Sistem Ekonomi Islam Mampu Menyelesaikan Semua Kegoncangan Dan Krisis Ekonomi Secara Tuntas - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, April 16, 2020

Sistem Ekonomi Islam Mampu Menyelesaikan Semua Kegoncangan Dan Krisis Ekonomi Secara Tuntas


Lukman Noerochim (Stafsus FORKEI)

Pada akhir Maret lalu, IMF menyatakan kondisi ekonomi dan keuangan global sedang krisis karena faktor pandemi corona (Covid-19) yang mewabah hampir semua negara.

Selanjutnya IMF menyatakan akan memberi bantuan pembiayaan utang dan instrumen keuangan lainnya sekitar US$ 1 triliun untuk mendukung negara-negara anggotanya dengan cepat bagi yang membutuhkan. IMF juga akan mengeksplorasi opsi tambahan untuk membantu anggota yang mengalami kekurangan valuta asing.

Inisiatif IMF seakan baik. Nakun perlu kita ingat, IMF merupakan lembaga keuangan global yang ikut bertanggungjawab atas krisis global dan termasuk krisis yang pernah melanda Indonesia. Bahkan struktur perekonomian Indonesia saat ini merupakan hasil desain dari lembaga tersebut. Sebagaimana diketahui Indonesia telah masuk ke IMF sejak tahun 1957. Di antara resepnya yang paling pahit adalah LoI pasca krisis 1997/8 lalu yang membuat perekonomian Indonesia semakin parah. Kebijak tersebut antara lain: restrukturisasi sektor keuangan, liberalisasi perdagangan luar negeri dan investasi, perluasan program privatisasi; penerapan kebijakan nilai tukar yang fleksibel; penghapusan subsidi pemerintah dan penyesuaian harga  termasuk tarif listrik dan produk minyak bumi.

Desain sebagian kebijakan IMF terus dipakai hingga saat ini di negara ini. Akibatnya negara ini semakin liberal dan tunduk pada kepentingan negara-negara asing. Akibatnya rakyat di negara ini terus menurus mengalami penderitaan yang ditandai dengan tingginya angka kemiskinan dan pengangguran.

Semestinya krisis global yang menjadi siklus peradaban kapitalisme menyadarkan pemerintah Indonesia, bahwa sistem kapitalisme yang diadopsi oleh negara ini termasuk negara-negara yang dianggap perkasa sekalipun seperti AS, Uni Eropa terbukti sangat rapuh dan menyengsarakan. Rapuh karena sistem ini mengandung mekanisme yang merusak dirinya sendiri. Kerusakan tersebut akhirnya harus ditanggung oleh rakyatnya.

Krisis Eropa misalnya merupakan dampak dari lilitan utang ribawi yang menjerat sejumlah negara di kawasan tersebut dimana utang dijadikan sebagai penopang untuk membiayai pengeluaran mereka termasuk menalangi lembaga keuangan yang terlibat transaksi spekulatif. Untuk mengurangi beban tersebut rakyat pun dijadikan korban. Pemotongan anggaran belanja negara seperti pemotongan gaji, PHK, pengurangan dana subsidi dan penaikan tarif pajak terus dilakukan. Akibatnya jumlah pengangguran dan pekerja dengan upah minim di kawasan Eropa tersebut meningkat drastis. Jaring Pengaman Sosial tidak lagi banyak membantu.

Oleh karena itu, pemberian pinjaman kepada IMF haram dilakukan. Sebab selain dalam bentuk riba, pemberian bantuan kepada IMF sama halnya memperkuat eksistensi lembaga tersebut untuk menjajah dan mempertahankan sistem kapitalisme. Yang harus dilakukan pemerintah adalah keluar dari keanggotaan IMF termasuk berbagai perjanjian dan forum yang berbasis sistem kapitalisme lainnya seperti G-20 dan WTO. Karena sejatinya perjanjian-perjanjian tersebut pada faktanya hanya menjadikan Indonesia tersubordinasi oleh negara-negara besar yang pada akhirnya merugian rakyat Indonesia. Bukankah Allah swt berfirman:

"dan sekali–kali Allah tidak akan pernah menjadikan jalan bagi orang–orang kafir untuk menguasai kaum Mukmin." [TQS An Nisaa' (4):141]

Ketika kita mencari solusi, maka ekonomi Islamlah satu-satunya solusi yang ampuh dan steril dari semua krisis ekonomi. Karena sistem ekonomi Islam benar-benar telah mencegah semua faktor yang menyebabkan krisis ekonomi:

Islam telah menetapkan, bahwa emas dan perak merupakan mata uang, bukan yang lain. Mengeluarkan kertas substitusi harus dicover dengan emas dan perak, dengan nilai yang sama dan dapat ditukar, saat ada permintaan. Dengan begitu, uang kertas negara manapun tidak akan bisa didominasi oleh uang negara lain. Sebaliknya, uang tersebut mempunyai nilai intrinsik yang tetap, dan tidak berubah.

Sistem ekonomi Islam juga melarang riba, baik nasiah maupun fadhal, juga menetapkan pinjaman untuk membantu orang-orang yang membutuhkan tanpa tambahan (bunga) dari uang pokoknya. Di Baitul Mal kaum Muslim juga terdapat bagian khusus untuk pinjaman bagi mereka yang membutuhkan, termasuk para petani, sebagai bentuk bantuan untuk mereka, tanpa ada unsur riba sedikitpun di dalamnya.

Sistem ekonomi Islam melarang penjualan komoditi sebelum dikuasai oleh penjualnya, sehingga haram hukumnya menjual barang yang tidak menjadi milik seseorang. Haram memindahtangankan kertas berharga, obligasi dan saham yang dihasilkan dari akad-akad yang batil. Islam juga mengharamkan semua sarana penipuan dan manipulasi yang dibolehkan oleh Kapitalisme, dengan klaim kebebasan kepemilikan.

Sistem ekonomi Islam juga melarang individu, institusi dan perusahaan memiliki apa yang menjadi kepemilikan umum, seperti minyak, tambang, energi dan listrik yang digunakan sebagai bahan bakar. Islam menjadikan negara sebagai penguasanya sesuai dengan ketentuan hukum syara'.

Begitulah, sistem ekonomi Islam benar-benar telah menyelesaikan semua kegoncangan dan krisis ekonomi yang mengakibatkan derita manusia. Ia merupakan sistem yang difardhukan oleh Tuhan semesta alam, yang Maha Tahu apa yang baik untuk seluruh makhluk-Nya. Allah berfirman:

﴿أَلاَ يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ﴾

"Apakah Allah Yang Maha menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?" (Q.s. al-Mulk [67]: 14)

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here