Solusi Bingung Kapitalisme dalam Menghadapi Pandemi Covid-19 - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, April 9, 2020

Solusi Bingung Kapitalisme dalam Menghadapi Pandemi Covid-19


Oleh: Mochamad Efendi

Pertimbangan utama sistem kapitalisme adalah ekonomi melebihi nyawa rakyatnya. Oleh karena itu saat pandemi covid-19 mengguncang dunia dimulai dari Wuhan China,  satu negeri yang sehat dan menyatakan nihil dari pandemi ini harusnya waspada dan melockdown negerinya dengan menutup akses keluar masuk warga negara asing khususnya dari pusat penyebaran  pandemi covid-19 untuk menyelamatkan rakyatnya dari serangan makhluk kecil dan misterious,  virus corona yang menyebar ke seluruh penjuru dunia. Namun karena pertimbangan ekonomi negeri ini malah membuka lebar-lebar dan bahkan menggelontorkan dana bagi influencer untuk membujuk wisata asing agar masuk ke negeri yang memiliki pesona dan keindahan bak penggalan tanah surga.

Alih-alih dapat keungtungan ekonomi dari pariwisata,  malah kerugian besar bagi rakyatnya karena virus corona bisa masuk ke negeri ini saat pintu masuk dibuka lebar-lebar bagi warga asing dan dengan cepat menyebar kepenjuru negeri yang dimulai pusat spektrum penyebaran, ibu kota kemudian menyebar ke seluruh provinsi dan kota besar di negeri ini.  Lagi-lagi kurang tanggap dan cepatnya pengambil kebijakan dalam menghentikan penyebaran covid-19 karena ekonomi dijadikan pertimbangan utama,  bukan nyawa rakyat tapi lebih pada kepentingan pengusaha yang tidak mau rugi dan penguasa rezim yang tidak mau direpotkan untuk memenuhi kebutuhan dasar dan pokok rakyatnya yang terdanpak atas pengambilan kebijakan lockdown.

Antara pemerintah pusat dan daerah terlihat juga tidak sejalan.  Saat pemerintah daerah mulai mengganggap penting untuk melakukan karantina wilayah untuk melindungi warganya,  ternyata dianggap tidak taat dengan keputusan pemerintah pusat yang bertahan dengan keputusannya  untuk tidak lockdown. Rakyatpun bingung atas keputusan pemerintah pusat dan daerah yang tidak sejalan.

Pandemi global covid-19 telah membuat dunia siap siaga melawan corona.  Bahkan otoritas pemerintahan Saudi Arabia menutup akses masuk warga asing meskipun untuk alasan ibadah Umroh.  Jika karena alasan ekonomi pasti rugi besar bagi pemerintah Saudi untuk menutup pintu masuk bagi para peziarah ibadah umroh yang akan memberikan income bagi keuangan negara .  Namun keselamtan rakyat harus lebih diutamakan dari pada berfikir untung rugi layaknya perusahaan.

Kita juga masih ingat lelucon yang dihasilkan oleh pejabat di negeri ini yang menunjukkan  kurang peka dan tanggapnya pemerintah dalam menghadapi serangan virus corona.  Bahkan masih sempat bertik tok hanya untuk menghibur diri atas kebinguan dalam menghadapi pandemi covid-19. 


Bahkan saat negeri ini sudah mulai terkena dampak dari pandemi covid-19, dengan korban berjatuhan bahkan dari tenaga medis yang berada di garda terdepan,  penguasa negeri ini masih berfikir ekonomi dan ragu untuk mengambil kebijakan lockdown untuk melindungi rakyat dari pandemi covid-19.  Masih saja ada orang-orang yang berasal dari negara sumber pandemi bisa masuk negeri ini dengan leluasa.  Bahkan videonya sempat viral,  kedatangan 49 tenaga kerja asing dari China.  Lagi-lagi pemimpin negeri ini tidak berdaya menolak apapun yang berhubungan dengan China meskipun rakyat terancam dan tersakiti.
 
Karena kepongahan sang penguasa yang tidak mau mendengar aspirasi rakyat,  lagi-lagi kebijakan lockdown tidak diambil karena pertimbangan ekonomi.  Benarkah rakyat jelata menjadi pertimbangan utama atau para pengusaha di tengah pandemi covid-19 yang takut merugi.  Atau memang pemerintah tidak lagi cukup dana untuk menopang kebutuhan dasar rakyat sehingga kebijakan Social Distancing,  Working from Home,  Darurat Sipil atau Pembatasan Social Bersekala Besar yang menggantikan kebijakan lockdown agar penguasa rezim terbebas dari tanggung jawab memenuhi kebutuhan rakyatnya yang terdampak keputusan lockdown, mereka yang sakit atau yang tidak bisa bekerja.

Hanya solusi Islam yang akan mampu menghentikan pandemi secara efektif.  Karantina wilayah atau lockdown adalah solusi Islam untuk menghentikan pandemi covid-19.  Nabi Muhammad juga pernah menginstruksikan kepada para sahabat pada masa itu untuk mengisolasi diri, menjadikan kebijakan lockdown sebagai langkah taktis, praktis, dan strategis menangkal penyebaran lepra dan kusta yang juga tak kalah ganas.  Rasulullah bersabda di dalam riwayat hadist lain juga menyebutkan;

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari).
Dalam satu kisah, Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat sampai di wilah bernama Sargh. Saat itu Umar mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar jika Nabi Muhammad SAW pernah berkata, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada jangan tinggalkan tempat itu”
Namun perlu diketahui solusi Islam bisa efektif jika itu diterapkan dalam sistem Islam,  bukan dalam sistem demikrasi kapitalis.  Kenapa demikian? Pertama,  dalam sistem Islam, rakyat sungguh diriayah atau diurusi.  Kebutuhan mereka yang terdampak oleh pandemi covid-19 akan dipenuhi dan ditanggung oleh negara.  Mereka yang terinfeksi dan sakit akan dikarantina dan dirawat dengan baik  secara gratis.  Mereka yang sehat tapi  terdampak oleh keputusan dari karantina wilayah akan dipenuhi kebutuhannya oleh negara.

Kedua,  rakyat dalam sistem Islam sangat taat pada pemimpinnya karena apapun keputusan yang diambil adalah untuk kebaikan rakyat.  Tidak seperti pada sistem saat ini setiap keputusan pemerintah diragukan rakyat apalagi kebijakan itu tidak berlandaskan pada dalil keyakinan umat tapi didasarkan pada kemaslahatan atau nilai manfaat.  Dan sering yang diuntungkan oleh kebijakan pemerintah adalah para pengusaha,  bukan rakyat jelata secara keseluruhan.

Ketiga,  setiap keputusan dari pemerintah dalam sistem Islam adalah produk hukum yang tidak hanya berdampak di  dunia tapi juga di akhirat. Taat pada keputusan penguasa akan membawa kebaikan di dunia tapi juga berpahala yang bisa mengantarkan ke surgaNya.  Sementara rakyat akan takut jika tidak mentaati pemimpinnya,  tapi tidak panik karena mereka yakin meninggal karena wabah adalah mati syahid.  Sungguh,  indah hidup dalam sistem Islam meskipun dalam pandemi karena rakyat diminta untuk taqorub ilallah,  mendekatkan diri pada Allah.  Kebahagian hakiki akan terwujud saat umat dekat dengan Allah,  sang pemilik hidup,  manusia dan alam semesta. Penduduk yang mayoritas penduduknya Muslim harus menjadikan Islam sebagai solusi secara kaffah,  bukan solusi bingung kapitalis yang menyengsarakan rakyat.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here