Menolak Sekulerisme - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, April 28, 2020

Menolak Sekulerisme

Yuli Sarwanto

Pada dasarnya Islam mengatur segenap perbuatan manusia dalam hubunganya dengan Tuhannya, yakni Allah SWT, melalui hukum-hukum yang terkait akidah dan ibadah ritual seperti shalat, shaum, zakat, haji, dan sebagainya. Islam juga mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri yakni berupa hukum-hukum yang terkait akhlak, pakaian dan makanan. Islam pun mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya melalui hukum-hukum yang terkait muamalah dan 'uqubat, seperti ekonomi, pemerintahan, politik, dakwah, pendidikan, perang, pidana, dan lain sebagainya (Lihat: Taqiyyudin an-Nabhani, 2001, Nizham al-Islam).

Terkait hal tersebut maka sangat penting untuk memahami bahwa Islam menolak sekularisme karena Islam bersifat menyeluruh; mengatur ketiga jenis hubungan tersebut. Ide sekularisme pada dasarnya adalah upaya pemisahan agama (Islam) dari kehidupan publik/negara (fashl ad-din 'an ad-dawlah). Ide ini sebenarnya berakar dari peradaban Barat-Kristen, yang memisahkan agama (Kristen) dari negara. Tentu hal ini tidak sesuai dengan realita syariah Islam.

Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw. untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, dirinya dan sesamanya. Syariah Islam yang terkait pengaturan manusia dengan Tuhannya dan dirinya sendiri ini bisa dilaksanakan oleh individu. Meski demikian, untuk kesempurnaannya harus ada peran negara di dalamnya. Adapun syariah yang terkait pengaturan hubungan manusia dengan sesamanya, muamalat dan 'uqubat (sanksi hukum), sebagian besar harus dilaksanakan oleh negara. Misalnya muamalat yang terkait pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan, politik, keamanan, dan sebagainya. Hanya sebagian kecil aktivitas muamalat yang bisa dilaksanakan tanpa peran negara. Syariah Islam yang mengatur masalah 'uqubat (sanksi hukum) seperti hukum hudûd, jinayat, ta'zir dan mukhalafat, mutlak harus dilaksanakan oleh negara, tidak boleh dilaksanakan oleh kelompok apalagi individu.

Faktanya rangkaian proses sekularisasi pemikiran Islam di Indonesia telah digelorakan sejak tahun 80-an oleh Nurcholis Madjid. Di dalam bukunya, "Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan" (Mizan, 1987), Nurcholis Madjid menyerukan untuk membangun Islam inklusif yang bersifat terbuka dan toleran terhadap ajaran agama lain dan budaya keindonesiaan. Buku-buku serupa yang mempropagandakan paham sekularisme, pluralisme dan liberalisme juga terus diterbitkan. Di antaranya adalah buku "Membela Kebebasan Beragama: Percakapan tentang Sekularisme, Liberalisme dan Pluralisme" yang diterbitkan oleh LSAF dan Paramadina, tahun 2010. Pada buku tersebut dituliskan bahwa ketiga paham tersebut, yakni sekularisme, pluralisme dan liberalisme wajib dikembangkan di Indonesia sebagai prasyarat mutlak tegaknya demokrasi di Indonesia.

Perlu dicatat pula bahwa sekularisasi di Indonesia dan di negeri-negeri Muslim lainnya didukung oleh negara-negara Barat, khususnya AS. Pasalnya, mereka berkepentingan untuk melanggengkan ideologi Kapitalisme di negeri-negeri Muslim, sekaligus menyingkirkan ideologi Islam sebagai rival utamanya. Tentu kita masih ingat, Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (CLD KHI) yang dulu sempat kontroversial karena isinya melanggar syariah itu didanai oleh The Asia Foundation.

Karena itu pada bulan Ramadhan ini, selain perlu dibahas masalah ibadah dan akhlak, perlu pula disampaikan di berbagai acara pengajian dan khutbah tarawih tentang penerapan syariah Islam yang bersifat syumuliyah tersebut. Hal ini sebagai upaya membersihkan pemikiran umat dari ide sekularisme, sekaligus menyelamatkan umat dari bahaya propaganda sekularisme yang bermuara pada kepentingan negara-negara kapitalis penjajah di negeri-negeri Muslim.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here