Refleksi Sebutir Padi: Pemerintah Harus Jujur! - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, April 1, 2020

Refleksi Sebutir Padi: Pemerintah Harus Jujur!


Ahmad Rizal (Direktur Indonesia Justice Monitor)

Di saat negara - negara lain tampak serius menyikapi penyebaran virus Corona. Sayangnya, pemerintah Indonesia dianggap banyak pihak terlambat. Bahkan alih-alih melakukan sosialisasi dan pencegahan virus corona agar rakyatnya lebih siap, beberapa pejabat justru menjadikan kondisi tersebut sebagai bahan 'guyonan'. Ini menyedihkan.

Misalnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, saat ditanya oleh insan media mengenai isu enam orang yang diduga terinfeksi virus corona dan masuk ke Batam. Luhut mengatakan virus corona telah pergi dari Indonesia.

"Corona? Corona masuk Batam? Hah? Mobil Corona. Corona kan sudah pergi dari Indonesia," ujarnya pada (10/2/2020).

Dalam perspektif Islam diperintahkan untuk bersikap jujur dan tidak melakukan kebohongan dan pembodohan kepada rakyat. Pemerintah juga wajib menepati janjinya. Namun demikian apa yang dilakukan penguasa saat ini justru sebaliknya, terus meremehkan rakyat dengan sejumlah logika-logika dangkal. Sebelumnya mereka juga telah berjanji untuk mensejahterakan rakyat dan lebih mengedepankan kepentingan rakyat dibanding kepentingan pribadi atau kelompok. Namun yang terjadi hanyalah omong kosong belaka. Mereka hidup berlimpah harta dan fasilitas sementara rakyat terus menderita. Pemimpin seperti ini diancam oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya:

عَنْ مَعْقَلٍ قَالَ سَمِعْتَ رَسُوْلَ اللهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ، يَقُوْلُ: “مَا مِنْ وَالٍ يَلِىَ رَعِيّةً مِنْ المُسْلِمِيْنَ، فَيَمُوْتُ وَهُوَ غَاشٍّ لَهُمْ، إِلاَّ حَرَّمَ عَلَيْهِ الجَنَّةَ“

Dari Ma'qal, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Tidak seorang pun wali (penguasa) yang mengatur urusan kaum muslimin lalu ia mati sementara ia telah menipu mereka kecuali Allah akan mengharamkan atas mereka surga." (H.R. Muslim)

Dalam pandangan Islam, di samping kewajiban mengangkat pemimpin dari kalangan muslim yang taat syariah Islam, para penguasa muslim wajib melayani rakyat dengan sunguh-sungguh dan penuh keseriusan, penguasa juga dituntut untuk memberikan nasihat kepada rakyatnya. Nasehat tersebut berisi dorongan untuk tunduk dan patuh pada Allah SWT dan Rasul-Nya, menjauhi segala larangan-Nya serta hal-hal yang berisi kemaslahatan bagi mereka.

Sayangnya, penguasa negeri ini justru berpolah sebaliknya. Mereka dengan dukungan pengagum dan pengemban ideologi kapitalisme sekular, justru secara sistemik menggerogoti aqidah dan pemahaman ummat tentang syariah. Ide -ide kufur semisal demokrasi, liberalisme dan pluralisme terus dikampanyekan sementara ide-ide Islam seperti Khilafah Islam, Jihad dan poligami selalu distigma negatif. Akibatnya secara massif pola hidup dan pemikiran rakyat semakin jauh dari tuntunan syariah. Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan:

مَا مَنْ أَمِيْرٍ يَلِىَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ، ثُمَّ لَا يَجْهَدُ لَهُمْ وَيَنْصَحُ، إِلاَّ لمَ ْيَدْخُلِ الجَنَّةَ مَعَهْمْ

"Barangsiapa dari seorang hamba yang Allah jadikan penguasa terhadap rakyat namun ia tidak berusaha sebaik-baiknya mengurusi mereka dan memberikan nasihat kepada mereka, maka ia tidak akan mencium bau surga." (H.R. Muslim dari Ma'qal)

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here