Sabar Yang Produktif Menghadapi Bencana Corona - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, March 16, 2020

Sabar Yang Produktif Menghadapi Bencana Corona


Abu Inas (Tabayyun Center)

Dunia hari ini mengalami darurat epidemi corona. Perlu kita sadari bahwa setiap zaman, krisis dan bencana nyaris tak terelakkan. Namun yang membedakan adalah sikap manusianya dalam menghadapi krisis dan bencana.

Bagi setiap mukmin, dengan musibah yang Dia turunkan, Dia hendak mengingatkan dan menyadarkan kita, agar kita kembali kepada-Nya. Tunduk dan patuh pada keputusan dan hukum-Nya. Begitulah yang Allah tuturkan dalam Q.s. Thaha: 128, as-Sajdah: 29, Ibrahim: 44-45, Maryam: 98, al-An'am: 6, al-Ahqaf: 25-27, Saba' : 45, al-Mulk: 18, al-Hajj: 45-46 dan al-An'am: 10.

ketika wabah ganas menyerang wilayah Syam, 'Umar pun berangkat ke sana dan menyelematkan sebanyak-banyaknya penduduk Syam yang bisa diselematkan, dipindahkan ke tempat yang aman, seperti Madinah. Termasuk Wali Syam, Abu 'Ubaidah al-Jarrah, yang saat itu sakit akibat serangan wabah, meski nyawanya akhirnya tak terselamatkan. Abu 'Ubaidah berkata, "Apakah Anda hendak lari dari Qadar Allah?" Dengan tegas, Umar pun menjawab, "Andai saja yang bicara bukan Anda [sahabat Nabi]. Kita lari dari satu Qadar Allah menuju Qadar Allah yang lain."

Hanya saja, sistem yang diterapkan oleh negara khilafah ada yang berupa hukum syara’, dan ada yang berupa hukum ijra'i. Sebagai contoh, menghindari bahaya hukumnya wajib, baik itu badai, banjir, tanah longsor, gempa bumi, tsunami, dan sebagainya. Tetapi, bahaya tersebut tidak bisa dihindari, kecuali dengan sistem peringatan diri [early warning], termasuk analisis BNPB. Penerapan sistem peringatan dini dan analisis BNPB ini bagian dari hukum ijra'i. Maka, baik hukum syara' maupun hukum ijra'i ini sama-sama pentingnya dalam menjauhkan diri dari bahaya.

Bencana akibat virus corona memang sangat sulit diputis secara cepat dalam sistem kapitalis saat ini. Apalagi di dalam sistem ini terjadi kapitalisasi dunia farmasi.  Padahal itulah yang menjadi salah satu akar masalahnya.

Namun bencana ini hanya akan bisa diakhiri secara tuntas dengan sistem Islam melalui dua pendekatan: pendekatan tasyri'i (hukum) dan ijra'i (praktis).

Secara tasyri'i pencegahan penularan virus dan pengobatannya secara gratis sebagai harus dilakukan oleh negara untuk kemaslahatan rakyat, tentu harus secara totalitas. Dengan dimanajemen penuh oleh negara, tentu mudah menanggulangi bencaba virus ini. Negara juga harus mendidik dan membangun kesadaran masyarakat untuk mewujudkan budaya hidup sehat dan manfaatnya untuk generasi demi generasi.

Adapun secara ijra'i, Pemerintah harus melakukan langkah-langkah, manajemen dan kebijakan tertentu; dengan menggunakan iptek mutakhir serta dengan memberdayakan para ahli dan masyarakat umum dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan dampak virus yang terjadi.

Masyarakat akan bergerak jika mendapatkan edukasi dan keteladanan dari pemimpinnya. Saat menghadapi bencana, sebagai kepala negara, 'Umar terjun langsung di tengah masyarakat. Hidup bersama mereka, bahu-membahu dengan mereka. Memikul sendiri makanan dari Baitul Mal untuk rakyatnya. Selama 2 tahun, beliau pun tak mau makan keju dan mentega, padahal itu merupakan makanan favoritnya.

Sikap ini berhasil membangun kebersamaan, dan sikap ta'awun di tengah masyarakat, di antara sesama mereka. Meski mereka sama-sama saling membutuhkan, tetapi tetap bisa mendahulukan orang lain. Tidak berebut, apalagi saling bunuh-membunuh karena berebut makanan. Inilah yang dikatakan oleh 'Abdurrahman bin 'Auf kepada 'Umar, "Betapa beda keadaan, karena keberkahan kepemimpinanmu? Tidakkah engkau perhatikan bencana dan orang-orang ini? Seandainya bencana ini terjadi di masa Jahiliyah, niscaya kaum Arab kesemuanya pasti sudah saling bunuh untuk memperebutkan sebulir gandum atau setetes air. Tapi lihatlah mereka ini. Mereka semua bersabar dan teguh, mereka menangis tapi ridha kepada takdir Allah. Mereka saling berbagi dengan mengutamakan saudaranya, serta bahu-membahu menghadapi semuanya dengan ketabahan yang takkan terbayangkan di masa lalu.”

Masyarakat dikuatkan mental dan jiwanya untuk tunduk, ridha dan tawakkal kepada Rabb-nya. Pada saat yang sama, mereka ditempa untuk tidak menyerah. Itulah yang disampaikan 'Umar kepada Abu 'Ubaidah al-Jarrah dan penduduk Syam saat ditimpa wabah, "Kita lari dari satu Qadar Allah menuju Qadar Allah yang lain." Secara kolektif, mereka pun diajak untuk memohon kepada Allah, dengan shalat dan munajat. Bahkan, 'Umar secara khusus mengirim surat kepada penduduk Syam dan Irak untuk mendoakan penduduk Madinah saat ditimpa bencana. Begitu juga sebaliknya, ketika Syam diserang wabah.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here