Ramadhan Dalam Ujian Berat, Momentum Untuk... - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, April 28, 2020

Ramadhan Dalam Ujian Berat, Momentum Untuk...

M. Arifin (Tabayyun Center)

Bulan Romadhan tahun ini penuh ujian, yakni sistem dan kekuasaan sekuler serta wabah covid-19. Seharusnya kita berbenah, bangkit dari musibah, menuju takwa. Wujud takwa tidak hanya untuk pribadi semata, ketakwaan akan memberikan dampak positif dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Apalagi bila ketakwaan itu terpancar dari seorang pemimpin, insya Allah negeri yang dia pimpin akan jauh dari kesengsaraan dan penderitaan.

Thalq bin Habib berkata, "Takwa artinya Anda melaksanakan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya (ilmu dan iman) dari-Nya karena mengharap pahala-Nya serta Anda meninggalkan segala bentuk kemaksiatan kepada-Nya berdasarkan cahaya-Nya karena takut terhadap siksa-Nya."

Selama Ramadhan, seorang Muslim menjaga dirinya bukan saja dari perkara yang haram, semisal minuman keras atau berzina, tetapi juga dari semua perkara yang dapat membatalkan puasa walaupun sebenarnya di luar Ramadhan itu adalah halal, seperti minum atau berjimak dengan pasangan yang sah.

Seorang Muslim yang sungguh-sungguh berpuasa juga menjaga dirinya dari perkara yang merusak pahala puasa semisal perkataan dusta, kasar dan kotor, menipu, dll. Itulah tujuan puasa Ramadhan, membuat pelakunya menjadi insan yang berhati-hati dalam berbuat. Takut melanggar hukum-hukum Allah SWT sekecil apapun. Hal itu persis seperti penjelasan Ubay bin Kaab ra. kepada Umar bin al-Khaththab ra. saat ia ditanya tentang makna takwa. Ubay ra. balik bertanya, "Apakah engkau pernah melewati jalan berduri?" Umar menjawab, "Ya." Kaab bertanya lagi, "Apa yang engkau lakukan?" Umar pun menjawab, “Aku berhati-hati dan berusaha agar tidak tertusuk." Ubay menjawab, "Itulah takwa!”

Karena itu setiap Muslim yang menjalankan shaum Ramadhan dengan sebenar-benarnya akan melindungi dirinya dari perbuatan maksiat kecil maupun besar. Jangankan menumpahkan darah saudaranya yang seiman, melecehkan mereka pun tak akan ia lakukan. Ia paham bahwa ciri seorang Muslim adalah yang menjadikan sesama Muslim lainnya terjaga dari gangguan lisan dan tangannya.

Seorang Muslim yang bertakwa senang menolong saudaranya yang sedang kesusahan, memberikan tausiyah yang bermanfaat dan bahu-membahu melaksanakan ketaatan total kepada Allah SWT dengan memperjuangkan penerapan syariah secara kaffah.

Seorang Muslim yang bertakwa tidak akan mempersekusi saudaranya yang seiman, apalagi bersekongkol dengan orang fasik dan kafir untuk menjatuhkan kehormatannya, terutama ketika saudaranya tengah berjuang di jalan Allah SWT. Rasul saw. bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ

Muslim adalah saudara Muslim yang lain; ia tidak menzalimi dan menyerahkan saudaranya itu (kepada musuh) (HR al-Bukhari).

Setiap tahun negeri ini bersikap mendua pada saat memasuki bulan Ramadhan. Menutup tempat hiburan malam. Menghias kota dengan nuansa ibadah. Televisi ramai dengan acara pengajian. Namun, selepas Ramadhan, ketakwaan seolah nyaris tak berbekas dalam kehidupan pribadi apalagi masyarakat. Berbagai kegiatan maksiat seperti hiburan malam kembali diizinkan.

Umat pun banyak yang bersikap relijius hanya saat Ramadhan, tetapi kemudian berubah ketika Ramadhan telah usai. Sikap inilah yang disebut sebagai "imma'ah", tak punya pendirian. Sikap ini dicela oleh Rasulullah saw.:

لا تكُونُوا إمَّعةً تقولُونَ: إنْ أحسنَ النَّاسُ أحسنَّا وإنْ ظلمُوا ظلمْنَا، ولكِنْ وطِّنُوا أنفسكم إن أحسنَ النَّاسُ أنْ تُحسِنُوا وإنْ أساءُوا فلا تظلِمُوا

Jangan kalian menjadi imma'ah! Kalian mengatakan, "Jika manusia berbuat baik, kami pun  berbuat baik. Jika mereka berbuat zalim, kami pun berbuat zalim." Akan tetapi, kokohkan diri kalian. Jika manusia berbuat baik, kalian berbuat baik. Jika mereka berbuat buruk, maka jangan kalian berlaku zalim (HR at-Tirmidzi).

Kita pantas bertanya: apakah takwa sudah benar-benar melekat pada diri kita ataukah baru sebatas jargon belaka? Takwa yang hanya sekadar jargon tentu tidak akan membawa dampak perubahan apapun dalam kehidupan. Bagi kelompok orang semacam ini agama hanya dipakai untuk pencitraan agar dekat dengan umat. Padahal kemudian ia mengerjakan kemungkaran, mencegah yang makruf, lagi menyusahkan rakyat banyak. Ini jelas perilaku munafik yang tercela di mata Allah SWT (QS at-Taubah [9]: 67).

Di antara kesempurnaan shaum pemimpin yang bertakwa adalah menjaga shaum Ramadhannya dari perkataan palsu (qawl az-zûr) karena kedustaan hanya akan membuat puasa mereka sia-sia. Nabi saw. bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Siapa yang tidak meninggalkan perkataan palsu dan perbuatannya maka Allah tidak membutuhkan upayanya yang meninggalkan makanan dan minumannya (HR al-Bukhari).

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here