Pada Islam Ada Solusi Tuntas - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, April 16, 2020

Pada Islam Ada Solusi Tuntas


Hadi Sasongko (Direktur Poros)

Mencermati musibah yang sekarang ini dihadapi oleh negeri tercinta ini, dimana negeri yang mempunyai kekayaan alam yang melimpah, diterpa wabah covid-19. Dimana virus sudah menelan banyak korban di seluruh belahan  bumi. Virus ini di nyatakan oleh WHO sebagai badan kesehatan internasional adalah pandemic. Negeri yang kita cintai juga tidak luput dari keganasan virus covid-19 ini. Banyak tenaga kesehatan dan juga masyarakat yang juga menjadi korban.

Berbagai cara yang dilakukan oleh para pemangku kebijakan negeri ini untuk menanggulangi dan memutus mata rantai penyebaran virus covid-19 ini. Make to mask, social distance, stay at home, hand washing and healty life. Hal ini seluruh masyarakat agar selalu menjalankannya, harapannya virus covid-19 ini dapat segara teratasi dan juga memutus penyebarannya.

Dikalangan masyarakat juga dibatasi juga dalam hal berkerumun orang banyak. Masjid, pedagang, dan masyarakat yang memiliki usaha pun juga dibatasi utk tidak mengundang orang banyak berkumpul. Karena hal ini berpotensi kan mempercepat penyebaran virus covid-19.
Ini akan berpengaruh dan berdampak dalam laju ekonomi dan kebutuhan yang ada di masyarakat.

Bahkan menjadi penyusutan ekonomi secara global. Sesuai yang di lansir  Antara pada Kamis (2/4/2020) "Ekonomi global akan menyusut sehingga satu persen pada 2020 karena pandemic Virus Corona baru atau Covid1-9 dan dapat berkontraksi lebih jauh jika pembatasan kegiatan ekonomi diperpanjang tanpa respons fiscal memadai. Hal itu disampaikan Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB (UN-DESA)". Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan Indonesia cukup terhantam keras dengan penyebaran virus corona. Tidak hanya kesehatan manusia, virus ini mengganggu kesehatan ekonomi di seluruh dunia. Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) kata Ani, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam scenario terburuk bisa minus 0,4 persen. "Pertumbuhan ekonomi kita berdasarkan assessment yang tadi kita liat BI, Maka dari itu seharusnya pemerintah harus cepat dan tanggap dalam menangani masalah ini dan tidak dijadikan sesuatu hal sepele, sehingga jaminan kesehatan, ekonomi, keamanan dan juga sosial terhadap masyarakat haruslah OJK, LPS dan kami memperkirakan bahwa petumbuhan ekonomi akan turun ke 2,3 persen, bahkan dalam skenarionya yang lebih buruk, bisa mencapai negative 0,4 persen," ungkapnya dalam telekonfrensi di Jakarta, Rabu (1/4/2020).

 Apabila hal ini dibiarkan atau tidak ditangani secara serius, maka yang terjadi ekonomi negeri ini akan kolaps dan yang paling merasakan dampaknya adalah masyarkat menengah kebawah, ini akan menjadikan penjarahan supermarket dimana mana, perampokan, atao bahkan menjadikan ketidakpercayaan masyarakat dengan pemerintahan yang ada. Sungguh berbahaya. Oleh karena itu pemerintah harus memusatkan, pertama, kesehatan dan masalah kemanusiaan harus ditangani. Kedua, menjamin kondisi masyarakat terutama jaring pengamanan sosial kepada masyarakat kebawah dan bagaimana melindungi sektor usaha ekonomi supaya masyarakat bahwa tidak mengalami damage atau bisa bertahan dalam situasi sulit. Ketiga, pemerintah harus senantiasa menjamin kebutuhan mendasar yakni bahan pangan masyarakatnya dalam situasi kondisi seperti saat ini. Langkah langkah ini dapat dilakukan oleh pemerintah dengan tegas dan serius.

Hal ini merupakan kewajiban bagi seorang pemimpin yang dimana sesuai dengan hadist Nabi : "Pemimpin masyarakat adalah pemelihara dan dia bertanggung jawab atas urusan rakyatnya" (HR. Bukhari dan Muslim). Dan dalam lain yang dikatakan kepada Abu Dzar, Nabi Muhammad SAW bersabda : "Sesungguhnya (Kepemimpinan) itu adalah amanah. Pada hari kiamat ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi mereka yang menunaikan amanah tersebut sesuai haknya dan menjalankan kewajibannya." (HR. Muslim)

Ilustrasi sederhana penanganan bencana yang dilakukan oleh Daulah Khilafah Islamiyah adalah apa yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin al-Khaththab ra ketika menangani paceklik yang menimpa jazirah Arab.   Pada saat itu, orang-orang mendatangi Kota Madinah–pusat pemerintahan Khilafah Islamiyah—untuk meminta bantuan pangan. Umar bin Khaththab ra segera membentuk tim yang terdiri dari beberapa orang sahabat, seperti Yazid bin Ukhtinnamur, Abdurrahman bin al-Qari, Miswar bin Makhramah, dan Abdullah bin Uthbah bin Mas’ud ra.  Setiap hari, keempat orang sahabat yang mulia ini melaporkan seluruh kegiatan mereka kepada Umar bin Khaththab ra, sekaligus merancang apa yang akan dilakukan besok harinya.   Umar bin Khaththab ra menempatkan mereka di perbatasan Kota Madinah dan memerintahkan mereka untuk menghitung orang-orang yang memasuki Kota Madinah.  Jumlah pengungsi yang mereka catat jumlahnya terus meningkat.  Pada suatu hari, jumlah orang yang makan di rumah Khalifah Umar bin Khaththab ra berjumlah 10 ribu  orang, sedangkan orang yang tidak hadir di rumahnya, diperkirakan berjumlah 50 ribu orang.   Pengungsi-pengungsi itu tinggal di Kota Madinah selama musim paceklik. Dan selama itu pula mereka mendapatkan pelayanan yang terbaik dari Khalifah Umar bin Khaththab ra.  Setelah musim paceklik berakhir, Umar bin Khaththab ra memerintahkan agar pengungsi-pengungsi itu diantarkan kembali di kampung halamannya masing-masing.  Setiap pengungsi dan keluarganya dibekali dengan bahan makanan dan akomodasi lainnya, sehingga mereka kembali ke kampung halamannya dengan tenang dan penuh kegembiraan.

Hanya dengan kembali kepada Islam lah, negeri ini akan menjadi negeri yang akan selalu di berkahi oleh Allah SWT krn tidak ada jalan lain. Bukanlah Kapitalisme ataupun Sosialis yang akan mengentaskan permasalahan wabah virus corona ini.  Wallahu a'lam bi ash shawab

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here