Al Qur'an Sebagai Mihajul Hayah - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, May 8, 2020

Al Qur'an Sebagai Mihajul Hayah


M. Arifin (Tabayyun Center)

Akhir perjalanan hidup manusia adalah akhirat: kembali kepada Allah SWT. Oleh karena itu, orientasi hidup seorang Muslim adalah akhirat. Al-Quran sering menekankan pentingnya kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia. Allah SWT berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Carilah pada apa yang telah Allah anugerahkan kepada kamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi (QS al-Qashshash [28]: 77).

Ayat tersebut memberikan pandangan yang jelas akan cita-cita dan target hidup seorang Muslim, yakni mendapatkan posisi terbaik di akhirat tanpa melupakan dan meninggalkan kenikmatan dunia. Hanya saja, cara menikmati dunia tidak seperti orang-orang yang berpikir bahwa kehidupan ini hanya di dunia saja sehingga mereka sangat rakus terhadap dunia. Hal itu telah membentuk jiwa serigala pada diri mereka. Perang Dunia I dan II yang disulut oleh negara-negara Eropa pada paruh pertama abad ke-20 adalah bukti sejarah tentang kerakusan negara-negara imperialis Eropa. Itulah cerminan sikap hidup dan kecenderungan mereka, yakni membuat kerusakan di bumi.

Kaum Muslim, yang cita-cita mereka adalah kebahagiaan negeri akhirat, akan mengelola bumi dan menikmati rezeki-Nya dengan jiwa yang selalu terkendali; senantiasa berbuat kebajikan selama perjalanan hidup mereka. Orang-orang seperti inilah yang pantas memegang kekuasaan dan mengendalikan pemerintahan di bumi, tentu dengan bimbingan al-Quran. Al-Quran merupakan sumber hukum yang paling luhur dan layak untuk mengatur kehidupan manusia di bumi.

Sebagai petunjuk dan pedoman hidup manusia, al-Quran telah menjelaskan segala yang diperlukan untuk memecahkan prolematika hidup manusia dari masa ke masa. Dari ayat-ayatnya, para ulama mujtahid menggali hukum untuk menyelesaikan problem-problem baru.

Al-Quran menjelaskan dan memecahkan berbagai persoalan praktis kehidupan manusia di bumi. Berkaitan dengan kehidupan manusia sebagai hamba Allah SWT, al-Quran menjelaskan hukum-hukum ibadah seperti doa, zikir, shalat, puasa, zakat dan haji. Bahkan puncak penghambaan kepada Allah SWT yang membutuhkan pengorbanan tertinggi pun telah dijelaskan oleh al-Quran ketika memaparkan hukum-hukum berkaitan dengan jihad fi sabilillah (Lihat: QS at-Taubah [9]: 111).

Berkaitan dengan pembentukan sifat-sifat pribadi luhur, al-Quran menjelaskan hukum-hukum tentang akhlaqul karimah, seperti jujur dan adil (Lihat: QS al-Maidah [5]: 8).

Untuk menjaga kelestarian jenis manusia, al-Quran menjelaskan berbagai hukum tentang perkawinan seperti penyusuan, pengasuhan anak, nafkah, waris, kehidupan perkawinan, perselisihan dalam perkawinan hingga perceraian.

Dalam mengatur kehidupan masyarakat, al-Quran menjelaskan hukum-hukum berkaitan dengan sistem pemerintahan. Menurut al-Quran, kaum Muslim wajib taat kepada Allah SWT, Rasul saw. dan ulil amri mereka. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-(Nya) serta ulil amri di antara kalian (QS an-Nisa' [4]: 59).

Ulil amri (pemimpin) yang wajib ditaati tersebut berkewajiban mengemban amanah melaksanakan pemerintahan dengan menjalankan hukum-hukum Allah SWT yang tercantum dalam al-Quran dan as-Sunnah. Allah SWT berfirman:

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ

Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut wahyu yang telah Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka (TQS al-Maidah [5]: 49).

Jika terjadi perselisihan antara rakyat dan penguasa kaum Muslim, Allah SWT menyuruh kedua pihak kembali pada al-Quran dan as-Sunnah. Allah SWT berfirman:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang suatu perkara maka kembalikanlah perkara itu  kepada Allah (al-Quran) dan Rasul-Nya (as-Sunnah) (TQS an-Nisa'  [4]: 59).

Berkaitan dengan ekonomi, al-Quran menjelaskan berbagai hukum seputar kepemilikan, pengelolaan dan pendistribusian harta. Secara umum semua harta yang ada di langit dan bumi ini diciptakan untuk manusia (QS al-Baqarah [2]: 29). Namun, ada zat harta tertentu yang haram dimiliki, misalnya khamr dan babi; juga ada cara-cara memiliki harta tertentu yang terlarang seperti mencuri dan merampok. Dalam mengelola harta, Allah SWT menghalalkan jual-beli tetapi mengharamkan riba (QS al-Baqarah [2]: 275) dan perjudian (QS al-Maidah [5]: 90-91). Dalam masalah distribusi harta, al-Quran mencegah harta terakumulasi di kalangan orang-orang kaya saja (QS al-Hasyr  [59]: 7).

Dengan demikian al-Quran menjadi petunjuk dan pedoman hidup (minhâj al-hayâh) kaum Muslim sehingga mereka dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here