Bela Khilafah, Bela Ustadz Ali Baharsyah - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, April 9, 2020

Bela Khilafah, Bela Ustadz Ali Baharsyah


Hadi Sasongko (Direktur POROS)

Dukungan publik terus mengalir deras kepada ustadz muda, Alimudin Baharsyah yang ditangkap adalah karena Alimudin Baharsyah konsisten mendakwahkan khilafah. Beliau ditetapkan sebagai tersangka Makar melalui sosial media Facebook.

Berkaitan dengan persoalan ini, maka perlu diketahui bahwa khilafah adalah satu-satunya sistem pemerintahan yang sempurna, yang pernah diterapkan oleh umat manusia di muka bumi, tidak ada lain, adalah sistem Khilafah. Karena ini adalah satu-satunya sistem pemerintahan yang digariskan oleh Allah SWT. dan diwariskan oleh Rasulullah saw. secara turun-temurun.

Allah pun menjamin, bahwa Islam yang diemban oleh Nabi, dengan sistem pemerintahannya ini merupakan rahmat bagi alam semesta:

﴿وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ﴾

"Dan, Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), kecuali menjadi rahmat bagi seluruh alam." (QS. al-Anbiya' [21]: 107)

Makna rahmat[an] li al-'alamin dijelaskan oleh al-'Allamah al-Qadhi Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani (w. 1977 M) dengan, "Jalb al-mashalih wa daf'u al-mafasid" (Terwujudnya kemaslahatan dan tercegahnya kerusakan). Hanya saja, kerahmatan bagi seluruh alam ini bukan 'illat syara', tetapi hikmah. Karena ayat ini terkait dengan pengangkatan Nabi Muhammad saw. sebagai Rasul, maka konteks ayat ini sebenarnya terkait dengan syariat Islam secara utuh, yang meliputi akidah dan hukum syara'. Dengan kata lain, Islam sebagai rahmat[an] li al-'alamin ini bisa diwujudkan, jika akidah dan hukum Islam diterapkan secara menyeluruh dalam sebuah negara. Rahmat[an] li al- 'alamin ini juga merupakan hasil dari penerapan Islam secara kaffah (Lihat, an-Nabhani, Muqaddimatu ad-Dustur, Juz I/58-59).

Adapun manifestasi dari rahmat[an] li al- 'alamin itu seringkali dirumuskan oleh ulama' Ushul Fiqh, sebut saja al-Syathibi (w. 790 H), dalam empat bentuk kemaslahatan berikut:

1- Kemaslahatan vital (al-Mashlahah ad-Dharuriyyah);

2- Kemaslahatan pelengkap (al-Mashlahah at-Takmiliyyah);

3- Kemaslahatan yang dibutuhkan (al-Mashlahah al-Hajiyyah);

4- Kemaslahatan kesempurnaan (al-Mashlahah at-Tahsiniyyah)

(Lihat, al-Hafidz as-Syathibi, al-Muwafaqat fi Ushul as-Syari'ah, Juz II/7).

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here