu, sejarah mencatat dengan tinta emas beragam upaya perjuangan mengembalikannya. Begitu terus, sambung menyambung, estafeta dari satu generasi ke generasi setelahnya. Cuma berselang 29 tahun pasca keruntuhan, telah berdiri sebuah gerakan yang bersungguh-sungguh dalam memperjuangkan pendirian khilafah. Kini dunia berharap betul, gerakan yang berdiri di Al Quds Palestina tepat 500 tahun pasca Muhammad Al Fatih membebaskan Konstantinopel di tahun 1453, akan menjadi gerakan yang akan berhasil dengan gilang-gemilang membebaskan bumi beserta makhluk di dalamnya dari penghambaan pada selain Allah, dari belenggu isme-isme yang bertentangan dengan kitabullah, dan sunah rasul-Nya.

Manusia boleh punya perhitungan, Allahpun membuat perhitungan. Perhitungan manusia kerap kali harus dianulir manakala berhadapan menyelisihi perhitungan Allah Swt. Jika Musim Semi Arab telah mengubah corak warna di bidang pemerintahan, maka melalui wabah corona ini, yang tidak ada dalam prediksi futurolog manapun, mempertontonkan pada kita bahwa kapitalisme dan neo-komunisme telah terseok-seok. Segala congkak, pongah, sombong, takabur, tersungkur hina.

Imajinasi kita perihal janji penaklukan Roma yang bakalan berlangsung epik-heroik, bisa jadi justru akan berjalan damai penuh syahdu. Sebagaimana Islamisasi Eropa berlalu secara alamiah saja. Lantas kalau begitu, bukankah juga masuk akal bila kabar gembira kelak berdirinya Daulah Khilafah juga keniscayaan? InsyaAllah akan terwujud dalam waktu yang dekat.

Menuju Daulah Khilafah adalah ajakan kepada putera-puteri Islam untuk berjuang bersama menuju tata dunia baru berlandaskan Islam, dalam rangka melanjutkan kehidupan Islam, mewujudkan rahmat bagi seluruh alam.

Realitanya hingga saat ini, ideologi dengan definisi pemikiran menyeluruh yang terpancar darinya berbagai peraturan, di dunia ini hanya ada tiga; Kapitalisme, Sosialisme, dan Islam. Benturan dari ketiganya adalah suatu keniscayaan dan alamiah belaka.

Ideologi Kapitalisme diemban oleh banyak negara, terutama Amerika Serikat dan Eropa. Merekalah yang telah membungkan Daulah Khilafah tahun 1924 sekaligus menyingkirkan Uni Soviet tahun 1989. Praktis sebenarnya baru 30 tahun mereka menjadi adidaya tanpa pesaing. Itupun sudah tertatih-tatih menghadapi neo-sosialis satu dekade ini, dengan kemungkinan makin suram di tahun-tahun mendatang. Biang kerok malapetaka dunia dan kemanusiaan yang menimpa dunia saat ini adalah hasil ketamakan Kapitalisme. Sungguh terlalu bila ideologi ini yang hendak kita pertahankan sebagai pedoman hidup.

Pada sisi lain, ideologi Sosialisme cuma mampu bertahan 70an tahun. Terhitung tahun 1991, juga tidak ada lagi satu negarapun yang mengembannya, kecuali bertransformasi menjadi neo-sosialis, menjilat ludah sendiri dengan menciplak segi ekonomi kapitalis yang mereka anggap musuh. Walau relatif singkat tapi dampak kerusakan yang mereka timbulkan tidak kalah gilanya. Jika aqidah Kapitalisme adalah sekularisme, memisahkan antara agama dengan kehidupan, maka aqidah Sosialisme lebih parah lagi, yaitu materialisme, menolak segala konsepsi tak kasatmata, termasuk Tuhan. Sungguh terlalu bila ideologi ini yang hendak kita jadikan pedoman hidup.

Akan halnya ideologi Islam, meski tidak diemban oleh satu negarapun, tapi bara Islam itu tidak padam. Kedepan tenggat kemunculannya sulit dinafikan.

Negara Khilafah adalah negara kesatuan bagi seluruh kaum muslimin. Bentuk negaranya ialah Khilafah, bukan Republik, Federasi, Monarki, Imperium, dan sebagainya. Bentuk Khilafah itulah satu-satunya bentuk yang Allah bebankan pada kita mendirikannya, bukan yang lain.

Pada sistem negara khilafah, Kedaulatan ada pada Allah selalu asy Syari', pembuat hukum syara'. Kekuasaan diserahkan ke tangan umat, silakan pilih siapa pemimpin yang mereka kehendaki, guna menjalankan hukum syara' tadi. Serta Khalifah sebagai kepala negara yang diberi kewenangan mengadopsi hukum syara' yang berlaku umum untuk semua warganegara.

Negara Khilafah merupakan representasi negara modern, progresif terhadap kemajuan ilmu, teknologi, dan peradaban. Sumber pendapatan dan pengluaran negara berbeda dengan gaya kapitalisme yang kita rasakan saat ini. Perhatian terhadap rakyat, baik muslim maupun non-muslim, jauh berbeda dengan saat ini, bahkan di negara maju sekalipun.

Khalifah dan jajaran di bawahnya, meski menerapkan sistem Islam, tetapi karena mereka manusia biasa, pasti berpeluang salah. Maka dari itu, rakyat wajib mengkritik mereka, sebaliknya mereka berhak untuk dinasehati, andaikata menyimpang dari kebenaran. Bahkan harus ada mahkamah khusus (mahkamah mazhalim) yang bertugas mengawasi kesewenang-wenangan kepala negara, pejabat negara, sampai aparatur sipil negara terhadap rakyat, muslim maupun non-muslim.

Bentuk negara seperti inilah yang akan mewujudkan kesejahteraan rakyat, menerapkan syariat, aktif mempelopori kebaikan, menciptakan perdamaian dunia.

Momentum Rajab 1441 laksana pencerahan menuju abad kebangkitan Islam dalam dimensi perubahan zaman yang cepat. Mujur akan berhasil diraih bagi pejuangnya, malang tak dapat ditolak bagi yang menghalanginya. Kesempatan emas kadang tidak datang dua kali.

Betapa indahnya! Ayo ambil peran dan kesempatan ini saudara, sahut seruan Allah dan Rasul, jadilah bagian dari perjuangan, sesuai kesanggupan masing-masing, bersabar atas segala cobaan barang sejenak selama nyawa masih dikandung badan.

Hanya ada satu negara yang layak menjadi negaraku, dia berdiri dan besar karena hasil gagasan dan perjuanganku. Demi ridha Rabb-ku.
Allahu Akbar!

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here