Islam Yang Damai, Indah Dan Penuh Warna - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, May 8, 2020

Islam Yang Damai, Indah Dan Penuh Warna

Boedihardjo

Islam mengharuskan pemeluknya menyerukan Islam, mengemban dakwahnya dan menyebarkan hidayahnya sekuat tenaga. Hal ini mengharuskan jihad dan pembebasan negeri-negeri sehingga memberi kesempatan pada manusia untuk memahami Islam dan menyandar pada hukum-hukumnya.

Islam juga menuntut adanya kebebasan kepada manusia untuk memilih. Jika menghendaki Islam, mereka dapat memeluknya. Jika tidak, mereka dapat tetap dalam agamanya dan cukup tunduk pada hukum-hukum Islam dalam muamalah dan 'uqubat. Semua itu agar tercapai keharmonisan dalam aktivitas manusia dengan peraturan yang memberikan solusi atas persoalan hidup mereka; juga untuk menumbuhkan perasaan pada warga non-Muslim bahwa kedudukan mereka adalah sama dengan kaum Muslim.

Masyarakat bersama-sama menerapkan sistem yang diberlakukan, menikmati ketenteraman dan berlindung di bawah naungan panji Khilafah. Islam mengharuskan agar memandang yang diperintah dengan pandangan kemanusiaan, bukan sektarian, kelompok, atau mazhab. Karena itu penerapan hukum atas seluruh komponen masyarakat harus sama, tidak membedakan Muslim dengan non-Muslim, sebagaimana dinyatakan oleh Allah SWT (yang artinya): Janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahatahu tahu atas apa yang kalian kerjakan (TQS al-Maidah [5]: 8).

Ayat ini sangat "mendahului zaman" hingga dipajang di dinding utama Law School-Harvard University, sebagai yang paling menginspirasi di dunia hukum.

Khilafah Islam memberi perlakukan sama terhadap semua manusia dalam pelayanan pemerintah dan peradilan. Seorang penguasa saat memelihara urusan rakyat, dan qadhi saat memutuskan perkara, tidak boleh memandang orang yang diperintah atau yang diputuskan perkaranya, dengan pandangan apa pun selain pandangan kepada manusia dalam memelihara urusannya dan menyelesaikan perselisihannya.

Islam juga mengharuskan sistem pemerintahan adalah kesatuan, juga mengharuskan penjaminan kebutuhan setiap wilayah dengan pendanaan dari Baitul Mal negara, tanpa memperhatikan apakah pemasukan wilayah tersebut sedikit atau banyak, cukup atau tidak. Islam pun mengharuskan kesatuan pengelolaan harta dengan berbagai pemasukannya untuk Baitul Mal yang berasal dari seluruh wilayah. Dengan demikian semua negeri yang dibebaskan menjadi wilayah dalam negara yang satu, yang menjadikannya berada dalam pemerintahan yang berjalan secara pasti dalam metode peleburan.

Interaksi kaum Muslim sebagai pembebas dengan penduduk yang dibebaskan adalah faktor yang terbesar pengaruhnya. Ini karena kaum Muslim, setelah membebaskan negeri-negeri, tinggal di situ dan mengajarkan Islam pada penduduknya. Mereka tinggal bersama penduduk setempat, bertetangga, bekerjasama, bahkan saling membentuk keluarga. Mereka tidak menjelma menjadi dua kelompok yang terpisah, yang menang dan yang kalah; melainkan menjadi satu, sebagai rakyat satu negara yang saling tolong-menolong dalam seluruh urusan kehidupan.

Penduduk asli melihat sesuatu yang berbeda pada diri para penguasa, yang belum pernah mereka kenal. Mereka melihat para penguasa itu menyejajarkan diri dengan mereka dan melayani mereka dalam kepentingannya dan pemenuhan kebutuhannya. Mereka pun akhirnya menampakkan sifat-sifat luhur sehingga dicintai oleh para penguasa dan Islam.

Para penguasa dan seluruh kaum Muslim boleh menikahi wanita Ahlul Kitab dan memakan sembelihan dan makanan mereka. Pembauran ini menjadi pendorong bagi mereka untuk memeluk Islam karena mereka melihat pengaruh Islam dalam diri para penguasa. Dengan demikian bangsa-bangsa ini saling meleburkan diri dan akhirnya menjadi umat yang satu.

Tradisi atau adat-istiadat yang sejalan dengan Islam, misalnya kuliner halal, corak pakaian yang masih syar'i, arsitektur ataupun cerita rakyat yang bermuatan luhur, rupanya terus dibiarkan hidup. Karena itulah pembauran itu tidak membuat budaya seluruh Dunia Islam menjadi monolitik seperti budaya Arab, tetapi tetap penuh warna, dan itu indah.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here