Mendukung Aktivis Islam Ali Baharsyah Yang Istiqomah Menyerukan Khilafah - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, April 9, 2020

Mendukung Aktivis Islam Ali Baharsyah Yang Istiqomah Menyerukan Khilafah


Taufik S. Permana (Geopolitical Institute)

Dukungan masyarakat menguat kepada Saudara Alimudin Baharsyah yang ditangkap, berikutnya dicitrakan negatif, mirip kasus yang menimpa HRS. Kuasa hukumnya menyampaikan bahwa persoalan utama yang dihadapi saudara Alimudin Baharsyah justru ada pada tuduhan Makar melalui Facebook berdasarkan pasal 107 KUHP. Berulang kali Penyidik memperlihatkan sejumlah screbshoot berisi video tentang dakwah khilafah dalam proses pemeriksaan (BAP).

Berkaitan dengan persoalan ini, perlu ditegaskan, bahwa seruan khilafah adalah seruan yang baik. Seruan khilafah adalah kewajiban dalam Islam. Apakah negara yang MAYORITAS penduduknya muslim ingin mengkriminalisasi warganya yang mendakwahkan Islam?

Hendaknya siapapun tidak mengkriminalisasi khilafah dan pengembannya. Menegakkan Khilafah dalam Islam adalah kewajiban syar'i yang didasarkan pada dalil-dalil syariah.  Bahkan kewajiban menegakkan Khilafah yang menerapkan syariah Islam secara kâffah adalah perkara yang mujma''alayhi (disepakati oleh para ulama mu'tabar). Karena itu jika ada yang menyelisihi kewajiban ini maka tidak perlu dianggap karena jelas  menyimpang. Imam 'Alauddin al-Kasani al-Hanafi berkata:

وَلِأَنَّ نَصْبَ الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ فَرْضٌ، بِلَا خِلَافٍ بَيْنَ أَهْلِ الْحَقِّ، وَلَا عِبْرَةَ بِخِلَافِ بَعْضِ الْقَدَرِيَّةِ

...karena sesungguhnya mengangkat imam yang agung (khalifah) adalah fardhu, tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan ahlul haq, dan tak perlu dianggap adanya perbedaan dari sebagian kalangan Qadariyyah.

Dalam menyikapi semua ketetapan hukum syariah, seorang Mukmin sejatinya hanya memiliki satu sikap, yakni: sami'na wa atha'a (kami mendengar dan kami taat). Sebabnya, perintah Allah SWT adalah untuk dijalankan, bukan untuk diperdebatkan, apalagi dibantah dan ditentang. Karakter Mukmin yang sebenarnya ini digambarkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

﴿إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا﴾

Sungguh jawaban kaum Mukmin itu, jika mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, ialah ucapan. "Kami mendengar dan kami patuh." (TQS an-Nur [24]: 51).

Karena itu ketika mereka mendengar seruan untuk menegakkan Khilafah yang diwajibkan oleh Allah SWT, mereka pun berkata, "Sami'na wa ataha'na (Kami mendengar dan taat)."

Sikap taat akan mengantarkan pelakunya mendapatkan kemenangan yang besar. Allah SWT berfirman:

﴿وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾

Siapa saja yang menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh ia telah mendapat kemenangan yang besar (TQS al-Ahzab [33]: 71).

Ketika Allah SWT dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu urusan, maka tidak patut bagi seorang Mukmin mencari pilihan lain. Seorang Mukmin yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa keputusan Allah SWT pasti benar dan adil. Allah SWT berfirman:

﴿وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا﴾

Tidaklah patut bagi seorang laki-laki Mukmin maupun perempuan Mukmin, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Siapa saja yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata (TQS al-Ahzab [33]: 36).

Karena itu ketika Allah SWT dan Rasul-Nya menetapkan Khilafah sebagai sistem pemerintahan, seorang Mukmin tidak akan mencari alternatif lainnya, seperti sistem kerajaan atau republik. Demikian pula ketika Allah SWT dan Rasul-Nya telah mewajibkan sistem ekonomi Islam, dia tidak akan tergoda dengan kapitalisme, liberalisme atau komunisme. Dia juga tidak akan tergiur dengan ideologi sekularisme, paham pluralisme, materialisme dan paham-paham lainnya.

Seorang Mukmin akan bersegera untuk menunaikan kewajiban agung ini, yakni menegakkan Khilafah. Tidak akan menunda-nunda, apalagi mengabaikannya. Apalagi ketika waktu yang telah ditetapkan syariah untuk menunaikannya hampir habis atau bahkan sudah habis. Allah SWT berfirman:

﴿وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ﴾

Bersegeralah kalian meraih ampunan dari Tuhan kalian dan meraih surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk kaum yang bertakwa (TQS Ali Imran [3]: 133).

Lihatlah yang dilakukan oleh para sahabat. Tak lama setelah Rasulullah saw wafat, para sahabat segera berkumpul di Saqifah Bani Saidah. Mereka menyibukkan diri dalam urusan pengangkatan khalifah, yang menjadi pengganti Nabi saw. sebagai kepala negara. Bahkan mereka lebih mendahulukan urusan tersebut daripada mengurus dan memakamkan jenazah Rasulullah saw. Padahal mengurus dan memakamkan jenazah termasuk perkara fardhu yang harus disegerakan.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here