Membela Bung Ali Baharsyah Yang Tegas, Meski Pihak - Pihak Tertentu Tidak Tahan Dengan Nasihat Yang Benar Tersebut - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, April 7, 2020

Membela Bung Ali Baharsyah Yang Tegas, Meski Pihak - Pihak Tertentu Tidak Tahan Dengan Nasihat Yang Benar Tersebut


_Boedihardjo, S.H.I (Ketua LBH Pelita Umat Korwil Jatim)_

Pertama, kabar gembira hari ini adalah masyarakat yang mencintai kepada Islam, ajarannya, simbol-simbolnya dan perjuangan penegakan syariahnya secara kaffah.

Ini adalah hal yang tidak pernah diduga sebelumnya. Ketika umat Islam dijauhkan dari Islam, ternyata kecintaan mereka terhadap Islam semakin bertambah baik dan luar biasa. Hal ini dianggap menjadi ancaman bagi rezim, sehingga membuat mereka khawatir. Dalam sejarah memang para ulama dan mubaligh Islam gigih dalam syiar dakwah dan menentang kejahatan-kejahatan penguasa zalim serta para penjajah.

Kabar sedihnya, tidak dapat dipungkiri, umat Islam di negeri ini menjadi bulan-bulanan. Beragam cara dihembuskan dan didesain dengan wacana 'kontra-radikalisme'. Institusi pemerintahan beserta alatnya, dunia pendidikan, lembaga keagamaan dan ormas keagamaan turut serta menyatakan menolak radikalisme. Penandatanganan kesepakatan dan pernyataan dibubuhkan menjadi gerakan nyata. Dunia maya pun mengampanyekan hal serupa: say no to radicalism.
Upaya tadi kian tampak tatkala peristiwa teror dan bom muncul: pengopinian kelompok anti-Pancasila, NKRI, UUD dan kebhinekaan; pelarangan segala bentuk ide pemikiran Islam yang dianggap radikal.

Istilah radikal yang sebenarnya netral, kini jadi alat membidik Islam. Ciri-cirinya disampaikan oleh LSM liberal yang mendapat donor dari USAID dan asing. Mereka merinci radikal dengan: tidak mau bertetangga dengan beda agama, tidak setuju menikah beda agama, tidak setuju anggota keluarga pindah agama, menolak orang tidak beragama, tidak menerima rumah ibadah agama lain di lingkungannya, menolak ada agama lain di luar enam agama resmi, anti Ahmadiyah, ingin menerapkan syariah Islam, setuju hukum rajam, setuju Khilafah, serta menolak demokrasi.

Jelas, Islam dibidik karena dianggap sebagai inspirasi tindakan radikal. Pemberitaan media massa pun menggiring opini itu. Padahal banyak peristiwa juga dilatarbelakangi beragam kepentingan dan pelakunya bukan Muslim. Sungguh tidak adil dan jauh dari kebenaran.

Kontra radikalisme ini juga merupakan agenda global yang diturunkan ke negeri-negeri kaum Muslim. Tujuannya yaitu: Pertama, menjauhkan umat Islam dari agamanya. Khazanah Islam berupa pemikiran, tata nilai hidup, dan aturan yang sempurna coba dikotakkan hanya dengan ritual-spiritual.

Berikutnya, menyoal penangkapan Mubaligh Muda Ali Baharsyah, beliau dalam sikap dan perjalanannya hanya berpegang teguh pada syariah. Beliau dalam seruan - seruannya tidak pernah menyalakan konflik sektarian yang menjijikkan sebagaimana yang ditempuh oleh Barat untuk memicu sektarianisme di antara kaum Muslim. Akan tetapi, analisis dan pandangan Ustadz Ali Baharsyah terhadap berbagai peristiwa adalah pandangan tegas yang mendeskripsikan realita sebagaimana adanya, meski pihak-pihak yang tertentu tidak tahan dengan kenyataan pahit dan nasihat yang benar tersebut.

Adapun pasal berlapis dijeratkan pada aktivis Islam Alimudin Baharsyah, salah satunya pasal terkait suku agama ras dan antargolongan (SARA)-Ras karena mengunggah konten yang membela saudara Muslim Uighur di Xinjiang. Sudah sepatutnya, kita semua mendukung dan membela aktivitas dakwah yang membela saudara Muslim Uighur yang dizalimi rezim negara komunis Cina. Meski aparat menggunakan pasal berlapis tetapi persoalan utama sehingga Ali ditangkap adalah karena mendakwahkan kewajiban menegakkan khilafah.

Padahal, mengangkat seorang khalifah adalah kewajiban yang telah disepakati para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja).  Menolak atau mengingkari kewajiban ini sama artinya telah menyimpang dari kesepakatan mereka.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here