Indonesia Bukan Konoha - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, May 8, 2020

Indonesia Bukan Konoha


Mahfud Abdullah (Direktur Indonesia Change)

Berbeda dengan Konohagakure dan negara - negara lain yang membangun aliansi shinobi untuk memenangkan perang dunia shinobi mengalahkan pasukan 'musuh bersama' yang dipimpin oleh uchiha obito. Perang berakhir dimenangkan Aliansi shinobi. dan negeri konoha tempat dimana naruto lahir menjadi damai. Ini berbeda dengan jalan cerita nyata negeri kita hari ini.

Indonesia dalam dunia nyata. Kaya raya dengan SDA dan SDM. Sangat berbeda dengan cerita negeri kartun negeri naruto di konoha yang digambarkan tidak memiliki kelimpahan SDA. Namun kesamaannya, baik di konoha maupun di Indonesia sama-sama punya sosok pahlawan dan sosok pengkhianat.

Dan untuk ke sekian kalinya, telah terungkap fakta bahwa negara telah dihela oleh persekutuan jahat antara politikus dan pengusaha. Indonesia menuju negara korporatokrasi. Keputusan-keputusan negara dianggap tidak sungguh-sungguh dibuat untuk kepentingan rakyat. Tetapi untuk kepentingan korporat baik domestik maupun asing. Sudah saatnya masyarakat sadar, bahwa ada persoalan besar dalam kehidupan bernegara hari ini. Korporasi telah membuat negara mengalami kelumpuhan dan kematian. Peradaban hari ini telah membuat semua manusia kehilangan fungsi negara yang sesungguhnya.

Pemerintah negeri ini semakin menegaskan jati dirinya sebagai rezim neo-liberal. Kebijakan utamanya di bidang politik dan ekonomi berorientasi mengurangi peran negara demi mewujudkan pasar bebas dan perdagangan bebas. Kebijakan ini nyata-nyata mengkhianati rakyat karena berpihak pada kepentingan kaum kapitalis dan merugikan mayoritas rakyat. Watak neolib pada pemerintahan negeri ini  juga nampak dari keyakinannya bahwa pemberian  subsidi untuk pelayanan sosial seperti anggaran pendidikan, kesehatan, dan jaminan sosial lainnya adalah sumber kebangkrutan negara dan karenanya harus dipangkas, bahkan dihapuskan. Demikian pula aset strategis negara yang menguasai hajat hidup publik dikuasakan pada swasta melalui skema privatisasi. Pemerintah telah kehilangan nurani atas kesengsaraan rakyat dengan menaikkan harga BBM, memaksakan asuransi kesehatan berlabel BPJS dan membiarkan rakyat berjuang meraih kesejahteraannya sebagai tanggung jawab individual. Pemerintah bahkan telah kehilangan fungsi negara sebagai pengayom, pelindung dan aktor utama dalam pembangunan mewujudkan kesejahteraan.

Meski memiliki SDA dan SDM besar dan potensi geopolitik yang strategis bangsa ini sedang menuju jurang kehancuran bila tetap mempertahankan rezim neolib dan sistem demokrasi.

Negara demokrasi dan rezim neolib yang berorientasi pasar bebas telah menghasilkan penderitaan masyarakat, juga bertentangan dengan Islam. Karenanya harus segera menghadirkan pemerintahan  amanah yang berfungsi sebagai raa'in (penanggung jawab penuh) atas pemenuhan hajat hidup rakyat dan sebagai  junnah (pelindung) rakyat dari beragam ancaman.

Sementara menyoal urusan luar negeri, apa yang dipahami dari panggung politik sekarang ini, jelas sekali bahwa Amerika bersama dengan negara-negara imperialis Barat dan Timur, tidak pernah peduli kecuali untuk kepentingan mereka saja. Sehingga setiap klaim untuk selain itu hanyalah kebohongan dan penipuan semata, serta upaya untuk memuluskan proyek-proyek mereka atas kaum Muslim; serta kebebasan yang mereka janjikan hanya upaya agar umat tidak jatuh dalam pelukan rival mereka, sehingga mengikutinya bukanlah solusi politik, melainkan bunuh diri dan ketergantungan.

Sementara dengan saudara kita di Myanmar, telah terjadi genosida dan pembersihan etnis atas kaum Muslim Myanmar, termasuk operasi sistematis pembantaian dan pengusiran, saat menghadapi pengkhianatan dunia internasional dengan sikap diamnya dan tidak adanya keterlibatan negara-negara muslim seperti Indonesia, Malaysia, Arab dan media internasional tidak bertindak tegas menghukum tindakan rezim Myanmar setelah melihat pemandangan atas pembantaian itu. Belum lagi menyoal penindasan muslim Uighur yang dilakukan secara sistematis oleh rezim China.

Meskipun kita telah mengetahui orang-orang yang bertanggung jawab atas darah Muslim itu, tidak berarti bahwa mereka sendirilah yang harus disalahkan, melainkan tanggung jawab jatuh kepada setiap leher kaum muslim yang mampu untuk membantu mereka. Jadi, apakah yang membuat tentara Muslim di negara-negara tetangga, Bangladesh, Pakistan, Indonesia dan Malaysia masih menunggu? Apakah mereka tidak melihat diskriminasi,  pembunuhan dan pengusiran yang dilakukan atas saudara-saudara mereka? Apakah semangat Islam dan iman tidak muncul dalam tubuh dan jiwa mereka? Apakah mereka tidak mendengar sabda Nabi SAW tercinta :

المسلمون تتكافأ دماؤهم، ويسعى بذمتهم أدناهم، وهم يد على من سواهم

"Darah umat Islam adalah setara, orang yang lebih rendah posisinya berada di bawah perlindungan mereka dan mereka adalah satu dengan pengecualian yang lain."

Dan umat Islam adalah bagaikan satu tubuh dan demi Allah, Dia pasti akan bertanya tentang saudara-saudaramu dan Dia akan terus meminta pertanggung jawaban anda mengenai perlindungan terhadap saudara-saudara Anda.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here