Penanganan Wabah, Islam Vis a Vis Kapitalisme - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Sunday, March 29, 2020

Penanganan Wabah, Islam Vis a Vis Kapitalisme


Farid Syahbana (Ketum PP GEMA Pembebasan)

Polanya masih sama, korban meninggal atau Death Rate yang di bawa oleh Virus corona di Indonesia masih di atas 8 persen, presentase yang sama dengan beberapa hari kemarin. Pertumbuhan pasien positif covid-19 di Indonesia sudah mencapai ribuan orang (28/03). Tercatat ada 27 provinsi di Indonesia yang telah melaporkan kasus virus Corona dan masih didominasi oleh DKI Jakarta.

Beberapa wilayah di Indonesia sudah menetapkan kewaspadaan yang sangat tinggi, terlihat masing-masing kepala daerah inisiatif secara sendiri melalui berbagai kebijakannya, bahkan ada daerah yang sudah menetapkan wilayahnya untuk dilakukan Isolasi terbatas - Local Lockdown (Tegal ,Jawa Tengah, dan Puncak Jaya,Papua). Meskipun hal ini menandakan persoalan serius dalam kepemimpinan, seolah dan terkesan negara ini berjalan secara autopilot.

Peningkatan kasus pandemi Covid-19 dan desakan dari berbagai pihak untuk segera melakukan karantina wilayah (Lockdown) demi menghentikan transmisi virus corona, akhirnya direspon pemerintah pusat dengan menjanjikan Peraturan Pemerintah (PP), pemerintah yang di wakilkan oleh Mahfud MD mengatakan sedang menyiapkan PP untuk melakukan karantina wilayah terkait mewabahnya virus Corona di Indonesia.

Yang jadi catatan, Isi dan rincian dari PP nantinya mesti harus terus dipantau dan dicermati, karena sudah jadi tanggungjawab pemerintah pusat untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat ketika karantina wilayah dilakukan sesuai dengan amanat UU No.6 Tahun 2018.

Kelambanan pemerintah dalam penanganan wabah Corona mulai mendapat sorotan tajam, seperti yang disampaikan oleh Organisasi profesi tenaga medis (termasuk IDI) yang menuntut Pemerintah dan fasilitas kesehatan menjamin ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) dalam penanganan Covid-19 (27/03). Jika tidak tersedia, tenaga medis diminta tak menangani pasien kasus tersebut.

Wajar tenaga kesehatan menuntut demikian, karena ketidaklengkapan APD dapat berakibat fatal bagi tenaga kesehatan yang berpotensi terpapar virus Corona. Bidang kesehatan menderita pukulan paling hebat. Banyak data yang terungkap bahwa wabah covid-19 menyerang tidak pandang bulu, mulai rakyat biasa, dokter, sampai pejabat negara. Dengan kesadaran yang rendah, terdapat beberapa pasien positif yang masih berbaur dengan penduduk yang sehat di beberapa kota.

Pada ujungnya, serangan wabah ini membuat setiap kita bertanya-tanya, Sampai kapan wabah ini berlalu? bukan hanya di Indonesia, bahkan diseluruh dunia. Dan tidak ada satu pun pihak yang bisa memastikan, kapan wabah corona ini akan berakhir.

Bagaimana Komparasi sistem Islam Vis a Vis Kapitalisme dalam mengatasi Wabah?
Negara-negara yang mengemban Ideologi Kapitalisme hari ini, terlihat gagal dalam menangani penyebaran wabah yang melanda dunia.

Pada saat awal kemunculannya di Wuhan, China, Desember tahun lalu hingga kini menyebar lebih ke-120 negara, virus Corona telah menelan korban 27.215 nyawa, dan 593.656 kasus di seluruh dunia (Kompas, 28/03). Kapitalisme telah gagal menghentikan transmisi virus corona. Kegagalannya ditinjau dari beberapa aspek, diantaranya ialah:

Pertama, China sebagai Negara yang terpapar pertama kali virus Corona tidak transaparan dalam memberikan informasi, otoritas China menyembunyikan dari orang-orang China dan belahan dunia, terkait hakikat penyakit mematikan yang penyebarannya telah diketahui oleh otoritas China sebelum pertengahan bulan Desember 2019, namun otoritas terkesan menutupi perkara tersebut hingga akhir tahun pasca meningkatnya sejumlah kasus.

Para pejabat China tidak memperingatkan rakyat dari bahaya krisis pada Desember, hingga pada tanggal 31 Desember Beijing memberitahu WHO terkait adanya wabah mematikan yang menyerang pernafasan.
Pemerintah China baru menutup pasar makanan laut di kota Wuhan pada Januari dan menutup total kota yang berpenduduk 11 juta jiwa pada 23 Januari, sebelumnya lalu-lintas warga China cukup padat karena ingin menyambut perayaan imlek, tahun baru China.

Beberapa jurnalis menerbitkan pemberitaan yang berisi kritikan terhadap otoritas China dalam penanganan Covid-19, hasilnya tiga orang jurnalis dari Wall Street Journal (WSJ) harus di usir oleh otoritas China, ketika menerbitkan artikel yang berjudul “China The Real Sick Man Of Asia”, artikel tersebut berisi kritikan kepada otoritas Pemerintah China dalam menangani Covid-19. Ada juga Chen Qiushi, seorang jurnalis warga yang kerap mengunggah laporan dan video terkait situasi dan kondisi di Wuhan, kota sumber penyebaran virus corona di China, Chen malah dilaporkan hilang oleh kerabat dan keluarga. Chen sering menyampaikan laporan terkait perkembangan penyebaran virus corona di Wuhan melalui akun media sosial (10/02). Sikap kontraproduktif justru ditampilkan oleh otoritas China dengan gaya otoriter dan berusaha menutupi informasi yang sebenarnya kepada khalayak dunia.

Kemudian terkonfirmasi kasus Corona Virus menyebar diluar China seketika pada bulan yang sama, yakni di Thailand Pada 13 Januari 2020, Jepang (15 Januari), Korea Selatan (20 Januari), Amerika Serikat (21 Januari), dan Italia (31 Januari).

Kedua; Isolasi parsial, total dan lambatnya penanganan. mayoritas Negara yang terpapar virus corona cenderung lambat dalam merespon transmisi Covid-19, Pada Jumat (27/03/2020), data dari Worldometer menyebutkan jumlah kasus di AS sebanyak 85.377. Angka ini jauh melampaui China dengan jumlah 81.340 kasus, juga Italia dengan jumlah 80.589 kasus. Dan lebih dari 1.296 warga AS meninggal dunia karena Covid-19 (Kompas, 27/03).

Jeffrey Sachs, profesor sekaligus direktur dari Center of Sustainable Development di Columbia University mengatakan bahwa tingginya angka Covid-19  di AS karena kebijakan Trump yang terlambat.

“Trump punya tanggungjawab langsung terhadap ketidaksiapan Amerika dan kegagalannya menghadapi pandemi. Begitu virus corona masuk Trump mengindahkannya,” tutur Sachs seperti dikutip dari artikelnya di CNN, Jumat (27/03).

Di Indonesia, pemerintah justru terkesan abai, pasca kasus Corona merebak di Wuhan. Pemerintah tidak membatasi ketat pergerakan wisatawan mancanegara, awalnya bahkan pejabat pemerintah ada yang menjadikan Corona sebagai bahan candaan, dan Presiden Jokowi mengalokasikan dana untuk Influencer, hotel dan restoran, agar wisatawan mancanegara dapat meramaikan kembali sektor pariwisata. Tercatat pada januari, turis China yang masuk Indonesia 113.646 orang (Kompas, 04/03). Kini transmisi virus corona sudah meluas, baik pemerintah maupun rakyat harus menanggung akibatnya.

Pada akhirnya, ketika penyebaran virus mulai tak terkendali, beberapa Negara menerapkan strategi bertahap yang justru memungkinkan transimisi virus ini berkembang secara eksponensial, himbauan untuk melakukan Social Distancing di area public, kemudian melakukan Lockdown mandiri - mengkarantina diri sendiri, Isolasi semacam ini sebut saja parsial, dan ketika sudah menyebar tak terkendali sebagaimana di Italia dan Spanyol baru dilakukan Total Lockdown.

Ratusan juta orang di dunia diisolasi di rumah mereka dengan harapan bisa menghentikan penyebaran virus Corona, sekitar 160 juta warga Amerika mulai dari California hingga New York dihimbau untuk tinggal di rumah. Sekolah, restoran, dan bar pun ditutup.

Perkara yang sangat ketat ini belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia yang dijalankan dengan tingkat yang berbeda-beda, menurut aturan di masing –masing Negara. Lebih dari 800 juta orang di lebih dari 30 negara diserukan untuk tetap tinggal di dalam rumah. Baik hal itu disebabkan keputusan karantina umum, rekomendasi atau larangan berkeliaran di luar. Masyarakat dan wilayah yang tidak terdampak di sebuah negara mesti juga melakukan karantina umum, sehingga produktivitas menurun dan menciptakan persoalan baru.

Penanganan Negara kapitalis menjadi jelas bahwa itu tidak mengatasi persoalan, tetapi akan meningkatkan kegagalan ekonomi (Coronavirus is first a health problem, second an economic one) dan kegagalan lainnya. Karena terbukti dibeberapa Negara, pertumbuhan penyakit malah berlipatganda, ditambah masalah sosial, kebosanan dan kejemuan yang menimpa masyarakat di negara kapitalis karena diberlakukan isolasi secara umum.

Sementara Islam punya solusi atas setiap persoalan, termasuk solusi Islam dalam mengatasi wabah, yakni;

1. Menelusuri penyakit dan membatasi wabah di tempat awal kemunculannya.
Tipe karantina di dalam sejarah Khilafah Islam telah mendahului semua Negara yang mengklaim sebagai Negara maju. Hal ini bertujuan agar dapat menekan penyebaran transmisi wabah/virus.

Imam al-Bukhari telah meriwayatkan di dalam Shahih-nya dari Usamah bin Zaid dari Nabi saw, beliau bersabda:
.
«إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا«
.
Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.
.
Dan di dalam hadits yang lain riwayat imam al-Bukhari dan Muslim dan lafazh Muslim dari Usamah bin Zaid, ia berkata: Rasul saw bersabda:
.
«الطَّاعُونُ رِجْزٌ أَوْ عَذَابٌ أُرْسِلَ عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَوْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَاراً مِنْهُ»
.
Tha’un itu azab yang dikirimkan Allah terhadap Bani Israel atau orang sebelum kalian. Maka jika kalian mendengar Tha’un menimpa suatu negeri maka jangan kalian mendatanginya dan jika Tha’un itu terjadi di negeri dan kalian ada di situ maka janganlah kalian keluar lari darinya.
.
Dan di dalam riwayat lainnya oleh imam al-Bukhari dari Aisyah ra. isteri Nabi saw , ia berkata: aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang Tha’un lalu beliau memberitahuku:
.
«أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِراً مُحْتَسِباً يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ»
.
“Tha’un itu merupakan azab yang Allah turunkan terhadap siapa yang Dia kehendaki, dan Allah jadikan sebagai rahmat untuk orang-orang mukmin. Maka tidak ada seorang hamba pun yang tha’un menimpa, lalu dia berdiam di negerinya seraya bersabar mengharp ridha Allah, dia tahu bahwa tidak ada yang akan menimpanya kecuali apa yang telah Allah tuliskan untuknya, kecuali untuknya semisal pahala syahid.”

Berdasarkan hal tersebut, maka negara di dalam Islam membatasi penyakit di tempatnya dan penduduk wilayah terjangkit wabah tetap tinggal di situ dan penduduk lainnya tidak diperkenankan masuk ke tempat yang terjangkit wabah.

2. Negara menjamin kebutuhan dasar rakyatnya ketika daerah yang terjangkit di Isolasi (Lockdown), Pemimpinnya mempunyai dimensi spiritualitas, sehingga rakyat tidak ditinggalkan berjibaku sendirian dalam menghadapi wabah corona, pendanaan atas pangan di backup full oleh Negara melalui kas Negara (Baitul Mal). 
Ketika kas Negara mencukupi, Tidak dibenarkan rakyat ujug-ujug disuruh patungan/donasi oleh penguasanya. Tanpa disuruh oleh penguasa pun sebetulnya konsep saling membantu sudah tercakup dalam hukum syara’. Sehingga rakyat dengan sukarela didorong atas dimensi spiritual bahu membahu untuk saling membantu disaat kesulitan.

3. Negara juga menjamin pelayanan kesehatan berupa pengobatan dan obat secara gratis untuk seluruh rakyat, mendirikan rumah sakit dan laboratorium pengobatan. Penelusuran penyakit dilakukan oleh para ahli kesehatan dan didukung infrastruktur yang memadai untuk segera dilakukan penelitian atas virus wabah tersebut, sehingga didapatkan penindakan dan rekomendasi terbaik untuk pengobatan. dan aspek lainnya yang termasuk kebutuhan asasi rakyat di dalam daulah seperti halnya pendidikan dan keamanan, Negara bertanggungjawab penuh.

4. Orang-orang yang sehat tetap melanjutkan kerja mereka. Kehidupan sosial dan ekonomi tetap berlanjut sebagaimana sebelumnya ketika penyakit menular belum mewabah, tidak menghentikan kehidupan masyarakat secara umum dan mengisolasi mereka di rumah, yang akan menambah persoalan berikutnya, yakni melumpuhkan kehidupan ekonomi atau hampir lumpuh sehingga dapat menuai krisis.

5. Dalam merealisir Kebijakan-kebijakan yang Prinsip-prinsip pengaturannya didasarkan pada syariat Islam, dan ditujukan untuk kemashlahatan rakyat.  Maka, Manajemen bencana meliputi penanganan pra bencana, ketika, dan sesudah bencana yang sesuai rambu - rambu Islam baru dapat terlaksana secara komprehensif oleh manajemen bencana model Khilafah Islamiyah yang tegak di atas akidah Islamiyah.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here