Rakyat Butuh Pemimpin Jujur! - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, April 1, 2020

Rakyat Butuh Pemimpin Jujur!


Agung Wisnuwardana (Indonesia Justice Monitor)

Keseriusan pemerintah menghadapi wabah corona sejak awal dipertanyakan publik. Sebelum wabah ini merebak cepat, ada kesan Pemerintah sengaja menutup-tutupi informasi tentang persebaran wabah Corona dimaksudkan untuk menghindari kegaduhan.

Akan tetapi kecenderungan penerintah menutup-tutupi masalah wabah Corona justru dianggap sebagian kalangan menimbulkan kecemasan bahkan kepanikan di kalangan masyarakat. Sebab yang dilakukan pemerinrah berbeda jika dibandingkan langkah Pemerintah langkah negara-negara lain yang bersifat terbuka, bahkan tidak segan-segan menyatakan negara darurat Corona sehingga mendeklarasikan kota-kota tertentu dinyatakan tertutup (lockdown), akan jelas sekali beda antara keterbukaan dan ketertutupan, serta kejujuran dan ketakjujuran.

Ketakjujuran dan ketakterbukaan Pemerintah tentang wabah Corona, merupakan masalah dan ancaman bersama serta tidak akan memecahkan masalah dan hanya akan menimbulkan masalah baru.

Hal lain yang patut dipertanyakan adalah Pemerintah melibatkan Badan Intelijen Negara/BIN dalam penanggulangan Wabah Corona. Padahal yang lebih relevan untuk itu adalah melibatkan, selain Kemenkes, juga Perguruan Tinggi dengan berbagai jurusannya, baik untuk observasi, analisa, maupun penyiapan teknologi tepat sasaran.

Adapun kesan pemerintah kurang serius bahkan meremehkan wabah tersebut misal pada pernyataan yang intinya: kita tidak terkena wabah karena Indonesia berada di iklim tropis, dan lain sebagainya, hal ini berdampak semakin tingginya ketidakpercayaan masyarakat pada rezim kapitalis ini. Waswas bahkan skeptis.

Sebagian publik hari ini mempertanyakan pada kejujuran dan transparansi pemerintah dalam mengatasi wabah ini. Terkait problem ini, kita diingatkan dalam kitab, al-Mustadrak 'ala as-Sahihain, al-Hakim mengeluarkan hadits:

» سَيَأْتِيَ عَلَى الناَّسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ يُصَدَّقُ فِيْهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيْهَا الأَمِيْنُ وَيَنْطِقُ فِيْهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيْلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ» [رواه الحاكم في المستدرك، ج 5/465]

"Akan tiba pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan. Saat itu, orang bohong dianggap jujur. Orang jujur dianggap bohong. Pengkhianat dianggap amanah. Orang amanah dianggap pengkhianat. Ketika itu, orang "Ruwaibidhah" berbicara. Ada yang bertanya, "Siapa Ruwaibidhah itu?" Nabi menjawab, "Orang bodoh yang mengurusi urusan orang umum." (Hr. al-Hakim, al-Mustadrak 'ala as-Shahihain, V/465).

Mengenai hadits ini, al-Hakim berkomentar, "Ini adalah hadits dengan isnad sahih, meski al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya. Imam ad-Dzahabi menyetujuinya." Jadi, hadits ini adalah hadits sahih, yang dinyatakan sahih oleh al-Hakim dan ad-Dzahabi.

Dalam riwayat lain, Nabi menyatakan:

«يَكُونُ أَمَامَ الدَّجَّالِ سِنُونَ خَوَادِعٌ» [رواه الطبراني في الكبير، ج 12/438]

"Sebelum datangnya Dajjal akan ada tahun-tahun kebohongan." (Hr. at-Thabari, al-Mu'jam al-Kabir, XII/438)

Jika hadits ini diterapkan dalam konteks sekarang, maka ketika Kapitalisme, Sekularisme dan rezim demokrasi berkuasa di muka bumi. Tahun-tahun penuh kebohongan tersebut tampak dengan jelas dalam sistem Demokrasi. Mengapa?

Ketika Demokrasi mengklaim Vox populi, vox Dei (Suara rakyat, suara Tuhan), maka klaim itu nyata bohong. Ketika Demokrasi diklaim, pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat, nyata bahwa klaim ini juga bohong. Karena rakyat tidak benar-benar memerintah, begitu juga pemerintahannya bukan untuk rakyat. Tetapi, untuk memenuhi kepentingan cukong. Ketika Demokrasi mengklaim kedaulatan di tangan rakyat, nyatanya rakyat tidak berdaulat. Karena hukum yang dibuat tidak untuk kepentingan mereka, melainkan untuk kepentingan pemodal/asing.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here