Politik Adalah... - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, April 28, 2020

Politik Adalah...


Mahfud Abdullah (Dir. Indonesia Change)

Islam tidak memisahkan spritualisme dan politik karena keduanya diatur dalam syariah Islam. Politik yang dimaksud bukanlah seperti yang diungkapkan oleh Harold D Lasswell (1936) dalam bukunya: Politics: Who Gets What, When, How. Dia mendudukkan politik hanya sebagai persoalan siapa mendapat apa, kapan dan bagaimana. Akibatnya, politik identik dengan upaya meraih kepentingan pribadi dan kelompok semata.

Menurut Taqiyuddin an-Nabhani (2005) dalam bukunya, Mafâhîm Siyâsiyah li Hizb at-Tahrîr, politik adalah pengaturan urusan umat di dalam dan luar negeri. Politik dilaksanakan oleh negara dan umat. Negaralah yang secara langsung melakukan pengaturan ini secara praktis, sedangkan umat mengawasi negara dalam pengaturan tersebut. Pengaturan urusan umat di dalam negeri dilakukan oleh negara dengan menerapkan ideologi Islam berupa pelaksanaan syariah Islam secara kâffah di dalam negeri. Pengaturan urusan umat di luar negeri dilakukan dengan cara mengadakan hubungan dengan berbagai negara, bangsa, dan umat lain, serta menyebarkan ideologi Islam ke seluruh dunia.

Dengan demikian politik berdasarkan definisi an-Nabhani tersebut, yakni pengaturan urusan umat di dalam dan luar negeri dengan hukum Islam, tidak dapat dipisahkan dengan spiritualisme yang berupa ibadah ritual. Keduanya merupakan satu kesatuan dalam struktur sistem Islam. Definisi oleh an-Nabhani tersebut disandarkan pada hadis-hadis yang menunjukkan aktivitas penguasa, kewajiban mengoreksi penguasa, serta pentingnya mengurus kepentingan kaum Muslim. Salah satu di antaranya adalah hadist dari Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ

Dulu Bani Israil selalu dipimpin dan diurus oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, dia digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudah aku. Yang ada adalah para khalifah yang banyak jumlahnya (HR Muslim).

Pengertian politik oleh an-Nabhani tersebut dapat dipandang sebagai pengertian syar'i karena diambil dari dalil-dalil syariah. Karena itu kaum Muslim semestinya tidak memisahkan spiritualisme dengan politik Islam. Hal tersebut, selain melanggar syariah, juga akan menjauhkan umat dari upaya penerapan syariah secara kâffah. Menerima sebagian syariah Islam (spiritualitas dan moralitas semata) dan menolak sebagian yang lain (politik, pemerintahan, ekonomi, dan lain-lain) merupakan penyimpangan dari Islam. Ini adalah kebiasaan orang Yahudi yang diancam oleh Allah SWT:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ
Apakah kalian mengimani sebagian al-Kitab (Taurat) dan mengingkari sebagian lainnya? Tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada Hari Kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat (QS al-Baqarah [2]: 85).

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here