Kebohongan Bertahun - Tahun Itu Terlalu Banyak - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, May 1, 2020

Kebohongan Bertahun - Tahun Itu Terlalu Banyak


H. Indarto Imam

Sistem demokrasi dibangun berdasarkan bahwa hak legislasi ada pada manusia, bukan Allah Tuhan semesta alam. Padahal Allah SWT berfirman:

 "Menetapkan hukum itu hanyalah milik Allah." (TQS. Yusuf [10] : 40).

Dengan demikian sama sekali tidak ada hubungan antara demokrasi dan Islam. Dan kaum Muslim tidak pernah mengenal sistem demokrasi sebelum munculnya kolonialisme, dimana kaum kafir telah memaksakan demokrasi dengan tangan besi dan api di beberapa negeri Islam ketika mereka dipaksa keluar dari negeri kaum Muslim untuk menjamin penerapan hukum-hukum kufur dan kebijakan kolonialisme Barat. Sedang di sebagian besar negara-negara Arab, mereka mengangkat para penguasa diktator, penguasa boneka dan antek, para raja, para tetua, dan para pemimpin tiran, dimana tugas mereka ini adalah mengamankan kepentingan Barat di negeri-negeri tersebut, dan memfasilitasi penjarahan kekayaannya.

Dalam kitab, al-Mustadrak 'ala as-Sahihain, al-Hakim mengeluarkan hadits: "Akan tiba pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan. Saat itu, orang bohong dianggap jujur. Orang jujur dianggap bohong. Pengkhianat dianggap amanah. Orang amanah dianggap pengkhianat. Ketika itu, orang "Ruwaibidhah" berbicara. Ada yang bertanya, "Siapa Ruwaibidhah itu?" Nabi menjawab, "Orang bodoh yang mengurusi urusan orang umum." (HR al-Hakim, al-Mustadrak 'ala as-Shahihain, V/465).

Jadi, yang dimaksud oleh hadits Nabi di atas adalah, "akan datang tahun-tahun penuh kebohongan". Kebohongan pada tahun-tahun itu terlalu banyak. Hadits ini sangat pas diterapkan dalam konteks sekarang, ketika kapitalisme, sekulerisme dan demokrasi berkuasa di muka bumi. Tahun-tahun penuh kebohongan tersebut tampak dengan jelas dalam sistem demokrasi.

Ketika demokrasi mengklaim Vox populi, vox Dei (Suara rakyat, suara tuhan), klaim itu nyata bohong. Demikian pula bahwa demokrasi katanya pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat, ternyata juga bohong. Yang berkuasa adalah para cukong. Ketika demokrasi mengklaim kedaulatan di tangan rakyat, nyatanya rakyat tidak berdaulat. Yang berdaulat ternyata pemilik modal dan asing.

Sedangkan lafadz "Ruwaibidhah", menurut Abu 'Ubaidah, maknanya at-tafih, yaitu al-khasis al-haqir (tidak bernilai dan hina). Sedangkan Imam as-Syathibi menjelaskan, "Mereka mengatakan, bahwa dia adalah orang bodoh yang lemah, yang membicarakan urusan umum. Dia bukan ahlinya untuk berbicara tentang urusan khalayak ramai, tetapi tetap saja dia menyatakannya." (As-Syathibi, al-I'tisham, II/681)

Penguasa ini hanyalah budak hawa nafsu dan dunia. Mereka mengibarkan bendera jahiliyyah, menyeru kepada ideologi dan isme sesat dan merusak. Mereka berambisi menjadi penguasa, padahal mereka adalah orang bodoh, tidak bermutu, fasik dan hina.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here