Khilafah Yang Diserukan Ustadz Ali Baharsyah Adalah Ajaran Islam, Haram Hukumnya Mengkriminalisasi Khilafah Dan Penyerunya - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, April 9, 2020

Khilafah Yang Diserukan Ustadz Ali Baharsyah Adalah Ajaran Islam, Haram Hukumnya Mengkriminalisasi Khilafah Dan Penyerunya


Abu Inas (Tabayyun Center)

Kembali mempersoalkan penangkapan da'i muda aktivis Islam Alimudin Baharsyah, yang kini dihjerat pasal berlapis selain pasal terkait suku agama ras dan antargolongan (SARA)-Ras karena mengunggah konten yang membela saudara Muslim Uighur di Xinjiang, beliau mendapatkan tuduhan Makar melalui Facebook berdasarkan pasal 107 KUHP. Berulang kali Penyidik memperlihatkan sejumlah screbshoot berisi video tentang dakwah khilafah dalam proses pemeriksaan (BAP).

Kami menegaskan bahwa khilafah adalah ajaran Islam. Para ulama' dari berbagai mazhab, baik Sunni, Syi'i, Muktazilah, Khawarij maupun yang lain, telah menyepakati wajibnya Khilafah, serta mengangkat seorang Khalifah.

As-Syaikh Dr. Wahbah Zuhaili mengatakan:

تَرَى اْلأَكْثَرِيَّةُالسَّاحِقَةُمِنْعُلَمَاءِاْلإِسْلاَمِوَهُمْأَهْلُالسُّنَةِوَالْمُرْجِئَةُوَالشِّيْعَةُوَاْلمُعْتَزِلَةُإِلاَّنَفَراً مِنْهُمْ، وَاْلخَوَارِجُمَا عَدَا النَّجْدَاتِ : ) أَنَّاْلإِمَامَةَأَمْرٌوَاجِبٌأَوْفَرْضٌمُحَتَّمٌ

"Mayoritas ulama Islam –yaitu ulama Ahlussunnah, Murji'ah, Syi'ah, dan Mu'tazilah kecuali segelintir dari mereka, dan Khawarij kecuali Sekte an-Najdat– berpendapat bahwa Imamah (Khilafah) adalah perkara yang wajib atau suatu kefardhuan yang pasti." (Lihat, Wahbah Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Juz VIII/272).

Dari zaman dulu hingga sekarang, para ulama sepakat, bahwa hukum menegakkan Khilafah dan mengangkat seorang Khalifah adalah wajib bagi kaum Muslim. Jika ada yang mengatakan tidak wajib, maka meminjam ungkapan Imam al-Qurthubi, itu adalah orang tuli, seperti al-Asham, dari Sekte Muktazilah, dan an-Najadat, dari Sekte Khawarij. Mereka ini merupakan kelompok sempalan.

Al-Imam al-Quthubi (w. 671 H), mazhab Maliki, mengatakan:

وَلاَ خِلَافَ فِيْ وُجُوْبِ ذَلِكَ بَيْنَ الْأُمَّةِ وَلاَ بَيْنَ الْأَئِمَّةِ، إِلاَّ مَا رُوِيَ عَنِ الْأَصَمِّ، حَيْثُ كَانَ عَنِ الشَّرِيْعَةِ أَصَمُّ. وَكَذَلِكَ كُلُّ مَنْ قَالَ بِقَوْلِهِ وَاتَّبَعَهُ عَلىَ رَأْيِهِ وَمَذْهَبِهِ ).

"Tidak ada perbedaan pendapat mengenai wajibnya hal itu (mengangkat Khalifah) di antara umat dan para imam [mazhab], kecuali apa yang diriwayatkan dari Al Asham, yang dia itu memang 'asham' (tuli) dari Syariat. Demikian pula setiap orang yang berkata dengan perkataannya serta mengikutinya dalam pendapat dan mazhabnya." (Lihat, al-Qurthubi, al-Jami' li Ahkami al-Qur'an, Juz I/264).

Karena itu, hukum menegakkan Khilafah merupakan perkara Ma'lum[un] min ad-din bi ad-dharurah (yang sudah diketahui urgensinya dalam Islam). Maka, tidak boleh ada kaum Muslim tidak tahu, bahwa menegakkan Khilafah hukumnya wajib. Sebagaimana tidak boleh tidak tahu, bahwa hukum menegakkan shalat lima waktu hukumnya wajib. Maka haram hukumnya mengkriminalisasi seseorang lantaran ia menyerukan kebenaran.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here