Geopolitik Migas - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, May 21, 2020

Geopolitik Migas


Taufik S. Permana (Geopolitical Institute)

Era minyak menghasilkan teknologi sendiri, keseimbangan kekuasaan, ekonominya sendiri dan pola-pola hidupnya sendiri. Masa depan keamanan energi akan memainkan peran sentral dalam keseimbangan global kekuasaan. Beberapa tren yang muncul akan menciptakan beberapa adegan geopolitik global sebagai berikut:

Ancaman Timur-Tengah secara bertahap bergeser dari wilayah unipolar (satu kutub) yang pesaingnya menikmati hegemoni AS bagi wilayah multipolar. AS akan lebih menghadapi persaingan dari Cina dan India atas akses minyak Timur Tengah. Naiknya permintaan global atas minyak dipimpin oleh Cina yang ekonominya terus booming, dan yang lebih sedikit, oleh ekspansi ekonomi India. Kedua negara itu kini semakin bersaing dengan AS, Uni Eropa dan Jepang untuk mendapat bagian terbesar produksi minyak dunia. Permintaan minyak yang lebih besar mempengaruhi kemampuan Amerika untuk menarik dirinya keluar dari penurunan produksi dan menciptakan inflasi di seluruh dunia Barat.

Jika sewaktu-waktu Cina pada masa mendatang harus mengembangkan kemauan politik dan ambisinya, hal itu dilakukan dalam posisi ekonominya yang relatif kuat untuk melemahkan Amerika secara substansial.

Rusia adalah produsen utama gas alam, salah satu produsen minyak terkemuka, dan sebuah negara pemenang global. Hubungan antara Uni Eropa dan Rusia sekarang didominasi oleh Rusia dan pada masa depan akan membuat Eropa bergantung pada minyak dan gas dari Rusia. Guncangan minyak tahun 1970-an memiliki efek yang berbeda pada berbagai negara Eropa. Inggris mempunyai beberapa sumber minyak di Laut Utara dan prospek untuk mendapatkan lebih, seperti yang dialami Norwegia. Jerman dan Prancis memiliki sedikit atau malahan tidak punya minyak sendiri. Guncangan perbedaan pada periode mendatang dalam hal kelangkaan minyak akan membuat wilayah Eropa lebih sulit bertahan.

Vladimir Putin telah menggunakan minyak dan gas sebagai senjata diplomatik terhadap negara-negara Eropa, yang telah berbaris meminta minyak dan gas Rusia pada bulan Juni 2007 setelah mereka melakukan tuntutan berlebihan terhadap Rusia.

Berbeda dengan Cina dan India, Rusia memiliki sejarah kekuatan politik dan kedewasaan, dan bukti selama dua tahun terakhir adalah bahwa Rusia telah mulai kembali menemukan dirinya sebagai kekuatan regional setelah mengambil kembali Kazakhstan dan Uzbekistan dari cengkeraman Amerika dan berhasil menghentikan pengaruh tiga revolusi di wilayah itu. Amerika semakin khawatir akan pertumbuhan ekonomi dan pengaruh politik Rusia.

Salah satu prestasi AS tahun 1970-an adalah dengan mematok harga (pegging) minyak dengan dolar. Ini berarti bahwa transaksi minyak di pasar internasional dilakukan hanya dengan dolar. Hal ini telah memungkinkan AS untuk mempertahankan dolar sebagai mata uang utama dunia dan mata uang pilihan untuk cadangan devisa.

Saat ini Uni Eropa yang dipimpin oleh Prancis dan Jerman semakin menyerukan negara-negara lain untuk mematok harga minyak dengan mata uang Euro sehingga bisa memberikan stabilisasi harga minyak dan memberikan pendapatan yang stabil bagi negara-negara penghasil minyak.

Namun, hal ini akan berdampak parah terhadap dolar sebagai mata uang jika itu terjadi dan akan melanggengkan krisis ekonomi Amerika karena akan lebih mendevaluasi mata uang dolar.

Pemerintahan dan perusahaan-perusahaan di seluruh dunia terus melihat bahan bakar fosil (minyak, batubara dan gas) sebagai prinsip sumber energi dunia untuk masa mendatang.

Menurut sebagian besar perkiraan, bahan bakar ini dapat memuaskan lebih dari 85% plus kebutuhan energi global pada 2030. Dengan konsumen yang telah ada dan konsumen yang baru bergantung pada bahan bakar tradisional ini, sementara energi alternatif banyak dilihat kurang praktis, maka perjuangan atas sumber-sumber bahan bakar tradisional tersebut akan lebih intensif.

Meskipun saat ini terjadi kelangkaan pasokan minyak di seluruh dunia, hal ini tidak akan mengurangi arti pentingnya Timur Tengah. Bahkan wilayah ini akan menjadi kawasan paling penting di dunia. Hal ini karena 61% cadangan minyak dunia berada di Timur Tengah. Jumlah cadangan minyak yang "terbukti" adalah jumlah yang ditunjukkan oleh informasi geologi dengan jumlah yang pasti dari cadangan-cadangan yang sudah diketahui.

Dari triliunan barel minyak pada saat ini diperkirakan hanya 39% berada di luar Timur Tengah. Saat ini, 61% cadangan minyak dunia berada di tangan rezim Timur Tengah: Arab Saudi (22%), Irak (11%), Iran (8%), UEA (9%), Kuwait (9%) dan Libya (2%).

Saat ini dari 11 juta barel perhari (bpd), Amerika Serikat mengimpor 3 juta barel perhari dari Timur Tengah. Namun, pada tahun-tahun mendatang ketergantungan pada Timur Tengah diproyeksikan meningkat dengan pesat. Hal ini karena cadangan di luar Tengah Timur ini terkuras habis dengan tingkat yang jauh lebih cepat daripada di daerah lain. Rasio keseluruhan cadangan- produksi teratas—merupakan indikator berapa lama cadangan akan bertahan dengan tingkat produksi saat ini—di luar Timur Tengah adalah sekitar 15 tahun dibandingkan dengan sekitar 80 tahun di Timur Tengah. Ini adalah alasan mengapa George Bush mengatakan pada April 2007, ketergantungan Amerika pada minyak luar negeri adalah "pajak asing atas rakyat Amerika."

Timur Tengah adalah salah satu wilayah yang paling bergejolak di dunia dan arti pentingnya akan tumbuh lebih kuat. Saat ini Amerika sangat mencemaskan perkembangan politik di wilayah ini. Kembalinya Khilafah seperti yang diperkirakan oleh beberapa lembaga dapat berpotensi melumpuhkan ekonomi Amerika pada waktu pengaruh politik Amerika berada pada titik terlemah sejak akhir Perang Dingin.

Kebangkitan Cina dan India bersama dengan Brasil, Turki, Korea Selatan, Malaysia dan Indonesia dan banyak negara Asia Timur berarti bahwa industri energi perlu memenuhi kebutuhan para pesaing baru ini dan persyaratan yang ada dari negara-negara industri yang lebih matang. Cina dan India mengubah peta geopolitik global.

Cina dan India ('Chindia') sedang mencari sumber energi untuk mereka sendiri ketika mereka kekurangan mineral. Tingkat pertumbuhan mereka saat ini hanya akan meningkat jika mereka dapat mengamankan sumber energi yang diperlukan. Permintaan energi India telah menciptakan suatu keadaan krisis energi terus-menerus. India adalah negara miskin dalam hal sumberdaya minyak dan saat ini sangat bergantung pada batu bara dan impor minyak luar negeri untuk kebutuhan energinya. Karena itu India telah membuat langkah signifikan dalam hal sumber daya energi terbarukan, tetapi untuk sebagian besar bergantung pada pipa gas Iran-Pakistan-India (IPI) yang telah lama tertunda. Di sisi lain, Cina, walaupun secara keluruhan kaya potensi energi, masih memerlukan pembangunan untuk mendapatkan cadangan energi itu.

Kedua negara dalam beberapa dekade ke depan akan menjadi semakin bergantung pada energi impor yang langsung membawa mereka untuk konflik dengan Amerika yang tagihan impornya juga semakin meningkat.

Bagian besar dari produksi minyak dunia saat ini hanya berasal dari 116 ladang minyak raksasa; 50% dari kebutuhan harian dunia berasal hanya dari 116 ladang minyak yang masing-masingnya menghasilkan lebih dari 100.000 barel perhari. Semuanya, kecuali empat, ditemukan lebih dari 25 tahun yang lalu dan banyak yang menunjukkan tanda-tanda berkurangnya kapasitas. Di antaranya adalah ladang-ladang minyak terbesar dunia—Ghawar di Arab Saudi, Cantarell di Meksiko dan Burgan di Kuwait. Ketiga negara raksasa minyak itu menghasilkan 10% kebutuhan minyak harian dunia. Untuk setiap barel minyak yang hilang perlu ditemukan tempat baru untuk mempertahankan tingkat produksi minyak saat ini.

Satu-satunya sumber lain yang mungkin baru adalah konversi bahan bakar non-cair penopang minyak seperti Canadian tar sands dan minyak dari gunung berbatuan (oil shale) untuk menjadi minyak sintetis. Menurut perkiraan, dunia memiliki cukup cadangan sumber-sumber non-konvensional.

Dengan teknologi yang ada, banyak energi yang diinvestasikan hanya untuk mengambil bahan-bahan tersebut dan mengubahnya menjadi cairan yang bisa digunakan. Namun, kebanyakan bahan bakar non-konvensional hanya bisa memberikan kontribusi beberapa juta barel perhari untuk memberi pasokan minyak global. Cara itu tidak bisa mengkompensasi penurunan besar atas ladang minyak konvensional yang utama.

Meskipun banyak negara memproduksi minyak, sangat sedikit yang bisa menghasilkan banyak minyak, dan lebih sedikit lagi yang mampu meningkatkan produksi minyaknya. Jika negara-negara yang akan atau telah mencapai puncak produksi dihilangkan dari daftar produsen utama, maka hanya 15 negara yang tersisa dengan potensi penting untuk meningkatkan output-nya, yakni: Aljazair, Angola, Azerbaijan, Brazil, Iran, Irak, Kazakhstan, Kuwait, Libya, Nigeria, Qatar, Rusia, Arab Saudi, UEA dan Venezuela. Beberapa negara lain dapat bergabung dengan kelompok istimewa ini namun ditetapkan tren atas kelompok istimewa ini untuk membuat mereka sebagai poros energi global dan pusat persaingan energi berikutnya.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here