Celah Bagus Para Stafsus - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, April 29, 2020

Celah Bagus Para Stafsus


Oleh: Wafi Mu’tashimah (Siswi SMAIT Al-Amri)

Baru-baru ini, masyarakat digegerkan dengan adanya oligarki dalam dana penanganan Covid-19. Pemerintah dinilai gagal dan lalai dalam pemungutan dan pendistribusiannya.

Beberapa waktu yang lalu, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih memprotes langkah pemerintah yang memotong tunjangan guru hingga Rp 3,5 triliyun, melalui Pilpres no.54 tahun 2020 tentang perubahan postur dan APBN tahun anggaran 2020. (CNN.Indonesia)

Untuk menanggulangi hal ini, pemerintah membuat program kartu pra-kerja menggunakan dana penanganan Covid-19. Platform Ruangguru pun, ditunjuk menjadi salah satu aplikator kartu pra-kerja. Sedangkan Owner Ruangguru, Belva Devara merupakan salah satu staf khusus Presiden Jokowi. Sehingga banyak pihak yang memandang adanya kolusi dan korupsi dalam ketetapan ini. Setelah mendapat berbagai tuduhan, Belva memutuskan mengundurkan diri dari jabatan sebagai stafsus presiden.

Semua fakta ini, mengundang komentar Wakil Sekjen Parta Demokrat, Rachlan Siddiq. Ia berkata, “pertumbuhan ekonomi dalam dalam pandemik ini deprediksi minus. Bisnis terpuruk. PHK dimana-mana, tapi negara malah menyediakan Rp 5,6 triliyun untuk pelatihan online? Kebijakan ini bukan saja tidak perlu. Tapi juga korup bila mitra yang ditunjuk merupakan stafsus presiden”.

Bukannya senang, warga malah kecewa dengan pelatihan ini. Karena mayoritas pembelajaran yang diberikan, bisa didapat secara gratis di youtube. Tidak memerlukan pelatihan intensif.

Rakyat saat ini, membutuhakan bantuan dana secara langsung. Buka sekadar pelatihan. Sebab percuma, setelah selesai kursus nanti, kemungkinan adanya lowongan pekerjaan sangatlah kecil. Boro-boro mau menerima karyawan baru, karyawan lama saja sudah banyak yang dipecat. Mau buka usaha, pemerintah meminta rakyatnya tetap berdiam diri dirumah selam pandemik. Lalu untuk siapa pelatihan ini bila tidak memberi keuntungan bagi rakyat sedikitpun?

Telah terang kedzaliman penguasa saat ini terhadap rakyatnya. Disatu segi, ia memotong dana pendidikan. Tapi disegi lain, pemerintah membuat kursus pelatihan online yang tidak seharusnya mengeluarkan dana yang cukup besar. Bahkan, kebijakan ini tidak menguntungkan bagi rakyat. Tapi menguntungkan antek-antek rezim saja.

Masalah utama dari semua ini adalah sistem kapitalisme yang diterapkan dinegeri ini. Sistem yang menguasai penguasa. Sistem yang meniscayakan dibuatnya kebijakan hanya teruntuk bagi keuntungan para pemilik modal (kapital).

 Maka, yang harus kita lakukan adalah mencampakkan kapitalisme dan menggantinya dengan sistem yang dapat menyelesaikan seluruh problematika ummat. Sistem yang berasal dari Khaliqnya manusia, yaitu Islam.

//Solusi dalam Islam terhadap ekonomi dan korupsi//

Dalam Islam, pemasukan anggaran negara itu sangatlah jelas. Serta sangat mencukupi pemenuhan kebutuhan rakyat saat ada dan tiadanya wabah. Dikutip dari Kitab Nidzomul Islam karya Syekh Taqiyuddin An-Nabhani, untuk urusan administrasi dan pelayanan bagi ummat, negara mengambil harta hanya berdasarkan syari’at Islam saja. Mengambil kharaj, jizyah, cukai perbatasan yang dipungut karena negara bertangung jawab mengatur perdagangan luar dan dalam negeri.

Negara juga mengelola harta kepemiikan umum untuk kemaslahatan dan memenuhi kebutuhan rakyat. Seperti barang tambang, hasil hutan dll. Sedangkan untuk menggaji pegawainya, diambil dari harta kepemilikan negara. Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata; sesungguhnya Nabi SAW bersabda,
“ Orang muslim berserikat dalam 3 hal yaitu: air, rumput (pohon), api (bahan bakar), dan harganya haram. Abu said berkata maksudnya: air yang mengalir" (HR. Ibnu Majah).

Dengan mekanisme seperti ini, tidak ada ceritanya ada pemotongan dana pendidikan untuk penanganan wabah. Sebab, harta diatas sudah cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan rakyat. Meskipun seandainya ada kekurangan suatu saat nanti, maka diambil harta dari orang-orang kaya yang berlebihan hartanya.  Bukan dari pemotongan gaji guru.

Bukti kesuksesan Ekonomi Islam, dapat kita lihat pada masa Khalafah Umar Bin Abdul Aziz. Dimana pada waktu itu, tidak ada satu pun rakyat yang kelaparan. Bahkan dikatakan, jika serigala ditaruh ditengah-tengah domba, maka serigala tidak akan pernah memangsa domba. Hingga Khalifah pun kebingungan akan mendistribusikan dana zakat kemana lagi. Karena sudah tidak ada rakyat daulah yang berhak menenerima zakat

Dalam Daulah Islam pula, tidak akan ada pejabat negara yang berani untuk korupsi. Apalagi mendzalimi rakyatnya. Khalifah akan selalu menjamin ketaqwaan para pejabatnya. Agar mereka selalu merasa diawasi oleh Allah.

Syekh Taqiyyuddin An-Nabhani menyatakan bahwa seorang pejabat negara harus memiliki tiga kriteria penting: al-quwwah (kekuatan), at-taqwa (ketakwaan), dan al-rifq bi ar-ra’iyyah (lembut terhadap rakyat).

Prinsip ini yang dicontohkan Rasulullah ketika mendudukkan jabatan di mata Abu Dzar. Nabi SAW berkata, “Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah, sementara kepemimpinan itu adalah amanat. Pada hari kiamat nanti, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut.” (HR Muslim)

Dangan cara seperti ini, tidak ada lagi pejabat negara yang yang berani untuk menipu dan mendzalimi rakyatnya. Akan tetapi, pemimpin dan mekanisme ekonomi seperti diatas hanya akan terealisir dalam naungan Daulah Islam. Daulah yang sedang kita tunggu-tunggu kebangkitannya.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here